Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Apakah aku marah padanya?.


__ADS_3

"Selama rembulan ku tak lagi menyinariku,entah mengapa komet itu selalu melintas dan kini tanpa sadar aku selalu memperhatian nya".


Masih dalam perjalanan pulang,namun Tari dibuat bingung oleh Dimas, entah mengapa ia merasa kalau Dimas membawanya ke jalur yang salah, awalnya ia hanya diam ia fikir mungkin Dimas ingin mencari alternatif jalan lain.Namun makin lama kenapa makin terasa aneh sejak tadi mereka tak kunjung sampai pada tujuan.


"Puk...puk", Tari menepuk pundak Dimas.


" Apaan sih",Jawab Dimas tak terlalu jelas namun Tari masih bisa mendengar nya.


"Sebenarnya kita ini kemana", tanya Tari sedikit berteriak agar Dimas mendengarnya.


"Gue mau bawa lo ke suatu tempat",jawaban Dimas kini membuatnya terdiam,seketika banyak hal aneh yang kini ia fikirkan,


" Kemana ia sebenarnya mau membawaku,apa aku mau disekap ,dijual ke pasar gelap dan...dan..",fikirannya kalut, banyak hal negatif yang ia fikirkan.


"Pukk..pukk..",Tari sekali lagi menepuk pundak Dimas dan kali ini agak keras hingga membuat Dimas sedikit marah.


" Apaan sih,kok tiba-tiba mukul gue?",


"Berhenti disini,turun kan aku disini",


" Apa?,lo gila ya ngapain juga lo turun disini rumah kan masih jauh",


"Berhenti,ku bilang cepat berhenti!", perintah Tari sambil kembali memukul bahu Dimas, Dimas yang merasakan sakit pun terpaksa menurut menghentikan sepeda motornya. Tari pun segera turun dan berjalan menjauh dari Dimas,padahal ia pun tak tahu jalan dan tak tahu hendak kemana, yang ia fikirkan kini hanyalah kabur dari Dimas secepatnya.

__ADS_1


" Tari....tunggu.. lo jangan kesana ",teriak Dimas namun tak dihiraukan oleh Tari,ia hanya terus berjalan dengan cepat.


" Tari tunggu, jangan lari lo,"ucap Dimas yang terus mengejarnya.Tari yang merasa takut pun lantas berlari dengan sekuat tenaga.


"Ya Tuhan tolong Selamat kan aku,"Ucap Tari dalam hati.


"Kenapa sih tuh cewek kok malah lari,kerasukan ya?", gumamnya seraya berlari mengejar.Tari sekuat tenaga berlari ia sungguh sangat takut sekarang,sesekali ia menoleh kebelakang Dimas ternyata masih mengejarnya ia terus saja berlari hingga akhirnya langkahnya terhenti,bagaimana tidak



dihadapannya kini sudah tak ada jalan lagi,ia hanya melihat sebuah gudang yang sangat besar dan sepi,tak terlihat satu orang pun yang melintas.


" Ya Tuhan, apakah Ini tempat dimana Dimas dan teman-temannya akan menyekapku,memutilasi,dan *menjual* organ tubuh ku,aku tak menyangka bahwa hari ini adalah hari terakhirku,aku bahkan belum bahagia, adik dan nenek juga bahkan....",ucap nya dalam hati seraya berjalan mundur,tubuhnya bergetar, ia benar-benar sangat takut,tiba-tiba seseorang menahan dirinya dari belakang. Ia pun terkejut,sontak saja ia langsung menjauh,


"Hahh....hahh...,lo kenapa sih tiba-tiba lari gue susah ngejar lo tau", ucap Dimas.Tiba-tiba Tari langsung tersungkur di kaki Dimas,Dimas pun kaget dengan apa yang dilakukan Tari.


"To..tolong jangan lakukan ini,tolong biarkan aku pergi,tolong jangan bunuh aku,hiks..aku janji aku tak akan memberitahu siapa pun".


" Bunuh,apa maksud lo?",Tari yang mendengar dimas terkejut pun mendongak,ia pun mengatakan semua apa yang ia fikirkan, Dimas yang mendengar nya pun terbelalak,ia pun kini jongkok agar wajahnya sejajar dengan Tari.


"Sebegitu jahatnya kah gue dimata lo,bahkan sepertinya lo nggak pernah berfikir fositif sama sekali terhadap gue,asal lo tahu ya sebenci apa pun gue sama orang,tapi gue nggak pernah sampai ngelakuin hal kayak gitu, itu terlalu kejam,gue sebenarnya cuman mau ngajak lo beli helm di tempat teman gue," jelasnya pada Tari, Tari kini terdiam seribu bahasa kalau difikir-fikir lagi tuduhannya barusan sangatlah kejam siapa yang tak akan marah jika di tuduh begitu.


" Ya udah, sekarang berdiri kita harus lekas pulang",ucap Dimas seraya berdiri.

__ADS_1


Mereka berdua kini sampai di tempat dimana motor Dimas berada, Dimas kini memasang helmnya dan menaiki sepeda motornya.


"Hei Tari, kenapa nggak naik ayo cepat lo nggak mau pulang", ucapnya,terdengar jelas nada suara itu bagi Tari,Dimas pasti marah padanya.


" Maaf",kata Tari.


"Buat apa?", jawab Dimas.


"Aku tahu kamu pasti marah,aku tahu aku sudah bicara keterlaluan jadi tolong maafkan aku", ucap nya seraya menunduk.


" Udahlah,gue nggak marah ayo cepat naik",Tari pun menurut naik,selama perjalanan pulang pun ia masih merasa gelisah bahwa Dimas sebenarnya masih marah padanya,ini pertama kalinya dalam hidupnua ia merasa menyakiti hati orang lain.


Sekitar jam dua belas siang,mereka berdua kini telah sampai di halaman rumah,Tari segera turun,tiba-tiba ia merasa pusing,entah mengapa ia meresa pandangannya semakin tak jelas,hingga memjadi gelap.


"Brukkk",Dimas yang tadi membelakangi Tari karena sedang memposisikan motornya itu pun menoleh karena mendengar seperti ada yang terjatuh,matanya terbelalak karena mendapati Tari yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di tanah.


" Tari..,hei Tari bangun!"ucapnya seraya menepuk pipi Tari pelan,karena tak ada respon sedikit pun dari Tari ia pun panik dan tanpa fikir panjang ia pun menggendong Tari dan segera membawanya masuk.Kini Dimas masuk ke kamar Tari, ia segera membaringkan tari di kasurnya,saat Dimas ingin berdiri tiba-tiba saja kancing jaketnya tersangkut di rambut gadis itu,sontak saja wajah mereka kini begitu dekat,karena begitu dekat Dimas pun lantas memperhatikan wajah gadis itu kini posisinya duduk di samping Tari,wajah itu agak berbeda saat dulu pertama kali ia datang kesini,sekarang begitu putih dan mulus mata dan hidung yang indah,serta bibir yang mungil,walau pun terlihat pucat namun masih terlihat indah,


"Cantik", gumamnya pelan.


tanpa sadar Dimas pun mendekatkan wajahnya ke wajah Tari.


"Cup",bibirnya kini sudah mendarat dibibir mungil gadis itu,entah mengapa bibir itu membuatnya tenggelam, hingga tak sadar ia pun menejamkan matanya menikmati ciuman itu,ciuman yang hanya ia sendiri yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2