Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Semakin dekat.


__ADS_3

"*Ya Tuhan, apakah harapan yang selama ini kudambakan akan memjadi nyata,aku merasa rembulan itu semakin dekat,hingga hampir bisa aku gapai dan kurasakan cahayanya yang bahkan ternyata terasa begitu hangat* ".



Besok adalah hari yang dinanti\-nanti oleh Tari,ia tengah menyiapkan sarapan sambil tersenyum\-senyum sendiri,bu Minah yang melihat tingkah lakunya pun hanya tersenyum,beliau tak mau bertanya,namun beliau sudah tahu jika gadis belia itu kini sedang bagus suasana hatinya.Setelah selesai mempersiapkan sarapan pagi seperti biasa ia pun akan ikut sarapan bersama,ia kini tersipu malu ia tak fokus memakan sarapan nya,pasalnya dua pasang mata kini sedang memperhatikan nya,Bima yang sejak tadi memperhatikannya sambil tersenyum,bayangkan saja siapa yang tak salah tingkah jika seseorang yang dikagumi kini sedang memperhatikan dengan senyumnya yang mempesona ,senyum yang bagai senyum sang arjuna yang mampu memanah hati gadis mana pun hanya dengan senyum tipis nan manis itu,namun saat pandangan beralih ke sisi lainnya,tatapan mata orang itu sungguh sangat menganggu,memang wajahnya yang tak kalah tampannya itu juga bisa menghipnotis siapa saja yang melihatnya,namun siapa yang suka jika terus dipandang sinis,entah apa yang ia fikirkan tentang Tari,namun Tari yang berusaha menyembunyikan kegelisahannya itu hanya menunduk dan mempercepat durasi makannya agar bisa segera pergi serta leluasa tanpa tatapan sinis itu.



Tari kini sedang melangkah menuju kantin bersama sahabat baiknya Ningsih.Mereka berdua masuk ke kantin yang biasanya.


"Bu Wati cantik biasa....", ucap Ningsih pada ibu kantin yang sudah faham dengan apa yang ia maksud.


" Ok ",jawab ibu wati singkat.Sementara mereka berdua menunggu pesanan datang, sengaja berbincang sambil memegang ponsel Tari yang dibelikan oleh Bima.Ningsih mengajari Tari berbagai hal yang bisa dilakukan dengan ponsel,maklum Tari memang tak pernah memiliki ponsel yang canggih seperti itu sehingga perlu banyak bimbingan.


Terdengar seperti ada yang mendekati kantin itu,dan kini sudah melangkah masuk, dua orang siswa yang masuk itu membuat seluruh orang di kantin histeris,namun Tari dan Ningsih tidak menyadari karena sedang asik sendiri,Dimas dan Max kini sudah berada di dalam kantin,sedang berdiri di depan meja pesanan tengah membaca daftar menu,Dimas mendongak membaca apa saja menu kantin itu,

__ADS_1


"Hei,cowok-cowok ganteng mau pesan apa ya?",tanya bu Wati dengan candaan khasnya yang humoris.


" Ah tante cantik saya pesan baksonya satu,kalau kamu Dimas... mau pesan apa",tanya Max pada Dimas,namun tak ada jawaban,ternyata ia sedang memperhatikan dua orang siswi yang tengah duduk di antara meja makan sedang merbincang dengan seorang siswa yang tengah tertawa ria,dan sepertinya orang itu sangat familiar.Dimas pun mengerutkan dahinya,


"Ridho?", gumamnya mengenali orang itu.


" Dim...Dimas",


"Apa".


" Terserah lo aja gue tunggu di sana",ucapnya menunjuk meja yang dekat dengan meja Tari.Ia pun melangkah dan duduk di meja yang dimaksud,awalnya ia tak mau perduli dengan ketiga orang itu namun suara tawa yang sangat ia kenal membuatnya terdorong untuk melirik ketiga orang itu.Gadis itu tengah tertawa lepas seakan tanpa beban,sesekali ia juga memandang tatapan Ridho, terlihat jelas perbedaan cara pandang laki-laki itu ia tersemyum saat melihat gadis itu tertawa.


"Heh,apa dia suka sama tuh cewek rese,buta kali dia apa sih yang menarik dari cewek satu itu?", gumam Dimas pelan kemudian membuang pandangan nya.Tak lama Max pun datang membawa pesanan yang tadi mereka pesan.


_ _ _ _ _ _ _ _

__ADS_1


Sekitar jam sepuluh pagi,Tari kini tengah duduk didepan meja rias dikamarnya,berulang kali ia bercermin namun entah mengapa ia masih tak percaya diri dengan tampilannya,rambut di kuncir satu,dengan mengenakan baju sweater bergambar karakrer kartun Doraemon dengan mengenakan celana jeans hitam,itulah style yang selalu ia terapkan ia tak pernah berdandan terlalu feminim karena merasa tak cocok dengannya.


" Apa seperti ini tidak apa-apa, apakah terlihat seperti anak dibawah umur,apa aku harus memakai minidress dan sedikit riasan kah?",gumamnya bicara pada dirinya sendiri.


Dengan penuh pertimbangan akhirnya Tari memutuskan memakai lipstik yang tipis dan segera keluar dari kamarnya.


Bima sudah menunggu,ia kini sedang bersandar di depan mobilnya sambil memainkan ponselnya.


"Mas Bima!", teriak Tari.Bima yang mendengar panggilan itu lantas memandang ke arah sumber suara ia menatap sosok gadis yang kini berjalan di depannya, gadis itu semakin mendekat dengan senyum manisnya,yang membuat Bima sekejab terpana melihat senyum yang begitu indah bak bunga mekar,yang tentu membuat para kumbang ingin mendekat dan mencicipi madunya yang manis.


" Mas,mas Bima ",ucap Tari yang mengejutkan lamunan Bima.


" Ya,oh ayo kita berangkat",ucap Bima.


"Iya", jawab Tari seraya masuk ke dalam mobil yang dibukakan oleh Bima diikuti Bima yang juga masuk kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2