Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
2.Diyah Ningsih Wijaya


__ADS_3

 


Seperti biasanya kini lagi\- lagi Tari harus lari sekuat tenaga menyempatkan diri agar tidak telat kesekolah.Tari berlari terpingkal\- pingkal peluh mulai mengalir dari pelipisnya dan sambil di usapnya agar tidak mengenai matanya yang mungkin akan tetasa perih,saat sudah mendekati gerbang sekolah Tari hampir saja dikunci oleh satpam sekolahnya karena waktu menunjukan bahwa bel masuk akan segera berbunyi.


 


"Pak,pak pak pak satpam jangan tutup pintunya", kata tari pada satpam sekolah


" Kamu laghi,kamu laghi kemarin kamu jugha yang mau telat to,mentang-mentang kemarin saya biarin masuk sekarang mau seenaknya", omel pak Supri Satpam sekolah dengan logat medhok jawanya sambil kumisnya yang bergerak naik turun.


"Maaf pak,saya tadi..."


"Nggak usah tapi tapian cepat sana masuk besok kalau kamu telat lagi saya nggak bakal biarin kamu masuk".

__ADS_1


" Terimakasih pak",jawab Tari dengan wajah gembira.Tari pun berlari lagi menuju kelas dan akhirnya dampai di depan kelasnya kelas X ruang 2 ,ia pun mengintip pintu kelasnya dari luar dan menarik napas lega karena belum ada guru yang masuk ke dalam kelasnya, lalu dia pun melangkah masuk benar saja dari semua murid di kelasnya hanya ia yang baru datang.


"Tari,cepat kesini",suara seorang gadis mengalihkan pandangannya ke sumber suara.Ternyata pemilik suara itu adalah teman baiknya,ia Diyah Ningsih wijaya teman baiknya sejak awal masuk SMA memiliki paras yang cantik,mata agak sipit,hidung mancung bibir merah karena memakai lipstik namun masih terlihat natural wajah dan badannya putih bersih.



dari hasil pengamatan tentu saja ia berasal dari kalangan berada,namun ia tidak pernah merasa malu berteman dengan Tari walau kadang teman se kasta nya mencoba membujuknya untuk tidak berteman dengan Tari karena perbedaan sosial,namun ia tak perduli malah ia nyaman berteman dengan Tari,dan ia paling mengerti Tari,dan seperti pagi sebelumnya kini ia sedang menunggu Tari dengan rasa cemas,dan ia merasa lega karena temannya itu kini datang tepat waktu.


" Tari kamu hampir saja telat lagi loh,aku dari tadi khawatir nungguin kamu kalau kamu sampai telat lagi kamu akan dihukum lagi dan gimana kalau sampai diskors",kata Ningsih mulai mengoceh.


"Tapi tetap aja Tar,coba kamu pikirin lagi deh tawaran ku kalau gini terus kan...",belum selesai Ningsih bicara Tari terlebih dahulu memotong kata-katanya.


" Hemmm,mulai lagi deh aku kan udah bilang,semua akan baik baik aja kamu nggak perlu khawatir aku bisa menangani semuanya,ok!"Tari menerangkan untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


 


Kemudian guru pun masuk dan memulai oelajaran,semua murid dikelaspun langsung memperhatikan kedepan dan guru pun mulai menerangkan pelajaran hari ini.


\\* \\* \\*



Sekitar pukul 14:30 siang bel tanda jam. pelajaran berakhir pun berbunyi,seluru murid pun berhamburan bergegas menuju tujuan masing \- masing mungkin ada yang berfikir pulang dan beristirahat dan mungkin ada yang berencana keluar sekedar bermain dengan teman sebaya.Tapi semua itu jauh dari agenda Tari yang selalu ia fikirkan hanyalah bagaimana caranya menghasilkan rupiah bagi keluarga kecilnya,mulai dari bangun tidur hingga hendak tidur sekalipun itulah yang selalu ia fikirkan.Seperti Siang ini dia akan mengasuh anak tetangganya,Ibu Sinta memang sering memanggil tari jika ia ada pekerjaan mendesak di tempatnya bekerja,maklum ibu Sinta adalah seorang pegawai PNS di kelurahan dan hari ini beliau ada hal penting yang akan dibahas, ia mempunyai anak Balita berumur 5 tahun bernama Adit kebetulan Adit juga menyukai Tari sikap tari yang lembut dan penyayang,tak ayal jika anak kecil akan merasa nyaman jika dekat dengannya.


 


"Tari,saya titip Adit ya!nanti tante akan bawakan kamu oleh-oleh", teriak ibu Sinta sembari melaju dengan motor maticnya.Tari dan Adit kecil pun melambaikan tangan nengiringi kepergian ibunya.

__ADS_1


" Adit,ayo kita masuk." Kemudian mereka berdua pun segera masuk dan mengunci pintu.


__ADS_2