Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Menyadari Perasaan.


__ADS_3

"Awalnya...aku masih tak mengerti kenapa aku selalu marah saat aku melihat nya bersama lelaki lain,kukira itu hanyalah perasaan refleks karena aku terlalu membencinya,namun malam ini saat aku melihatnya sedang berpelukkan dengan lelaki lain,aku marah, aku cemburu dan ingin rasanya kutampar lelaki yang berani memeluk gadis itu,dan saat itu lah aku sadar arti dari kemarahanku selama ini adalah karena aku menyukainya".


Dear:Dimas.


Setelah hampir satu jam lamanya mereka pun akhirnya selesai mengerjakan tugas Elang yang tidak is mengerti sebelumnya.


"Hah...akhirnya selesai juga..",ucap Tari sambil mereganggkan otot-ototnya yang kaku akibat terlalu lama duduk.


" Iya,terimakasih ya Tari..berkatmu aku sedikit mengerti sekarang,tidak seperti dia yang sejak tadi tak serius pasti dia masih tidak mengerti",ucap Elang yang seketika menatap Dimas dengan tatapan sinis.


"Apa lo bilang, gue nggak ngerti siapa bilang,gue itu bisa ngerjain semuanya gue cuman mau...", ucapnya seketika terhenti, hampir saja ia kelepasan bicara dan mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia hanya ingin didekat Tari agar lelaki itu tidak bisa mwndekati Tari sesukanya.


" Apa kamu mau apa,hah?",tanya Elang yang masih meremehkan Dimas,namun ia hanya diam ia tak ada niat untuk mencari ribut saat ini.


"Sudah...sudah...lebih baik kita kemas semua ini agar bisa cepat pulang, em...Elang apa boleh aku memakai dapurmu,aku ingin mencuci gelas kotor ini", ucap Tari.

__ADS_1


" Nggak apa-apa,nggak usah repot,biar nanti mamaku saja yang mencucinya",


"Ah nggak apa-apa kok cuma sedikit, lagian nggak enak kan mamamu datang capek-capek malah liat cucian kotor,em....kalau kamu nggak enak gimana kalau kamu ikut membantuku saja mengelapnya!",ucap Tari yang mencoba menghilangkan kecanggungan itu.


" Em...bo..boleh",jawab Elang gugup, ada rasa senang dihatinya karena hanya ada mereka berdua saat di dapur nanti,mereka berdua pun melangkah ke dapur dan meninggalkan Dimas seorang diri di ruang tamu.


Sudah lima menit berlalu sejak mereka pergi kedapur,ini sudah terlalu lama baginya,sejak tadi ia gelisah,bagaimana tidak seorang gadis dan seorang lelaki tengah berduaan di dapur, bukankah tak mungkin tak akan terjadi sesuatu, biar pun Elang adalah anak dari pemilik kosan ini tetap saja dia adalah lelaki normal yang bisa saja tertarik jika terlalu lama berduaan.


"Ahhh.....", tiba-tiba terdengar suara teriakkan yang tak lain adalah suara Tari.


Dimas yang mendengar nya pun seketika meranjak dari tempat duduk nya menuju dapur, saat ia mulai dekat kearah dapur ia pun berjalan perlahan.


" Tapi,tapi ini pertama kalinya...",ucap Tari lagi,mendengar kata itu Dimas jadi berfikir yang tidak-tidak,tanpa berfikir panjang ia pun langsung memergoki kedua orang itu,tanpa mendengarkan kelanjutan dari kalimat Tari yang terpotong.


"Hei apa yang sedang kalian lakukan",

__ADS_1


Seketika mereka berdua pun terkejut,begitu pula dengan Dimas ia seketika geram,dan sangat marah sampai rasanya tak mampu lagi ia menahan amarahnya,bagaimana tidak dengan posisi Tari yang berada dalam pagaran kedua lengan Elang, dan begitu pula Tari yang membenamkan kepalanya di dada Elang sambil memegang erat baju Elang.


Dimas pun melangkah mendekati mereka dan langsung menarik tangan Tari.


" Ayo kita pulang!,hari sudah gelap nggak baik perempuan pulang terlalu malam",ucap Dimas yang masih berusaha menarik tangan Tari.


"Tunggu",seru Elang seraya menarik tangan tari yang satunya lagi." Apa maksud dari perkataanmu ini,apa hakmu mengaturnya,dia jelas-jelas belum mau pulang tapi kamu malah memaksanya sesuka hatimu,memangnya kamu siapa yang bisa mengatur kapan dia harus pulang?",tanya Elang yang seketika membuatnya terdiam,benar apa yang dikatakan oleh Elang apa haknya dalam hal ini,namun ia tak perduli ia terus saja menarik tangan Tari hingga menyeretnya keluar.


"Tungu dimas ini sakit,serius aku merasa sakit tolong lepaskan tanganku!",ucap Tari sambil mencoba berontak,dan berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.


" Ada apa denganmu sebenarnya,kenapa kamu tiba-tiba memaksaku pulang,kalau kamu mau pulang, ya pulang saja sendiri jangan malah menyeretku tanpa alasan,"


Tak lama Elang pun datang,dan berdiri tepat dibelakang Tari, Dimas menyadari nya namun ia hanya diam dan kembali menatap Tari.


"Lo mau tahu apa alasan gue marah dan tiba-tiba ngajak lo pulang,itu karena gue suka sama lo dan gue nggak mau kalau lo berduaan dengan nya,lo ngerti sekarang?", ucap Dimas yang seketika membuat Tari terbelalak tak percaya,ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar,dan bagaimana mungkin Dimas, orang yang paling ia benci dan begitu pula sebaliknya,malah menyatakan omong kosong dihadapannya,apa dia fikir aku akan senang dan langsung menerimanya gitu?,sampai kapan pun aku tak mau bahkan jika ia serius sekali pun tak akan kuubah keputusanku,aku tak menyukai nya dan tak akan pernah,aku membencinya,sangat membencinya.

__ADS_1


" Dimas,kumohon hentikan omong kosong ini,tidakkah kamu sedikit saja merasa kasihan padaku?,sudah cukup...sudah cukup kamu mempermalukanku tempo hari lalu,dan sekarang kamu mau mengulanginya,Dimas kesabaran ku juga ada batasnya,sekarang sekali lagi kumohon jangan ganggu aku lagi..hiks....kumohon tolong pergilah....hiks...hiks.... ",ucap Tari yang langsung jongkok,ia tak sanggup lagi berdiri jiwa dan raganya lelah untuk menahan nya lagi.


" Dimas, hentikanlah semua ini!,asalkan kamu tahu dia adalah pacarku,kami sudah jadian beberapa hari yang lalu, jadi...jangan ganggu dia lagi atau aku tidak akan segan lagi padamu",ucap Elang yang asal bicara,namun itu semua demi keamanan Tari, dan sebenarnya... semua itu adalah kata-kata yang memang ingin ia wujudkan menjadi kenyataan.


__ADS_2