Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Mulai Mendekat.


__ADS_3

"Sudah lama aku menyukai mu,dulu hanya kupandangi dari kejauhan sosok dirimu,karena aku masih belum mempunyai keberanian untuk menggapaimu wahai bintang ku,namun kini aku tak akan mundur,aku akan mendapat kanmu bagaimana pun caranya, meskipun harus disakiti atau menyakiti."


Dear:Tuti.


Bima kini tengah sibuk dengan layar monitor nya,sejak pagi hingga menjelang waktu makan siang ia masih tak bergeming dari tempatnya.


Memang selama satu minggu lebih semenjak kepergian Tari,ia memilih untuk menyibukkan dirinya sendiri,ia sudah menyerah untuk mencari gadis itu,dan juga mencoba menyerah dengan hatinya.


Maya yang sejak tadi memperhatikan nya pun geleng-geleng kepala, ia tidak habis fikir,apakah lelaki ini tidak penat, fikirnya.


Namun ia juga merasa bersyukur dan sedikit merasa lega,melihat Bima yang mencari kesibukan dari pada ia terus melamun dan menyakiti hati dan fikirannya,ia pun lantas tersenyum seraya melihat jam tangannya.


"Sudah waktu nya makan siang, tapi ia masih saja sibuk,apa dia tak merasa lapar.Apa aku tanya saja ya?", ucap Maya dalam hati,namun ia juga merasa ragu,ia takut Bima malah merasa terganggu,dan akan marah padanya,ia tak mau jika Bima marah dan tak mau bicara padanya,bahkan membayangkannya saja ia tak mau.Ia pun berdiri dan mulai melangkah,namun langkahnya terhenti, ia berbalik,menatap lagi lelaki yang masih sibuk dan bahkan tak menyadari kepergian nya.


Dengan segenap nyali yang ia kumpulkan,ia mulai melangkah mendekati lelaki itu,dan kini ia tepat berada di sampingnya namun masih diam,ia tak tahu haru bicara dan berkata apa.


Ternyata Bima menyadari keberadaan gadis yang tengah berdiri disamping nya, ia lantas menatap gadis yang juga tengah menatap nya dengan tatapan kosong.

__ADS_1


" Maya,sedang apa kamu berdiri disini..,apa kamu mau menanyakan sesuatu?",tanya Bima.


"A...anu,kamu... kamu tidak lapar?, ini sudah saat nya jam makan siang,dan jika kamu tak keberatan,aku akan makan bersama mu,tapi..


jika kamu tidak lapar aku akan makan sendiri kok dan...lanjutkan saja pekerjaan mu", Jawab Maya gagap,ia terkejut karena tiba-tiba ditegur oleh Bima.


Bima menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya perlahan, ia segera berdiri.


" Ok,ayo kita makan siang",ucap Bima seraya berjalan pelan menuju pintu keluar.


"Ah iya...", Maya yang mendengar nya pun lantas tersenyum girang,ia tak menduga bahwa Bima akan menuriti nya,ia pun segera mengikuti Bima dari belakang sambil senyum-senyum sendiri.


"Dimas kekantin bareng yuk,atau kalau kamu malas ke kantin aku akan membeli kan makanan untuk mu,kamu suka apa sebut saja aku akan segera membawanya untuk mu".Ucap seorang gadis cantik bertubuh ramping yang kini tengah duduk disamping nya,Max pun hanya bisa pasrah dan juga merasa gelisah pasalnya ia kini juga tengah di goda oleh kedua teman dari gadis itu.


" Lo ini kenapa sih,sejak tadi pagi gangguin gue,udah gue bilang gue nggak ingat sama lo,dan sama sekali nggak kenal sama lo ",bentak Dimas,ia kini sudaj hampir kehabisan kesabaran, pasalnya sejak tadi pagi,gadis itu terus masuk ke dalam kelas nya dan menanyainya,ia sungguh sudah sangat muak.


" Hem...aku nggak percaya kamu nggak kenal sama aku,aku Tuti teman sekelas mu dulu waktu masih kelas sepuluh,aku lumayan di kenali loh.. banyak orang yang mengenalku,masa kamu lupa gitu aja",ucap Tuti yang malah tersenyum seraya menyilangkan kedua kakinya seraya menopangkan tangannya sebagai penyangga dan malah menatap intens wajah Dimas.

__ADS_1


"Lo..sebaiknya pergi dari sini,gue nggak perduli lo itu siapa,dan yang penting sekarang lo pergi, keluar dari sini", usir Dimas seraya berdiri dan menunjuk ke arah pintu keluar,suaranya yang memggelegar itu lantas mengalihkan perhatian seluruh murid yang ada dikelas itu,sehingga mereka perlahan mendekat dan mulai berbisik-bisik.Ia sudah tak tahan lagi mengahadapi gadis itu.


" Gue bilang pergi nggak, kalau lo nggak pergi, jangan salahkan gue, jika gue ngelakuin kekerasan,gue nggak perduli mau lo cowok atau pun cewek ",tegas Dimas pada gadis yang masih tak bergeming dari tempatnya itu.


" Ok,kali ini gue akan pergi, ayo!",ucapnya seraya melambaikan tangannya pada kedua tempatnya itu,mereka bertiga pun melangkah menuju pintu keluar,Tiba-tiba Tuti berhenti di tengah pintu dan kembali menatap Dimas.


"See you later," ucapnya tersenyum, kemudian melangkah keluar.


"Brakkk,sialan,benar-benar cewek nggak tau malu,", makinya seraya memukul mejanya.


" Hei sabar Dim, lihat kamu sedang di perhatikan murid lain ",ujar Max .


" Hei Tut,gimana?, apa kamu masih mau deketin Dimas, kayaknya dia marah banget deh sama kamu,terus gimana aku bisa dekat Max kalau kamu buat Dimas marah kayak gitu,"rengek Nani yang sudah lama menyukai Max,namun tak berani mengungkapkannya,karena bukan hanya dia yang mengagumi Max, jika ditanya hampir seluruh siswi juga mungkin mengagumi nya.


Mendengar keluhan temannya itu,Tuti menghentikan langkahnya,dan menatap Nani sambil tersenyum licik.


"Tenang, kamu nggak perlu khawatir, kamu kira aku akan berhenti mendekati Dimas hanya karena dia marah pada ku,hei..hei..jangan panggil namaku jika aku tak bisa mendapat kan apa yang sudah memjadi targetku,dan aku juga pasti akan membantu mu asal kamu juga mau membantu ku ok..,."Ucap Tuti meyakinkan.

__ADS_1


" Ok aku percaya sama kamu ",Kata Nani,seraya tersenyum.


" Nah gitu dong ,kan jadi enak lihat nya,ayo kita ke kelas,"ajak Tuti pada kedua temannya


__ADS_2