
"Maaf kan aku....dan beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya ",
Dear:Dimas.
Sudah kurang lebih satu jam Dimas berada di tempat itu,tempat dimana hanya ada ia dan Tari sekarang,entah sudah berapa kali Dimas keluar masuk pintu kamar kos Tari, bukan karena mencari sesuatu, bukan pula karena menunggu kedatangan Ningsih,tapi karena satu hal,karena ia merasa gelisah karena hanya ada ia dan tari di tempat itu,sebenarnya ada rasa senang terselip dihatinya,karena ia tahu dan mengerti pada perasaannya saat ini,bahwa ia sudah jatuh hati pada gadis itu,oleh karena itulah ia merasa sangat gelisah,ia takut jika ia akan melakukan sesuatu diluar kendalinya jika terus lama-lama seperti ini,dan ada satu hal lagi yang mengganjal dihatinya yaitu,alasan mengapa Tari berbohong pada Ningsih soal kepergian nya dulu.
Dimas kembali teringat akan Tari yang tertidur lelap didalam sana,ia pun segera melangkah masuk untuk memastikan.Setelah sampai di kamar Tari Dimas terkejut, lantaran mendapati Tari yang sudah terbangun entah sejak kapan.
"Sejak kapan kamu bangun, dan...apa kamu perlu sesuatu?,biar aku yang mengambilnya untuk mu,mau apa air,atau...kue aku kamu mau yang lain...bilang saja aku akan membelikannya untuk mu",tawar Dimas.
__ADS_1
" Ti...tidak usah repot-repot...aku nggak apa-apa aku belum lapar,aku bisa makan sendiri kok jika merasa lapar ",jawab Tari canggung, ia tak terbiasa dengan perubahan sifat Dimas yang bisa membuat ia salah faham.
" Kenapa?,kenapa kamu seperti ini?",tanya Dimas tiba-tiba, yang membuat Tari seketika terkejut sekaligus bingung.
"Apa maksud mu?", tanya Tari seraya menatap Dimas, Dimas lantas terdiam, namun perlahan namun pasti ia melangkah kemudian duduk di lantai tepat disamping tempat tidur Tari, mereka kini duduk dalam posisi sejajar karena tempat tidur Tari tidak menggunakan ranjang,hanya kasur yang langsung di atas lantai.
"Kamu sungguh membuatku bingung,sikap dan ekspresimu saat melihatku...terlihat biasa-biasa saja,tidak kah kamu merasa benci saat melihat ku?,dan kenapa, kenapa kamu berbohong saat kamu bercerita pada Ningsih alasan kepergian mu dari rumahku,bukankah akulah alasannya...alasan dari kepergian mu,padahal kamu bisa memberi tahu Ningsih dan yang lain bahwa aku yang menghinamu waktu itu,padahal aku sudah siap jika harus dibenci semua nya,karena memang benar,akulah yang bersalah, tapi... kamu malah menggunakan alasan lain dan tak mengatakan yang sebenarnya, kenapa?", ucap Dimas panjang lebar,akhirnya ia ungkapkanlah semua pertanyaan yang ingin ia tanyakan sejak beberapa saat lalu.
" Kamu berbohong lagi,aku benci dengan pembohong,"ucap Dimas memotong kata-kata Tari dengan tatapan marah,"katakan lah..yang sejujurnya,aku kan alasan mu pergi?, karena aku kan?",tanya Dimas lagi dengan notasi suara yang kembali normal.
Setelah beberapa saat tak ada respon dari Tari, akhirnya ia mengeluarkan isyarat,Tari menganggukkan kepala nya,kemudian perlahan ia pun mulai mencoba bicara.
__ADS_1
"Benar kamu lah alasan dari kepergian ku dulu,karena mu...karena kata-katamu waktu itu,aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan saat itu selain pergi dari sana,karena... aku menyadari sejak awal kamu tak suka padaku,kamu membenciku...dan apa kamu tahu?,kata-kata yang kamu lontarkan saat itu,saat kamu menyebutku gadis yang sembarangan?", tanya Tari,namun wajahnya masih menunduk.Seketika Dimas kembali memutar ingatannya ke saat dimana ia mengucapkan kata-kata itu.
"Lo masih sok polos hah,lo nggak merasa bersalah sama mas gue,apa lo mau mempermainkan mas gue,denger ya gue nggak akan biarin gadis matre kayak lo deketin mas gue,silahkan aja lo mau jalan,pacaran dan tidur sama cowok lain asal kan jangan nyakitin mas gue".
Dan kini giliran Dimas yang tertunduk,setelah mengingat apa yang telah ia ucapkan,ia sangat sadar bahwa yang ia katakan saat itu sangatlah keterlaluan,pasti Tari sangat menyakitkan bagi Tari untuk menerimanya.
" Saat itu aku sadar...dari caramu menatapku,kamu tak hanya tak suka padaku, kamu seperti nya membenciku,bahkan sangat membenciku,dan saat itu tak ada yang bisa kufikirkan lagi selain pergi, aku tak mau menjadi pengganggu dalam kehidupan bahagia kalian, dan aku sadar sebagai orang yang hanya menumpang aku tak punya hak untuk membela diri,biarlah aku yang mengalah,daripada menjadi benalu bagi mu dan keluarga mu,dan asal kamu tahu,soal mas Bima aku sungguh-sungguh padanya,tak pernah sekali pun aku berfikir untuk mencari selingkuhan atau sebagai nya,dan...mungkin melalui peristiwa itu cara takdir menunjukkan, bahwa mas Bima bukanlah jodoh ku,dan...dia orang yang baik,memang sudah sepantasnya dia bersama gadis yang baik pula,ia tak pantas untuk gadis seperti ku....hiks...hiks...",seketika tanpa disadari oleh Tari,air matanya mengalir begitu saja,bahkan sampai terisak,hingga ia tak mampu lagi melanjutkan apa yang akan ia ucapkan.
Tari seketika terkejut,matanya seketika terbelalak,bagaimana tidak tanpa diduga Dimas tiba-tiba memeluknya.Saat ini posisi Dimas tengah mendekap seutuhnya tubuh Tari di dadanya yang bidang,tangannya yang lumayan kekar sesuai dengan tubuhnya yang atletis melingkar sempurna di kedua bahu Tari.
"Maaf", satu kata yang ia ucapkan dengan lembut di telinga Tari, Tari untuk yang kedua kalinya kembali terkejut,sebenarnya sempat ingin mencoba lepas dari posisi itu, namun,Dimas malah mengeratkan pelukannya,Tari yang kalah tenaga tak tahu lagi harus bagaimana, akhirnya ia memilih diam di dalam pelukan lelaki itu, dan tentu saja itu juga adalah respon tubuhnya dari apa yang ada di hatinya,meskipun mulut nya berkata lain,namun hatinya tak bisa menyangkal bahwa ia memang sudah jatuh hati pada Dimas.
__ADS_1