
Sejak keberangkatan Bima,ibu Sulis sejak tadi mondar mandir di ruang tamu,pasalnya sejak tadi Bima tak kunjung datang.Dimas yang dari tadi juga risau,dan tak sengaja melihat ibunya yang juga terlihat tak tenang di bawah pun menuruni tangga.
"Momy,kenapa geliah gitu", ucapnya pura-pura tak tahu.
" Ini loh,Tari kau kok belum pulang momy takut terjadi sesuatu padanya",
"Kalau gitu aku akan menjemputnya mommy tahu rumahnya dimana kan?",
" Ah tapi..Dimas.. masmu sudah menjemput Tari".ucap ibunya yang seketika membuatnya terkejut,ia yang seharian menunggu Tari malah kakaknya yang menjemput Tari sehingga membuat batinnya marah,marah bukan pada masnya atau siapa pun,ia marah pada dirinya sendiri yang lalai dan ragu sehingga di dahului oleh orang lain.
Tiba\-tiba bel rumah pun berbunyi, ibu sulis pun langsung berjalan kearah pintu dan membukanya.Tampak lah kini gadis yang sejak tadi ditunggu oleh seluruh isi rumah itu,
__ADS_1
"Tari sayang... kenapa kamu lama sekali pulangnya tante khawatir sama kamu", kata bu Sulis seraya memegang sayang kedua pipi Tari.
" Maaf tante..tadi Tari ketinggalan jam keberangkatan bus dan Tari sebenarnya akan berangkat lagi pada jam delapan malam,namun saat Tari berjalan menuju terminal tiba-tiba saja mas Bima sudah ada di dekat rumah dan bilang kalau mau jemput Tari,sekali lagi Tari minta maaf",ucapnya seraya menunduk tak nyaman rasanya karna ia telah merepotkan keluarga ini.
"Udah tahu salah kan, dan lo harus tahu diri jangan kecerobohan ini terulang lagi kan kita juga yang repot"sambung Dimas yang dari tadi menahan ucapannya namun akhirnya keluar juga.
"Hush..Dimas kamu kok ngomong gitu,lagi pula ini sepenuhnya bukanlah salah Tari",ucap ibunya dengan menatap marah Dimas.
"Nggak tante, Dimas benar ini memang salah Tari yang ceroboh,dan Tari janji tak akan mengulanginya lagi", ucap Tari membenarkan.
" Bagus lah kalau lo sadar,Momy Dimas mau tidur dulu ngantuk",ucapnya seraya menaiki anak tangga.
Tari pun mengangguk dan segera menuju kamarnya untuk beristirahat.
_ _ _ _
Tak terasa hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu,yaitu pengumuman kenaikkan kelasnya,ia pun segera mengajak Ningsih berlari mencari nama mereka berdua.
" Tari pelan-pelan dong...Nggak usah lari,daftar namanya kan Nggak mungkin lari",Ningsih merengek karena Tari yang sejak pagi sudah menyeretnya paksa.
__ADS_1
"Nggak bisa,kita harus..ini penting", ucap Tari yang kini berada di depan kelas XI ruang 1,matanya kini terbelalak,pasalnya kini menemukan namanya dan nama Ningsih di daftar itu,sontak saja ia pun melompat girang di depan kelas itu sambil memeluk Ningsih yang sejak tadi sedang mencari sesuatu bukanya melihat namanya di daftar.
"Yess...Ningsih lihat ini...,lihat kita sekelas lagi...", ucap nya seraya memegang kedua pipi Ningsih dan mengarahkan pandangannya pada daftar,dan akibatnya matanya tak sengaja tertuju pada sebuah nama,nama dari orang yang ssejak tadi ia cari,Dimas Bagus Sutrisno.Sontak saja matanya terbelalak dan lamgsung melompat-lompat seraya memeluk Tari.
" Yes kita sekelas....",ucap Ningsih masih sambil melompat girang.
"Iya...aku tahu aku kan sudah bilang kita sa..", belum selesai perkataan Tari namun sudah diputus oleh Ningsih..
" Kamu benar Tar,kita sekelas sama Dimas,lihat...",Tari pun menatap Ningsih jengkel pasalnya Ningsih senang bukan karena sekelas dengannya,namun karena sekelas dengan Dimas.Tapi tunggu dulu Dimas..,Ningsih tadi menyebut nama Dimas,sontak saja ia langsung mengarahkan pandangannya ke arah daftar untuk kedua kalinya,ia pun terbelalak tak percaya, ternyata benar Dimas sekelas dengannya,ia pun menggosok matanya ia berharap ini hanyalah mimpi,sebuah mimpi buruk yang akan berubah setelah ia membuka matanya, namun setelah ia kembali membuka matanya sama sekali tak ada yang berubah,nama itu masih ada pada tempatnya.
"Ahhhhh,oppa....saranghe yoo...",terdengar suara teriakkan dari arah belakangnya yang sontak saja membuatnya dan Ningsih berbalik arah ke sumber suara.Ternya Dimas yang berjalan bersama Max dengan tersenyum.
Ia kini Tentu saja menjadi sorotan massa bagi siswi yang ada di sekitar, karena senyumnya adalah fenomena langka,ada yang bilang sangat sulit sekali melihat senyumnya,maka dari itu tak sedikit siswi yang mengabadikan fenomena itu dengan ponsel mereka dan mungkin akan dijadikan bahan berita hangat tentang idola mereka itu.Tari yang menyadari kalau Dimas dan Max semakin mendekat ke arah mereka,langsung menarik tangan Ningsih agar pergi dari tempat itu,namun Ningsih tak bergeming ia kini sedang terperangah menatap Dimas, inilah yang ia takutkan saat Ningsih melihat Dimas jadi hyper dan susah diajak bicara.
" Ning,Ningsih...kita kesana yuk..,"bujuknya lagi,namun Ningsih masih tak bergeming,hingga Dimas dan Max pun sudah ada di depan mereka berdua.
"Hai Ningsih,hai Tari sedang apa kalian disini,apa kalian masuk kelas sini", tanya Max.
__ADS_1
" Ah iya kami masuk kelas ini",Jawab Tari pelan,dan tak sengaja ia menatap Dimas yang ternyata juga sedang menatapnya sinis,hingga membuatnya tertunduk.Entah apa yang sedang ia fikirkan