
"*Kenapa harus kau yang datang,padalahal aku kini tengah merindukan cahaya sang rembulanku*".
Sekitar pukul dua belas siang adalah waktu istirahat dan luang bagi Bima saat ini,kini ia berniat ke kantin kampusnya untuk makan siang,ia pun segera membereskan meja kerja yang tadi ia buat berantakkan,setelah beberapa saat mejanya pun bersih dan ia berniat untuk segera makan siang karena jika lambat makan siang bisa\-bisa mungkin nanti tak ada waktu lagi untuk makan dikarenakan kesibukkannya.Tanpa desengaja Maya juga masuk diruang kerja mereka karena kebetulan juga ingin mengajak Bima untuk makan siang.
"Ah Bima,Kamu mau kemana?",tanya Maya,
" Aku hendak kekantin,ada apa kenapa malah masuk lagi apakah kamu tidak makan siang?,kamu sebaiknya menggunakan waktu yang tersisa untuk makan siang, jangan sampai telat makan nanti kamu bisa sakit."Ucap Bima pada gadis itu yang salah tingkah dengan apa yang diucapkannya,bagaimana tidak,perkataan Bima yang begitu perhatian itu selalu sukses meluluh kan hatinya,sosok pria yang begitu ideal namun sayang meski sudah berteman selama kurang lebih satu tahun sepertinya tak sedikit pun pria itu memandangnya berbeda selalu menatap nya dengan pandangan yang biasa,itulah yang membuatnya selalu mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya, ia takut saat ia menyatakan perasaannya pria itu malah menjauh dan bahkan tak mau lagi berteman dengan nya.
"Pasti beruntung sekali perempuan yang bisa jadi pacar Bima dia begitu sopan dan perhatian pada siapa pun, apalagi pada kekasihnya**," ucapnya dalam hati seraya menatap Bima, namun sambil melamun.
" May!,hei Maya",panggil Bima seraya melambaikan tangannya di depan wajah Maya sehingga ia terkejut.
"Ah ya?",
"Emm,kebetulan aku juga ingin makan siang,bagaimana kalau kita kekantin bersama",ucap Maya.
"Ok,itu ide yang bagus ayo!", kata Bima mengiyakan.
_ _ _ _ _ _ _
Mereka bertiga kini masih berada di kafe itu,diantara mereka bertiga Tari adalah salah satu orang yang makan dengan tergesa\-gesa,ia ingin secepatnya menghabiskan makannya dan segera pergi dari sana,ia sudah sangat tak nyaman sejak kedatangan Dimas.
" Uhuk...uhuk..",tiba-tiba Tari tersedak.
"Tari kamu nggak apa-apa, nih cepat minum!", ucap Ningsih yang terkejut seraya menyodorkan jus jeruk pada Tari.
__ADS_1
" Nih bersihin mulut lo",ucap Dimas menberikan kan selembar tisu.
Setelah rasa tersedak nya sudah mulai menghilang ia pun baru sadar bahwa orang-orang di kafe sedang menatap dirinya. Ia pun hanya bisa menunduk malu.
"Ningsih aku pulang duluan aja ya,aku merasa kurang enak badan kalian berdua lanjutkan saja makannya", Ucap Tari yang terpaksa berbohong karena sudah tak tahan lagi dengan situasi ini.
" Kenapa kok tiba-tiba?, tunggu sebentar saja nanti aku antar pulang, "bujuk Ningsih,
" Ah nggak apa-apa aku bisa naik taksi kok,ya aku duluan ya Ning, ",ucapnya seraya meranjak dan berjalan keluar.
" Aduh Tari ku kenapa bisa jadi nggak sabaran sih padahal kan kita mau senang-senang seharian",ucap Ningsih dan juga berdiri.
"Lo mau kemana?", tanya Dimas yang menghentikan langkah Ningsih.
"Mau kemana?,ya mau ngejar Tari lah!",
"Biar gue yang antar dia pulang.",
"Hah kamu,kamu mau ngantar Tari pulang aku nggak salah dengar",
"Terserah apa yang lo fikirin", ucap Dimas yang berdiri dan melangkah ke meja kasir dan juga membayar makanan mereka bertiga,dan ia pun langsung melangkah keluar.
Tari kini tengah duduk di halte yang tidak jauh dari kafe itu,tiba-tiba sebuah motor berwarna biru gelap berhenti di hadapannya.
" Tari,ayo cepat naik",siruh Dimas yang masih di atas motor yang masih menyala.
"Nggak, nggak apa-apa aku bisa pulang sendiri," ucapnya dengan agak berteriak agar Dimas bisa mendengar nya.
__ADS_1
"Sudah naik aja,taksi mungkin masih lama cepat naik!",
" Tapi... ",mendengar Tari yang selalu mencari alasan Dimas pun mulai kehabisan kesabaran, ia kini melepas helm nya.
"Gue bilang naik ya naik,kenapa sih lo selalu cari alasan", ucap dimas agak membentak.
" Hei anak muda bukan begitu caranya membujuk pacarmu yang sedang marah",tiba-tiba seorang wanita paruh baya kira-kira berumur sekitar empat puluh tahun menyambung pembicaraan mereka berdua,sehingga mereka berdua pun menoleh ke arah wanita itu ,sejak kapan ibu ini ada disini, fikir Tari.
"Dia bukan pacar saya", ucap mereka berdua bersamaan.Wanita itu pun lantas tertawa kecil.
" Aku tak percaya kalian tidak berpacaran,kalian begitu serasi, yang satunya tampan dan yang satu lagi cantik dan manis bahkan saat berbicara pun kompak,"Ucap wanita itu.
"Tapi sungguh kami tak berpacaran", Tari kembali menjelaskan.
"Baiklah, baiklah...tapi tetap saja cantik sebaiknya kamu menurut saja,dia sudah datang ke sini untuk mengantar mu pulang,jadi jika dia bukan pacarmu setidaknya hargai kebaikkan nya", bujuk ibu itu,Dimas yang merasa ibu itu ada di pihaknya pun tersenyum penuh kemenangan.
" Baiklah aku ikut dengan mu",ucap Tari.
"Nah gitu dong!, kan gue nggak repot",
Tari dan Dimas kini sudah berada diatas motor milik Dimas,
" Kalau gitu tante kami duluan ya",pamit Tari pada wanita paruh baya itu.
"Iya hati-hati,dan kau anak muda bujuklah dia", ucap Ibu itu lagi,yang kini membuat Tari bingung,namun Dimas malaj mengangguk. Kemidian mereka berdua pun melaju meninggalkan halte itu.
" Hah..terlihat jelas kalau lelaki itu menyukainya,tapi sayang masih ada kenaifan diantara mereka,ah indahnya masa muda!",Ucap ibu itu yang tersenyum sendiri.
__ADS_1