
Bab 24
Tubuh Naina bergetar hebat kala sang Papa kini menatapnya dengan penuh intimidasi, Naina meremas jemarinya kuat, sedari tadi sang Papa terus menerus menyalahkan sikap Naina terhadap Abi, hingga membuat Abi marah dan membatalkan seluruh kerjasama dengan perusahaannya, kini Papa Naina merasakan kebingungan luar biasa, perusahaannya diujung tanduk. Bangkrut, itulah yang tergambar dalam benaknya.
“Apa kamu tidak bisa hanya menuruti saja setiap perkataan orang tuamu Naina? Aku tidak meminta apapun, aku hanya meminta kamu untuk jadi istri yang baik, maka semua akan baik-baik saja!” Papa membentak dengan suara yang teramat tinggi, wajahnya memerah luar biasa, kemarahan Papa sudah di ubun-ubun.
“Aku tidak mencintai Abi Pah, aku membencinya!” teriakan Naina kini mendominasi ruangan VIP rumah sakit tersebut.
“Apa alasan kamu membencinya? Apa kurangnya suamimu itu?” Papa mendelik tidak suka.
“Dia budeg! Aku malu kalau harus mengakui jika dia suamiku! Lagipula aku masih mencintai kekasihku Alex!” setelah sekian lama memendam amarah seorang diri, akhirnya Naina mengungkapkan isi hatinya.
Namun, ungkapan hati Naina justru membuat Papa kian murka “jaga ucapanmu Naina! Jangan sampai Abi mendengar semuanya!”
“Kenyataannya memang seperti itu! Aku dijual Papa demi keberlangsungan perusahaan! Selama ini tidak ada yang peduli dengan perasaanku! Aku tertekan Pah!” Naina memukuli dadanya kesal, tidak peduli dengan selang infus yang kini sudah hampir terlepas.
“Apa?” mata Papa melotot, tidak menyangka jika putrinya beranggapan seperti demikian, Naina merasa dirinya dijual.
“Jaga ucapanmu Naina! Papa tidak pernah menjual kamu! Kamu itu ...”
“Sudah Pah, biarkan saja Naina” Mama hadir diantara keributan yang terjadi, meraih lengan sang suami, lalu memintanya untuk duduk.
“Tidak apa-apa, biarkan saja Naina melakukan apapun yang dia lakukan, jujur Mama sudah lelah” Mama menghela napasnya dalam, menatap putrinya yang beberapa waktu lalu hampir meregang nyawa hanya karena keengganannya untuk hidup bersama suaminya sendiri.
“Lalu bagaimana dengan perusahaan kita Ma?” Papa meraup wajahnya frustasi, sementara diujung sana Naina masih sesenggukan, hatinya sungguh terasa kesal!.
__ADS_1
“Kita jual saja semua aset yang kita miliki Pah, nanti ujungnya kita mungkin harus mengontrak rumah kecil untuk hidup kita berdua, tidak perlu lagi mengurusi anak-anak, mereka sudah dewasa dan berkeluarga, mari kita habiskan masa tua kita hanya berdua, meski dalam keadaan sangat sederhana” Mama mencoba tersenyum pada suaminya, membuat Papa juga Naina terdiam menatap kedua orangtuanya.
Mama hidup sederhana? Yakin bisa? Sedari dulu Mama sudah hidup berkecukupan, bagaimana mungkin Naina tega membiarkan Mama dan Papa hidup sengsara di ujung hidupnya? Sementara sedari kecil mereka selalu memprioritaskan anak-anaknya.
“A aku akan bicara dengan Abi” dengan berat hati akhirnya Naina bicara, Naina sedang berperang dengan segala egonya, dan mungkin Naina akan melepaskan ego terbesarnya, meminta maaf pada Abi.
***
“Makan ini” Abi menyodorkan makanan bergizi pada Naina, disambut dengan kepatuhan Naina, gadis itu terlihat sangat pasrah, menerima makanan dari Abi lalu memakannya dengan perlahan meski terlihat sangat terpaksa.
Abi terdiam melihat perubahan istrinya, sedikit tersenyum Abi kembali menyodorkan segelas air putih pada Naina dengan lembut, lalu Naina kembali menerimanya.
“Minum vitaminnya juga” Abi kembali menyodorkan beberapa butir obat pada Naina, lagi-lagi gadis itu menerimanya dengan tanpa protes, menenggaknya sekaligus tanpa mengeluh seperti biasanya.
“Oke, sebentar aku akan membuatkanmu susu” Abi berdiri dan berniat segera beranjak, namun niatnya tersebut harus urung kala merasakan tangan Naina kini tengah menahannya.
“Ada yang ingin kamu katakan?” Abi sejujurnya sudah bisa menebak semuanya, hanya saja Abi lebih memilih untuk diam, menunggu Naina berbicara dengan sendirinya.
“A aku akan patuh padamu, a aku juga akan rela melahirkan anak ini, ta tapi to tolong Papaku, ja jangan batalkan kerjasamanya” Naina menunduk dalam, tangannya bergetar menahan amarah.
Abi terdiam lama, namun kemudian angkat bicara “baiklah, selama kamu tidak membahayakan anakku, aku bisa mengatur semuanya” Abi tersenyum perih, alih-alih minta maaf, Naina justru mengajukan persyaratan padanya.
Padahal, jika Naina minta maaf saja maka Abi akan melakukan semua yang Naina minta, lagi pula semua yang Abi lakukan hanya sebuah gertakan belaka, Abi tidak akan setega itu untuk membuat mertuanya sendiri bangkrut.
“Se setelah aku melahirkannya, aku mau kita berpisah”
__ADS_1
Abi memejamkan matanya, rupanya menunggu Naina bisa tulus menyayangi anak mereka adalah hanya angan semata, rasanya begitu sulit membuat Naina menyadari jika anak mereka juga membutuhkan kasih sayang dari Ibunya.
“Susui dia selama dua tahun, lalu setelahnya kamu akan bebas” dengan nada datar Abi mengatakannya.
“Dua tahun? Lama sekali!” Naina mendongakkan kepalanya, menatap tajam pada Abi yang terasa semakin tidak masuk akal dengan setiap ucapannya.
“Tidak akan lama jika kamu ikhlas menjalaninya” wajah Abi terlihat acuh tak acuh.
“Tidak! Aku tidak mau!” Naina menggelengkan kepalanya menolak.
“Semua pilihan ada ditanganmu Na” Abi melenggang begitu saja, membuat Naina kembali dalam mode murka.
“Bagaimana ini? Dua tahun? Apa Alex masih mau menungguku selama itu?” kini Naina sedang berada dalam mode bingung.
***
Naina mengedarkan matanya, menelisik pada setiap sudut ruangan yang berada di depannya, rumah mewah lengkap dengan perabotan yang tak kalah megah, Naina bahkan nyaris sulit mengedipkan matanya, huniannya ini terlihat begitu nyaman.
“Ini rumah kita sekarang” Abi datang dari belakangnya dengan beberapa koper juga tas ditangannya, dibantu oleh seorang sopir yang ikut mengantarkan beberapa barang milik Naina juga Abi.
Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit akhirnya Naina sudah diperbolehkan pulang, tangan dan kaki Naina masih belum berfungsi dengan normal, gadis itu masih meringis kesakitan setiap kali menggerakan kaki atau tangannya. Dan kini Abi memboyong istrinya ke rumah yang diberikan oleh Om Bima, rumah berukuran besar dengan design mewah ini berada di sebuah kawasan perumahan elite, dimana hanya orang-orang kelebihan uang saja yang bisa tinggal disana.
Naina tidak menjawab, gadis itu memilih untuk diam, lalu berjalan perlahan untuk berkeliling di rumah barunya tersebut. Sekali lagi mata Naina dimanjakan dengan pemandangan kolam renang yang terlihat menawan, Naina menghayalkan jika nanti dirinya akan berenang disana, jangan tanyakan seberapa mewah ruangan yang lainnya lagi, karena setiap ruangan membuat mata Naina terpana.
“Ini kamar kita” Abi membuka salah satu pintu kamar utama, lagi dan lagi mata Naina membulat sempurna, kamar ini terlalu besar dan mewah, membuat mata Naina berbinar ceria. Tapi, tunggu! Kamar kita? Mata Naina menatap Abi yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
“Ya, kita akan tidur dalam satu kamar mulai sekarang” seolah tahu apa isi hati Naina Abi segera menyahuti.
Naina membulatkan matanya seketika, mulutnya terbuka siap untuk protes.