Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Ungkapan dan Penolakkan.


__ADS_3

 "Tolong,jangan seperti ini!,tolong jangan pernah lagi membuat hati ku berharap, karena aku tak sanggup jika harus merasakan sakit untuk kedua kalinya ".


Dear:Tari.


 


Setelah beberapa saat,Tari sebenarnya sudah berhenti menangis,namun tetap saja ia masih berada dalam pelukan Dimas,entah mengapa lelaki itu sama sekali belum melepaskan pelukannya,"tidakkah dia merasa canggung seperti ini?",ucap Tari dalam hati,awalnya ia hanya diam karena ia bingung harus bilang apa agar Dimas melepaskan pelukannya tanpa merasa canggung dan mungkin juga Dimas akan tersadar sendiri dan melepaskan nya, namun entah mengapa Dimas tak kunjung melepaskan nya,lama-lama ia mulai merasa tak nyaman, apa lagi dengan posisi seperti ini,ia bahkan bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung lelaki itu, yang berdetak sangat kencang.Sehingga mau tidak mau Tari akhirnya mulai buka suara.


 


 


"Dimas.. Dimas... apa kamu bisa melepaskan ku sekarang"ucap Tari tiba-tiba,Dimas yang awalnya menikmati pelukan itu lantas terkejut dan segera melepaskan pelukannya.


" Ma..maaf...maafkan aku,"ucap Dimas terbata karena gugup.Dalam sekejap ruangan itu dipenuhi oleh keheningan,Tari yang baru saja dipeluk oleh Dimas terdiam dan kini malah tertunduk,matanya tak berani menatap Dimas.


"Tari",panggil Dimas lembut.


"Emm", jawab Tari masih sambil menunduk.


"Aku...sungguh sangat minta maaf padamu,dan...aku tahu dengan hanya mengucap kata maaf pun tak cukup untuk menutup luka di hatimu,tapi....asal kamu tahu aku sangat menyesal,aku juga tak berani berharap kamu mau memaafkanku,tapi yang jelas aku akan terus meminta maaf sampai kamu sungguh memaafkanku."Ucap Dimas tegas.

__ADS_1


"Ka...kamu jangan terus meminta maaf lagi,jika kamu terus begitu aku...akan merasa aneh,rasanya ini tak pantas bagiku",jawab Tari terbata.


Mulut Dimas bungkam,sekali lagi ia tercengang atas perkataan yang dilontarkan oleh Tari,bukannya merasa lega dan senang bahwa orang yang menyakiti nya meminta maaf padanya,ia malah merasa bersalah sendiri dan gugup, sungguh berdosa lah dirinya yang telah menyakiti gadis yang begitu baik dan rendah diri ini,gadis yang mungkin hanya ada satu dari seribu orang itu malah ia sakiti begitu saja,seketika Dimas mengangkat wajahnya lalu menatap Tari dalam,cukup dalam hingga Tari menyadari bahwa Dimas sedang memperhatikan nya.


" Di..Dimas,kenapa kamu...apa ada sesuatu di wajahku? ",tanya Tari dengan tatapan mata yang polos,sembari memegang-megang wajahnya sendiri.


Tanpa diduga Dimas kembali memeluk gadis itu,ia baru mengerti dengan perasaan yang ia rasakan selama ini,perasaan aneh,perasaan marah saat Tari bersama laki-laki lain,perasaan marah saat melihat Tari terluka,ternyata tanpa ia sadari bahwa sejak awal ia sudah menyukai Tari, namun masalah nya adalah dirinya, yang tak mau jujur dan mengerti pada perasaannya sendiri.


" Di...Dimas,"lirih Tari mencoba melepaskan dirinya,namun Dimas tak ingin melepaskan nya dan malah mempererat pelukannya.


"I love you", bisik Dimas di telinga Tari,seketika mata Tari terbelalak, ia sungguh sangat terkejut,apakah ia tidak salah dengar bahwa Dimas baru saja membisikan kata bahwa Dimas menyukainya.


" Tari...aku menyukaimu, aku tahu..aku ini orang yang tak tahu diri,dengan tak tahu malu aku menyatakan perasaan padamu, setelah apa yang telah aku lakukan pada mu selama ini,tapi aku sungguh-sungguh,meskipun kamu tak menerimaku sekarang,tak apa aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mendapat kan cinta mu,dan...aku akan menunggu jawabanmu....hingga kamu bersedia membuka perasaan mu padaku ",ucap Dimas panjang lebar pada Tari.


"Aku nggak bercanda", ucap Dimas lagi dengan tatapan serius.


" Tiiittt....tiitt...",


Tiba-tiba terdengar bunyi klakson yang sontak mengejutkan mereka berdua.


"Ahaha...em...seperti nya itu Ningsih, dia sudah datang", ucap Tari yang langsung berdiri kemudian melangkah keluar meninggalkan Dimas yang masih terdiam di dalam sana.

__ADS_1


" Apa?,dia bilang aku bercanda?,apakah tindakkan yang aku tunjukkan barusan masih tak cukup untuk membuktikan keseriusanku?",ucap Dimas dalam hati.


"Ningsih... kenapa lama sekali", tanya Tari pada Ningsih yang baru saja keluar dari mobil.


" Ah maaf ya...,soalnya tadi ada urusan penting yang tak bisa aku abaikan begitu saja",jelas Ningsih, "em...ngomong-ngomong.. dimana Dimas kok nggak kelihatan?", tanya Ningsih tiba-tiba.


" Ah...em..dia...ada kok didalam",ucap Tari agak gagap.Sebagai seorang psikolog Ningsih sebenarnya merasakan ada yang aneh dari cara bicara Tari, "apakah terjadi sesuatu antara mereka berdua saat aku pergi?",batinnya,namun ia memilih untuk diam,ia berfikir jika ditanyakan langsung pada Tari ia berniat mencari tahu sendiri kebenarannya.Tiba-tiba Dimas keluar dari kamar kos itu.


" Ningsih, ayo kita pulang ",ajak Dimas dengan wajah lesu.


" Hah...,kenapa?,padahal kan aku baru saja sampai dan tak sempat berbicara banyak dengan Tari ",


" Tapi aku ingin segera pulang,aku merasa kuat enak badan,tolong antarkan aku pulang sekarang, setelah itu kamu bisa kembali lagi kesini ",ucap Dimas.


" Haaahhh....ok,ayo kita pulang sekarang, kalau begitu Tari kami pulang dulu ya,besok aku pasti akan kesini lagi,ok ",pamit Ningsih.


" Iya",jawab Tari singkat.


Ningsih dan Dimas lantas masuk ke dalam mobil,dan segera melaju meninggalkan Tari yang masih menyaksikan kepergian mereka.


Belum jauh mobil itu melaju, namun Tari sudah masuk dan mengunci kamar kosnya,dan ia langsung duduk di atas kasurnya.Tangan, dan seluruh tubuhnya bergetar, dan air matanya tiba-tiba langsung mengalir begitu saja dari sudut matanya.

__ADS_1


"Hiks....hiks.... hiks...", semakin lama tangisan itu semakin melanda,hingga ia tak kuasa mengendalikan dirinya, akhirnya ia pun menangis terisak sendirian diam-diam, tanpa ada yang tahu hatinya begitu sakit saat ini,meskipun harusnya rasa senang yang harusnya ia tunjukkan, namun entah mengapa rasanya,ungkapan perasaan Dimas bagaikan belati yang langsung mengenai hatinya.


__ADS_2