
Tari kini benar-benar jengkel pasal nya dari Dimas terus memoerhatikannya sedang
makan siang,ia semakin mempercepat makan
karena ia sungguh sudah sangat canggung,tapi tidak dengan sahabatnya itu yang begitu senang makan tanpa rasa terganggu.
"Ningsih,ayo cepat habiskan makananmu biar
kita cepat pergi". Kata Tari mulai kesal
" Ah Tari bentar dulu kamu nggak peka deh!",
ucap Ningsih cemberut
"Kenapa apa lo nggak nyaman disini,oh..atau
lo merasa nggak pantas lo kan...", Kata Dimas angkat bicara namun belum selesai ia bicara Tari pun sudah tak sanggup lagi menahannya.
Brakkk!,suara gebrakan meja yang berasal dari Tari yang membuat tiga pasang mata itu sontak terkejut.
" Ah maaf sudah mengejutkan,Ningsih aku ke wc dulu,kamu selesai kan saja dulu makannya aku tunggu di di kelas ya,maaf aku duluan soalnya perutku agak sakit,duluan ya!",
kata Tari sambil bergegas pergi dengan sambil memegang perunya.
"Eh Tari mau aku antar kekelas,atau aku antar
ke UKS", kata Ningsih.
__ADS_1
" Tak apa,kalau nanti sakitnya memburuk aku bisa minta bantuan teman dikelas kok",
"Ah kamu ini memang keras kepala, Dimas, Max,aku duluan ya kita bicara lain waktu Kalian berdua semangat ya lomba nanti aku pasti dukung kok, bye!!!", pamit Ningsih sambil menggandeng tangan Tari lalu pergi.
Sesampainya di kelas Tari pun langsung duduk di kursinya diikuti oleh Ningsih yang juga ikut duduk.
" Ningsih kamu kenapa sih ikut juga dan ninggalin mereka",kata Tari
"Aduh,udah deh nggak apa-apa kok kan yang paliiing penting didunia ini adalah sahabatku Tari."Tari pun tersenyum menatap sahabatnya itu betapa baiknya sahabatnya ini walau pun perbedaan gaya hidup dan segalanya namun tidak pernah sekalipun menghina keaadaan Tari malah selalu ingin membantu, namun hanya saja Tari merasa tidak enak hati meminta bantuan sahabatnya itu.
\_
" Heh,rupanya dia patuh juga,langsung nungguin jauh dari gerbang sekolah," kata Dimas sambil menyunggingkan senyum sinis.
Tak lama tiba-tiba sebuah sepeda motor tipe CBR hitam dengan paduan warna biru pekat serta helm dengan warna yang senada pun berhenti tepat didepan Tari,awalnya ada rasa takut dibenak Tari namun ketika pengendara itu membuka kaca helmnya,wajah Tari pun seketika berubah orang ity ternyata orang yang ia kenali,ia adalah Ridho teman satu kelas Tari pria yang seumuran dengannya,dengan wajah yang cukup menawan hidung mancung dengan mata indah yang didampingi alis yang tebal namun rapih,berbadan tegap lumayan tinggi bedada bidang,kulit putih bersih,dengan setelan jaket levis menambah kesempurnaan padanya.
"Hai Tari,sedang apa kamu disini,sedang menunggu seseorang?" tanya Ridho seraya mematikan mesin motornya.
"Ah ternyata kamu Ridho,iya aku sedang menunggu...eh ......pamanku,eh kamu kok baru pulang ini kan sudah melewati jam pulang sekolah?" tanya Tari
"Oh..tadi aku sedang mengumpulkan laporan dana untuk Pensi sekolah kita bulan depan",
jawabnya.
__ADS_1
" Oh...,"
"Tapi Tari,kok jemputanmu lama apa kamu mau aku antar biar kamu beritahu pamanmu kalau kamu pulang bersamaku."Kata Ridho,ada sedikit perbedaan saat ia berbicara
pada Tari,memang sebenarnya ia diam-diam
menyimpan rasa pada Tari banyak alasan yang mengagumi sosok Tari,mulai dari sifatnya yang pendiam dan juga tak pernah berkata kasar pada orang lain dan lainnya.
Tanpa disadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka mata itu adalah milik Dimas,sejak tadi ia memperhatikan mereka berdua ada rasa penaran yang terselip benak nya dan juga ada rasa marah saat ia melihat Tari sedang bicara pada pria laki-laki lain.
" Nggak usah Do,sebentar lagi juga datang kok!"
"Yaudah kalau gitu aku pulang ya!!", ucap Ridho pamit seraya menutup kaca helm dan menghidupkan mesin motor,lalu motor pun melaju dan menjauh dari tempat Tari berdiri.
Tak lama terdengar suara klakson dan ternyata itu adalah paman Dhanu,Dimas pun segera masuk kemudian bergerak pelan dan berhenti di depan Tari lalu Tari pun masuk,seperti biasa ia duduk di sebelah Dimas.
" Paman,kenapa datangnya lama?",Tanya Dimas.
"Oh,maaf tuan soalnya tadi saya habis dari bandara".
" Bandara!,memang siapa yang datang?",katanya lagi
"Oh tuan tidak tau,Tuan Bagus dan Tuan Bima sudah kembali dari Jepang".
"Apa,ayah dan mas Bima sudah kembali paman nggak bohong kan".Dimas meyakinkan.
" Tentu saja tuan".
"Yess,hadiah ku pasti mas belikan," ucap Dimas girang,Tari yang sejak tadi mendengarkan ternyata kini sedang tegang,sangat tegang sampai tak terasa tubuhnya bergetar, ia tak bisa membayangkan bagaimana respon Tuan Sutrisno beserta anak tertuanya setelah
mengetahui ada orang asing di rumah mererka.
__ADS_1