Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Harapan


__ADS_3

"Salahkah aku jika mengharapkan bulan yang bersinar nan indah itu hanya untuk menerangiku seorang".


Dimas kini masih menemani Tari yang masih terbaring lemah di kasur ia bersandar di bagiaatas kasur, ia kini memandang kearah Dimas ia bertanya\-tanya kenapa cowok ini masih disini?.


"Dimas kenapa kamu masih disini,apa kamu tidak mau kekantin atau sebagainya,jika lambat kamu bisa melewatkan jam istirahat dan nggak makan",tanya Tari yang tahu pasti


Dimas belum makan.


" Gu..gue udah mau kekantin kok,nih gue mau kesana lo... juga belum makan kan ?,mau makan apa nanti gue beliin bilang aja",jawab Dimas gagap karena apa yang baru saja ia katakan hanyalah influsif yang begitu saja keluar sebagai alasan.


"Cklek",suara kenop pintu terbuka hingga membuat mereka berdua mengalihkan pandangan kearah suara.


" Tari...gimana keadaan mu aku khawatir sekali,bagaimana bisa kamu telat masuk padahal kan hanya buang air kecil ",tanya Ningsih dengan wajah penuh kekhawatiran.


" Ah..nggak apa-apa kok,tadi...aku..cuma terpeleset,jadi..agak sakit saat berjalan,jadinya telat deh,dan nggak usah sedih lagi dong...lihat bagaimana wajahmu sekarang kamu nggak cantik saat ngambek loh",ucap Tari agar temannya itu tidak khawatir padanya, dan terpaksa ia berbohong pada sahabatnya itu,ia tak mau Ningsih ikut campur dan juga menjadi korban seperti dirinya.Dimas yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Tari saat berbicara merasakan ada sesuatu yang aneh,seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan namun ia diam hanya mengamati.


"Ah kamu ini...coba kamu punya ponsel dong..biar kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku kapan saja", ucap Ningsih .


" Emmm,sebenarnya aku punya ponsel..",kata Tari ragu.

__ADS_1


"Hah!,benarkah kamu punya?, kok nggak pernah bilang?",


" Bu...bukan begitu.. maksudku..sebenarnya aku baru saja dibelikan oleh mas Bima,tapi aku tinggal dirumah,karena aku takut kalau tidak boleh bawa ppnsel ke sekolah",jawabnya jujur,memang benar bahwa Bima lah yang membelikan nya ponsel itu.


"Oh..aku beritahu ya di sini nggak masalah bawa ponsel,asal kamu jangan menyimpan sesuatu yang aneh di ponselmu,dan terkadang ponselmu bisa berguna dan dianjurkan oleh guru untuk mempermudah pembelajaran,tapi...kamu tadi bilang mas Bima,masnya Dimas?",ucapan Ningsih seraya melirik ke arah Dimas ,entah mengapa ucapan Ningsih kali ini membuat Dimas merasa tak nyaman, tiba-tiba ia marah namun ia tahan,ia marah karena mengingat bahwa niatnya membelikan ponsel untuk Tari, sudah didahului oleh orang lain dan orang itu adalah masnya sendiri,Ia pun langsung berdiri dan melangkah membuka kenop pintu serta keluar begitu saja.Tari dan Ningsih yang melihat hal itu pun hanya bisa tercengang tak mengerti.


" Ah,Tari ini bubur buatmu,aku sengaja nggak beli bakso karena sesuai kondisi mu lebih baik kamu makan bubur,cepat makan dan setelah ini kalau kamu masih lelah kamu nggak usah masuk dulu,biar aku nanti memberitahu pada guru pelajaran berikutnya",kata Ningsih memberi saran.Tari hanya mengangguk mengiyakan mendapat Ningsih.


_ _ _ _ _ _


Siang itu Tari tengah mencuci piring bekas makan siang didapur,tak berapa lama cuciannya pun selesai,dilihatnya sekitar dapur dan ruang tamu semua sudah bersih,ia pun Kemudian melangkah menuju ke kamarnya untuk istirahat sejenak,belum sempat ia duduk tiba\-tiba ponselnya berbunyi, ia pun segera meraih ponsel di atas mejanya.


"Bima is calling...",Tari yang melihat nama itu pun terkejut, sejak kapan kontak mas Bima ada di sini, fikirnya.Tapi...entahlah yang penting ia harus segera mengangkat telepon itu.


"Hallo..Tari sedang apa kamu sekarang?",kata bima di dalam telepon.


" Sa..saya sedang istirahat di kamar",


"Sudah makan siang?", tanya Bima lagi

__ADS_1


" Sudah",jawab Tari singkat,lalu telepon itu pun hening sejenak.


"Em....Tari,"


"Ya..",


" Aku.....kamu..mau tidak hari minggu nanti aku ajak keluar lagi?",mendengar ajakan Bima jujur saja membuat ia terkejut,rasa terkejut bercampur senang ia sangat senang bisa selalu dekat dengan pujaan hatinya itu.


"Hallo,hallo...Tari..apa kamu masih disana", kata Bima yang sejak tadi tak mendengar suara Tari." Bagaimana, kamu mau?",


"Ke...kemana?", tanyanya ragu.


" Ah tenang saja,aku tak akan membawamu ketempat macam-macam, aku akan membawamu ke tempat yang mungkin kamu akan sukai",Jawab Bima,


"Em..saya...sih mau tapi saya harus izin dulu pada tante Sulis",


" Tidak perlu,aku sudah minta izin kamu tinggal siap-siap berangkat saja",,ada rasa penasaran di hatinya ia ingin bertanya namun ia merasa canggung jika terus bertanya pada Bima.


"Kalau gitu aku tutup dulu ya...",

__ADS_1


" I..iya",jawab Tari mengiyakan,seraya menutup telepon. Setelah menutup telepon itu,jantungnya berdegup kencang tak beraturan,di taruhnya tangannya didadanya detak itu terasa nyata,berulang kali ia memastikan namun jantung nya tak kunjung berhenti berdetak.


"Aku sungguh penasaran dan tak sabar",kata Tari bicara sendiri sambil tersenyum.


__ADS_2