Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Dihukum.


__ADS_3

"Sudah kuduga sebelumnya, bahwa hari ini adalah masanya,dimana kehidupan sulitku akan dimulai"


Jam pelajaran masih berlangsung,kira\-kira masih tiga puluh lima menit lagi baru bel istirahat berbunyi. Tari sesuai perintah,ia kini berdiri di tengah lapangan,meski masih terbilang pagi,namun tak bisa diungkiri sinar matahari pada sekitar jam sembilan pagi mulai terasa panas,bahkan orang lain pun tak akan mau hanya sebentar berdiri di sana.


Sudah sekitar lima belas menit ia berdiri di sana,peluh pun mulai mengalir dari pelipis hingga ke dagu,namun ia masih tetap kukuh berdiri disana semakin lama semakin deras peluh itu mengalir,entah mengapa penglihatannya juga mulai agak buram,namun ia tetap berusaha membuka lebar matanya,ia tidak ingin pingsan ia ingin menyelesaikan hukuman ini sebagai pertanggung jawaban dari kesalahan yang ia buat.


"Aku nggak boleh menyerah, aku harus kuat harus bisa menyelesaikan semua ini", ucapnya dalam hati sambil menghembuskan nafas nya.


Waktu rasanya berjalan dengan lambat,sejak Tari disuruh berdiri di lapangan sejak itulah Ningsih merasa risau,entah sudah berapa kali ia menghela nafas, hatinya terus gelisah,bagaimana tidak,sahabatnya kini sedang berjemur di bawah terik matahari yang panas ,pasti merasa sangat lelah dan kepanasan,namun tak ada yang bisa ia lakukan,ia hanya bisa pasrah ia janji saat bel istirahat berbunyi ia akan jadi orang pertama yang akan berlari menghampiri Tari.


Tanpa diduga, ternyata sejak tadi Dimas juga merasakan hal yang sama sejak tadi ia juga terlihat gelisah,berulang kali ia mendesah menghela nafas,Max yang berada di sebelahnya merasakan ada yang aneh dari Dimas lantas menepuk bahu Dimas pelan.


" Dimas kamu kenapa sih..?",ucap Max pelan.


"Hah....apa...?", kata Dimas yang baru saja terlepas dari lamunannya.

__ADS_1


" Apa sih yang kamu fikirin,sampai ngelamun gitu?"


"Apaan sih,siapa juga yang ngelamun gue nggak ngelamun". Ucapnya dengan agak keras, hingga terdengar oleh seluruh murid yang ada di kelas itu termasuk gurunya.


" Siapa itu",ucao gurunya.Tanpa diduga Dimas pun mengangkat tangannya tanpa ragu.


"Saya bu", jawab Dimas.Gurunya pun agak kaget,pasalnya walau pun Dimas anak yang keras kepala namun ia termasuk murid yang berprestasi,tidak hanya dalam olahraga basket,di bidang bahasa inggris pun juga dikuasainya dan yang lebih mengejutkan ia jarang membuat masalah bisa dibilang hampir tidak pernah,dibanding murid lain yang membuat onar karena ingin menjadi tenar,kalau ia malah memilih tak perduli,dulu ia pernah diajak merokok oleh teman sekelasnya namun ia memilih acuh tak acuh pada mereka,sungguh hal yang tak berguna jika ia sampai menjadi seperti mereka,fikirnya.


" Dimas ada apa?kenapa kamu berteriak? ",tanya gurunya.


" Ah,padahal tinggal lima menit lagi,tapi cepatlah tidak baik menahan buang air lebih lama",


"Terimakasih bu," ucap Dimas ia pun segera keluar dari kelas,dan matanya langsung tertuju pada Tari, awalnya ia hanya sekedar melihat dari jauh sambil berjalan ke toilet, namun langkahnya terhenti,ia kini memperhatikan posisi Tari berdiri entah hanya penglihatannya saja kah,kalau tubuh Tari seperti hendak tumbang,ia pun masih memperhatikannya,namun semakin lama semakin miring tubuh itu .Mata Dimas terbelalak lantaran melihat Tari yang sudah tergeletak di tanah,tanpa aba-aba lagi Dimas langsung berlari ke tengah lapangan.Ia kini sudah berada di samping Tari, dipangkunya kepala Tari serta pipinya dipukul pelan.


"Tari... Tari, bangun..hei Tari!", ucap Dimas panik.

__ADS_1


" Teng...Tong.......",bel tanda istirahat berbunyi, seluruh murid sudah mulai keluar, sontak saja mata seluruh murid yang sudah keluar tertuju ke tengah lapangan,mereka terkejut bagimana tidak Dimas kini berdiri dengan Tari yang sudah dalam gendongannya ,terasa familiar memang namun bagaimana mungkin cewek itu bisa dua kali digendong oleh Dimas,begitu fikir mereka,


dengan gendongan ala pengantin ituIa pun membawa Tari menuju UKS dengan setengah berlari.


_ _ _ _ _ _ _ _


Dimas kini sedang duduk disamping Tari sambil menunggu Ningsih memanggil guru medis,ia sedang memandang wajah yang pucat pasi seperti tak bernyawa itu,ada rasa kasihan di hatinya.


"Dasar cewek bodoh,siapa suruh lo telat masuk jadi kayak gini,gue juga kan yang susah bawa lo kesini", ucapnya dalam hati,ia kembali menatap wajah gadis itu diperhatikannya setiap jengkal wajah itu,wajah yang begitu polos,dan terlihat halus meski tanpa make up dan terlelap seperti bayi,Dimas yang sedang memperhatikan wajah itu tanpa sadar menyunggingkan senyum,kini mata nya terarah pada beberapa helai rambut yang menutupi bagian wajah Tari,entah mengapa hatinya tergerak ingin menyisihkan rambut itu,tanpa sadar entah mengapa ia terus memandangi wajah itu,dan ia kini ingin menuentuh pipinya,namun ia terkejut karena mata Tari tiba-tiba terbuka,ia pun dengan cepat mengalihkan tangannya.Matanya perlahan terbuka,ia pun sedang berusaha melihat siapa yang ada di sampingnya karena penglihatannya masih belum begitu jelas.


" Dimas,kenapa kamu disini, aku dimana?",tanyanya pada Dimas dengan suara yang lemah.


"Lo ada di UKS, tadi lo pingsan,apa lo nggak ingat?", tanya Dimas dengan ekspresi agak kesal.


Tari pun berusaha mengingat kembali, setelah beberapa saat ia baru ingat kalau tadi kepalanya begitu pusing mungkin setelah itu ia mungkinn pingsan, fikirnya sendiri menyinpulkan.

__ADS_1


__ADS_2