Bukan Salahku

Bukan Salahku
Pemakaman


__ADS_3

Di atas pusara ibuku aku menangis.


Di atas pusara ibuku aku menjerit menumpahkan rasa sakitku.


Tuhan!


Apa ini?


Apa yang menusuk jantungku.


Apa ini?


Apa yang menimpah kepalaku.


Tolong cabut juga nyawaku Tuhan.


Aku tidak sanggup untuk menjalani hidup tanpa ibu di sampingku.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Evelyn pov on


Aku tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi, saat aku terdiam kaku ketika aku mendengar berita tentang ibuku.


Bahkan aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai sini, yang aku tahu pasti Arlan yang membawaku ke sini.


Di depanku ada Dokter yang menangani operasi ibuku, menampilkan ekspresi wajah yang sungguh membuat perasaanku tidak enak seketika.


"Maaf kami sudah melakukan yang terbaik, tapi nyawa ibu Mirna tidak bisa tertolong lagi. Benturan yang ada di kepala, membuat ibu Mirna kehilangan banyak darah. Sekali lagi maafkan kami."


Seketika duniaku hancur, duniaku seakan berputar.


Apa ini, apa pendengaranku bermasalah.


Aku meracau dengan kebohongan yang sungguh sudah keterlaluan ini.


Hingga aku pun merasakan pelukan hangat dari seseorang, yang membisikan kata penenang, namun tidak cukup ampuh bagiku.


Aku bahkan memukul-mukul dadanya untuk melampiaskan rasa campur adukku saat ini.


Ibu.


Seketika aku melepaskan pelukannya, berlari menuju pintu ruang operasi dan membukanya dengan dorongan kuat.


Brakh!


Di hadapanku saat ini ada ranjang dengan tubuh wanita yang sangat aku kenali.


Ibu.


Bagaimana tuhan bisa melakukan ini terhadapku.


Apa salahku?


"Ibu bangun!"


Aku memanggilnya berulang kali, namun ibuku tidak menyahutinya.


Tidak ini tidak mungkin.


"Ibu, aku mohon!"


Diam ibuku hanya diam.


Aku melihat bagaimana bibir dan wajah pucat ibuku, tidak ada lagi senyum yang terulas dibibir ibuku.


Aku melihat nanar luka dan sisa merah di kepala ibuku.


Tidak ... Ini bohong.


"Ibu!"


Aku menjerit sejadi-jadinya, meraung dengan bibir mengucap kata ibu namun percuma.


Ibuku sama sekali tidak bangun.


Aku menggoncang tubuh dingin milik ibuku, tubuh yang biasa aku peluk dan memberikan kehangatan untukku, kini dingin dan kaku.


"Tidak ibu, tidak mungkin!"


Blam!


Aku tidak perduli dengan bunyi ini dan itu, selain ibuku yang masih juga tidak menjawabku.


Hiks! Hiks! Hiks!


"Ibu aku mohon bangun Bu, ibu-


Brak!


"Lyn!"


Ini suara sahabatku, aku pun segera menoleh ke arah pintu dan melihat dia yang segera berlari ke arahku dan memelukku erat.


Grep!


Aku pun membalas pelukan darinya, karena aku memang membutuhkan dia untuk membantuku membangunkan ibu.


Aku melepas pelukanku dan menatapnya dengan lelehan air mata.


"Riki, ibu!"


"Sstt ... Jangan begini Evelyn, ibu tidak akan tenang."


Seketika aku memandang Riki kecewa, bagaimana dia bisa bilang seperti itu.


"Tidak Riki, bantu aku bangunkan ibu. Riki aku mohon," ujarku menampik kenyataan.


"Lyn."


Riki membawa aku kepelukannya lagi, membuatku menangis lagi dan lagi.

__ADS_1


Aku tidak sanggup.


Aku tidak ingin menerima ini.


Tidak, ibuku masih hidup.


Bahkan hari ini kami memiliki janji untuk makan malam bersama.


Ibuku bukan orang yang suka ingkar janji.


Jadi bagaimana mungkin ibu pergi begitu saja.


Tidak!


Aku masih di pelukan sahabatku, saat aku mendengar Arlan yang memanggil nama Riki pelan.


"Rik,"


"Lyn,"


"Lyn, boleh kami mengurus persiapan pemakaman?"


Aku melepas pelukanya lalu menatapnya tidak percaya.


"Apa maksudnya Riki? Ibuku belum meninggal, ibuku sedang istirahat. Bagaimana bisa kalian menyiapkan pemakaman, jika ibuku saja masih hidup dan sedang tertidur pulas."


Mereka sama-sama terdiam, membuatku marah dengan aku yang segera menghampiri ibu dan lagi-lagi membuka kain putih yang menutupi wajah ibuku.


"Ibu ... Riki dan Arlan jahat dengan ibu, mereka ingin memisahkan kita. Ibu apa yang harus aku perbuat, hiks! Kasih tahu mereka ibu, jika ibu masih hidup dan ada di sini."


"Lyn."


Aku menulikan panggilan dari keduanya, aku tahu, jadi kalian tidak perlu mengingatkan.


"Lyn, kamu tidak boleh begini, biarkan ibu ber-


"Cukup! Kalian jahat, kalian ingin memisahkan aku dan ibu? Kalau begitu kubur aku bersama ibu! Kubur aku Riki! Kubur aku Arlan! Kubur!"


Aku menyela ucapan kedua laki-laki di hadapanku. Meracau tentang aku yang memilih dikubur bersama jasad ibuku, dibandingkan dengan hidup sebatang kara.


"Evelyn kamu harus tenang!"


Lagi-lagi mereka berbicara seperti itu.


Bagaimana bisa aku tenang, jika seseorang yang selalu membuatku tenang tidak ada di dunia lagi.


"Tidak! Ib-


Aku tidak tahu kenapa, yang jelas kepalaku pusing lalu semua menggelap, dan terakhir yang aku dengar adalah seruan panik Riki dan Arlan, dengan aku yang jatuh pingsan.


Brugh!


"Lyn!"


Skip


Tidak tahu berapa lama aku pingsan, yang jelas hal yang pertama aku lihat dari bangunku adalah langit-langit dengan sekitar bernuansa putih.


Aku melihat bukan hanya Riki dan Arlan yang hadir, melainkan Riyanti yang duduk di sampingku, sedangkan kedua laki-laki itu berdiri mengelilingiku.


Ukh!


Aku meringis sambil memegang keningku, yang masih berdenyut sakit.


"Lyn, kamu tidak apa-apa?" tanya sahabatku Riki dengan nada khawatir yang kentara.


Aku tidak menjawab melainkan diam, menatap kosong lurus ke depan.


"Lyn."


Kali ini aku menoleh saat punggung tanganku di sentuh lembut, oleh Riyanti yang memandangku sedih.


Aku hanya diam, ingin mendengar ucapan bela sungkawa seperti apa, yang akan aku terima dari perempuan di depanku.


"Lyn, aku tahu kamu pasti sedih. Tapi izinkan Riki dan Arlan, untuk melakukan prosesi pemakaman. Apa kamu tidak kasian, jika ibumu tidak segera di istirahatkan sesuai kodratnya."


Deg!


Jantungku berdetak kencang, saat Riyanti berbicara lembut seperti itu kepadaku.


Bagaimana bisa aku seperti ini, seharusnya aku juga memikirkan ibu.


Aku tidak boleh seperti ini, ak-


"Lyn, izinkan aku dan Arlan menyiapkan segalanya. Aku juga sedih, tapi ibu pasti lebih sedih jika tahu kamu seperti ini."


Aku tahu aku salah, memiliki niat untuk tidak mengubur jasad ibu dengan selayaknya.


Ya Tuhan ... Ampuni dosa ibuku.


Aku pun memandang Riki dan Arlan bergantian, kemudian mengangguk sebagai jawaban akan permintaan mereka berdua.


"Terima kasih, Lyn. Kami akan melakukan persiapan secepat mungkin, kamu istirahat saja. Janga-


"Aku ingin menghadiri pemakaman ibu, tolong bawa aku serta."


Aku menyela ucapan Riki dengan datar, serta mata menatap kosong.


"Kamu yakin, Lyn?"


"Ya."


Aku menjawab singkat dengan kepala mengangguk meyakinkan.


Untuk terakhir kalinya, biarkan aku melihat wajah cantik ibuku.


"Baiklah."


Tempat Pemakaman Umum kota B


Di depanku saat ini ada beberapa penghuni kost, serta teman sekantor, Raina. Yang menangis dengan ucapan bela sungkawa tulus.

__ADS_1


Tidak ada karyawan sekantorku, selain Raina yang datang berduka untukku.


Aku berdiri dengan Riki dan Arlan yang setia disisi kiri dan kananku.


Memandang dengan kosong saat ibu di istirahatkan di tempat asalnya.


Tidak ada air mata, tidak ada isakan, serta tidak ada lagi raungan.


Aku sudah mati, ikut serta bersama ibuku di dalam liang lahat sana.


Aku juga mendengar dan ikut berdoa, untuk ketenangan ibu di sana.


Ibu ... Aku harus apa setelah ini.


Aku masih diam, berdiri tanpa niat untuk pergi, di saat pelayat satu per satu pergi setelah mengucapkan bela sungkawa padaku.


Puk!


"Lyn, kita pulang."


Saat ini aku sedang duduk bersimpuh, dengan Riki di belakangku, menepuk dan melihatku dengan pandangan sedih.


Jangan pandang aku seperti itu, Riki.


Aku ingin berbicara seperti itu, tapi aku tidak mampu mengeluarkan suaraku, seakan ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokanku.


"Lyn, hari sudah sore. Kamu butuh istirahat, hari ini biar Riyanti yang menemanimu yah. Oke?"


Aku hanya diam tanpa menjawab pernyataan sahabatku.


"Lyn, jawab aku."


"Riki, biarkan aku sendiri. Aku ingin sendiri, bisa kan?"


Aku bisa melihat Riki menggelengkan kepalanya, aku tahu dia pasti sangat khawatir denganku.


Tapi aku sedang ingin sendiri, aku masih ingin di sini.


"Tapi Ly-


"Aku mohon, biarkan aku menikmati kesendirianku sejenak. Aku janji, aku akan baik-baik saja."


Aku menyela ucapnya, yang akhirnya mengalah juga dengan menghela napas lelah.


Dia tahu jika aku keras kepala, karena dia adalah satu-satunya sisa orang yang saat ini aku punya.


"Sampai kapan?"


"Sampai aku siap."


Setelahnya dia benar-benar menyerah, memelukku erat dan membisikkan kata-kata penenang.


Aku menerimanya, karena aku tahu jika itu adalah kata-kata tulus dari seorang kakak dan anak yang kehilangan ibu.


"Aku di sini, jangan lupa itu, aku akan selalu dan selalu bersamamu."


Aku hanya mengangguk dan Riki pun mengalah, dengan meninggalkan aku sendiri di sini.


Aku tahu masih ada seseorang lagi di belakangku, Arlan. Ya, tentu saja.


Aku tahu dia daritadi menatapku dalam diam.


Aku tidak perduli, saat ini yang sedang aku pikirkan bukan dia atau yang lainnya.


Tap!


Dia ikut berjongkok di sampingku, diam dan tidak melakukan apapun.


"Dulu ... Aku pernah mengalami ini, aku yang menguburkan sendiri Mamaku. Aku juga melihat dengan jelas, bagaimana ekspresi terakhir dari Mama."


Aku hanya mendengarnya, tanpa niat membalas atau juga menanggapinya.


"Aku juga diam seperti ini, tapi ... Aku tidak ingin terlalu larut dan berujung dengan kesedihan, yang akan dirasakan oleh Mamaku di surga sana."


Apa maksud dia berkata seperti itu.


"Aku yakin, jika ibumu melihat penampilanmu yang sekarang, beliau akan sedih di atas sana."


Deg!


Jantungku seketika berdetak kencang, saat memikirkan jika ibu pasti akan sedih, melihat aku yang seperti ini.


"Maafkan aku, Ibu. Biarkan aku sejenak seperti ini," batinku masih diam tanpa menyahuti perkataannya.


Biarlah dia bosan dan meninggalkan aku sendirian.


"Lyn, walaupun kamu membenciku, tapi aku tetap mencintaimu. Sampai kapan pun."


Aku sekali lagi tidak menanggapinya, aku masih diam dan tiba-tiba rasa hangat melingkupiku, diikuti dengan masuknya aroma miliknya di indra penciumanku.


"Cepat menjadi Evelyn, Evelyn yang aku sayangi," bisiknya dan dia juga mencium puncak kepalaku.


Cup!


"Aku akan tinggalkan kamu sendiri di sini. Tapi ingat, jangan terlalu lama."


Setelah berbicara seperti itu, dia pun meninggalkan aku.


Benar-benar meninggalkan aku, sendirian yang akhirnya menumpahkan juga air mata yang aku tahan.


Hiks! Hiks! Hiks!


"Ibu ... Bagaimana ini."


Evelyn pov end


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2