Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Perjalanan.


__ADS_3

"Jika jalan ini adalah jalan yang sudah ditentukan,dan itu yang bisa membuatmu bahagia maka baiklah aku akan merelakanmu walau didalam hatiku masih belum siap untuk menghapus nama mu,biarlah akan kutanggung rasa sakit ini seorang diri".


Dear:Bima.


Sepeninggal Bima dari rumah Tari, nenek Girah mulai merasa gelisah, seketika tubuhnya bergetar hebat,bagaimana tidak setelah mendengar apa yang baru saja ia dengar serta raut wajah tuan muda itu sudah pasti ada yang tidak beres,apakah terjadi sesuatu pada cucunya,bagaimana jika dia pergi dan tersesat dan tak bisa kembali lagi,fikir nenek Girah, entah mengapa hati nya berkritik demikian meskipun ia tak mau jika hal itu benar\-benar terjadi, ia sungguh tak dapat membayangkannya.


"Tari,kamu pasti baik-baik saja karena doa nenek akan selalu menyertaimu",lirih nenek Girah yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri,suaranya bergetar karena air mata yang tiba-tiba mengalir dari sudut matanya.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat bergerak secara perlahan dan memarkirkan mobilnya di bawah sebuah pohon rindang yang ia sendiri tak tahu itu di mana.Mobil itu tak lain adalah milik Bima, ia berhenti disana karena ia kini tak sanggup lagi menyeimbangkan ke fokusan nya dan perasaan sesak nya saat ini,ia takut jika ia lanjutkan mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Ia kini menyenderkan tubuhnya ,serta memijit pelan pelipisnya,kepalanya kini terasa agak sakit,selama seminggu lebih ia terus mencari sosok yang sangat ia rindukan yang pergi entah kemana.


Tangan kanannya nya kini berpindah menyentuh dada kirinya,sementara punggung tangan kiri nya menutupi kedua matanya, semakin erat ia menggenggam dada kirinya,sakit ...dibagian itu yang paling sakit.Ia sangat merasa bersalah pada Tari yang mungkin pergi karena kesalahannya,karena kelalaiannya,mungkinkah gadis itu merasa lelah dan merasa kurang diperhatikan lagi sejak ia mulai fokus pada kegemarannya itu.


Ia sungguh sangat menyesal andai saja waktu bisa diulang dan jika didalam mimpi pun ia sangat ingin bertemu dengan gadis itu lagi,dan jika memang bisa, ia rela jika tak akan bangun lagi dari tidur selamanya pun ia rela agar bisa selalu bersama gadis itu lagi.


Ia kembali teringat akan kenangan yang pernah mereka lewati bersama,saat yang bahagia,saat dimana gadis itu berada dekat dengan nya dan saat gadis itu masih dalam pelukannya,saat ia masih bisa merasakan lembut nya bibir merah nan mungil itu.Ia pun tersenyum sendiri saat membayangkan momen itu,namun tanpa diduga dua air bening mengalir dari sudut matanya,ia terkejut dan menyentuh pipi nya yang ternyata sudah basah akibat air mata itu.


"Tari sebenarnya kamu dimana,apa kau tahu aku menderita disini,apa sedikit pun kamu tak mau mengerti perasaan ku,tolong..datanglah walau hanya sekejap,walau pun jika kamu tak mau lagi bersama ku setidaknya beri aku alasan..,alasan yang memang bisa membuat ku merelakanmu dan mengahapus nama mu dari hatiku,walau mungkin bekas nama itu akan menjadi bekas luka yang sewaktu-waktu mungkin akan kembali terasa sakit," gumamnya masih dalam tangisnya.


Setelah lama ia menenangkan hati dan fikirannya, ia pun menghembuskan nafas nya dan kembali mencoba untuk menghidupkan mesin mobilnya,dan menuju kearah jalan pulang.


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _

__ADS_1


Tak terasa hari ini adalah hari yang dinanti oleh ketiga orang pemuda yang tengah mempersiapkan diri untuk bepergian.


Tentu saja hari ini adalah awal dari liburan sebelum ujian semster,


"Drttt.....drttt....drttt....,"ponsel Dimas tiba-tiba saja bergetar, ia pun menoleh kearah ponselnya dengan tangan yang masih penuh dengan pakaian yang akan ia siapkan untuk menginap selama dua minggu ke depan.


" Max is calling......",


"Kenapa nih anak nelpon gue segala,ganggu aja..awas aja kalau nggak penting",ucapnya dengan wajah tak suka karena sudah bisa menebak kebiasaan teman nya itu.


" Halo,ada apa nelpon ganggu orang lagi beres-beres aja... ",jawab Dimas.


" Halo Dim, kamu dimana nih, udah siap belum, udah mandi belum,udah makan belum ,udah siap belum udah.... tuttt...tutt...tutt...,belum selesai Max bicara tapi telepon itu sudah diputusksn sepihak oleh Dimas.


Tak beberapa lama akhirnya Max pun sampai di depan sebuah rumah yang bergerbang tinggi, yaitu rumah Ridho. Ia segera menekan bel rumah itu,lalu dibukakan oleh seorang satpam yang dulu juga pernah ia temui sebelumnya,dan menyuruh nya untuk masuk.


Max pun melihat pintu rumah Ridho yang tengah terbuka, ia pun lantas masuk dan betapa kagetnya saat melihat siapa yang sedang duduk di samping Ridho di ruang tamu.


" Hah Dim... Dimas, kamu....sejak kapan kamu disini bu...bukannya tadi masih di rumah kok sudah ada disini ",ucap Max dengan wajah bingung.


" Hebat kan gue",jawab Dimas dengan senyum kemenangannya.


"Yaudah,karena kita bertiga udah kumpul,gimana kalau kita berangkat sekarang,mumpung masih sekitar jam delapan pagi,kalau kesiangan takut nya nanti jalannya macet," kata Ridho.

__ADS_1


Mereka pun segera masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan,setelah semua sudah beres akhirnya mobil itu mulai meluncur ke tempat tujuan.


"Drttt.... drttt.... drttt....", ponsel Ridho tiba-tiba saja bergetar, ia pun melihat layar ponselnya dan wajah nya pun seketika jadi sumringah dan segera mengangkat nya.


" Halo tante".


"(...................)?,"


"Ah ya kami sudah di perjalanan tante"


"(.................)",


"Tidak perlu repot-repot tante, tante udah pinjamkan kami kamar aja udah syukur,btw Elang dimana tante kok timben nggak ikut ngomong, aku kangen udah lama nggak ketemu semenjak tiga tahun lalu",


" (...............)"


"Oh...gitu ya kalau gitu sampai jumpa di Bogor ya tante".


" Siapa itu Ridho seperti nya kalian sangat akrab dan siapa itu Elang",tanya Max yang sejak tadi penasaran, sedang Dimas hanya mendengar kan.


"Oh...tadi itu tante ku tante Yanti, dia yang akan kita kunjungi nanti,dan Elang adalah putranya teman kecil ku dulu waktu tinggal di Bogor, dan dia juga seumuran loh sama kita",


" Wah bakal seru dong punya teman baru",kata max.

__ADS_1


__ADS_2