Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Sesempit Inikah Dunia?.


__ADS_3

"Dari sekian orang orang didunia ini kenapa aku selalu bertemu orang seperti ini?,entahlah......".


Dear:Tari.


Hari ini sepertinya akan menjadi pagi yang cerah,terlihat suasana yang masih pagi namun, sang mentari sudah memperlihatkan sinarnya yang menggambarkan semangat nya untuk menyinari luasnya dunia.


"Tari kamu sebenarnya dimana, aku kangen sekali denganmu apa kamu juga tidak kangen sama aku",ucap Ningsih sambil mengusap pelan foto Tari bersamanya di ponselnya.Ia sangat rindu dengan sahabatnya itu bahkan sampai sekarang belum ada orang lain yang bisa menggantikan sahabatnya itu, dan mungkin ia tak kan bisa lagi bertemu dengan orang sebaik temannya itu.


"Nona muda... ayo cepat bersiap-siap nanti nona terlambat", teriak pembantu nya dari luar kamar nya


" Iya tunggu sebentar ",Jawab nya.


Ia pun langsung menyimpan ponselnya di saku dan membawa tasnya keluar dari kamar.


_ _ _ _ _ _ _ _


Disebuah pasar yang terletak di daerah Bogor kini tengah ramai, seperti biasanya akhir pekan adalah saat dimana pasar akan lebih ramai dari biasanya karena hari libur.


Ramainya pasar itu juga menyibukkan beberapa karyawan di sebuah toko sembako yang lumayan besar,toko itu benar-benar sangat ramai hari ini,terlihat dari para karyawan yang tengah sibuk kesana kemari melayani para pelanggan yang sejak pagi tadi sudah memadati toko itu.


" Saya tolong timbangkan gulanya dua kilo dan beras satu karung lima kilo",ucap seorang wanita yang merupakan pelanggan toko itu.


"Tunggu sebentar ya,biar saya timbangkan", ucap tari ramah pada pembeli itu.


" Ini gulanya dan ini adalah berasnya,gulanya tiga puluh enam ribu dan berasnya enam puluh ribu,jadi semuanya menjadi sembilan puluh enam ribu ya bu",ucapnya seraya menghitung dengan cepat tanpa menggunakan kalkulator.


"Ini uangnya", ucap ibu itu seraya menyerahkan sejumlah uang yang tadi disebutkan.

__ADS_1


" Ya pas,terimakasih bu silahkan datang lagi ",ucapnya dengan katanya yang ramah.


" Haah...syukurlah,hari ini ramai sekali memang akhir pekan adalah hari yang menguntungkan pasti ibu bos Yanti senang",ucapnya tersenyum seraya mengusap teringat nya.


Tanpa disadari olehnya sepasang mata tengah memantaunya dari jarak yang lumayan dekat.Pemilik mata itu adalah bu Yasmin bos dari toko sembako tempat ia kini bekerja.


Wanita paruh baya kira-kira berumur sudah lebih dari lima puluh tahun,dengan rambut panjang diatas bahu dan sedikit ubannya yang sudah jelas melambangkan akan usianya.


"Tari", panggil nya pada Tari yang tengah berbicara pada teman satu toko yang sudah mulai akrab padanya,Tari yang mendengar. namanya dipanggil lantas menoleh.


" Ya bu",Jawab nya yang menyadari bahwa bos nya lah yang memanggil nya.


"Ini untuk mu", ucap ibu Yanti seraya menyodorkan uang sejumlah lima puluh ribu padanya.


" Ini uang apa ya bu?",tanyanya bingung,padahal ia tidak ingat bahwa ia bilang ingin meminjam uang.


"Ini untukmu, ambil lah!",suruh bos nya yang bersi keras mau memberi nya uang ,namun ia malah tak berbicara dengan wajah yang bingung.


"Apakah hanya saya yang menerima uang ini?", tanyanya lagi.


" Ya,tentu saja".


"Maaf,tapi saya tidak bisa menerima uang ini", jawabnya dengan tegas,mendengar pernyataan dari Tari,kini giliran bosnya yang bingung, bagaimana bisa dengan begitu mudahnya gadis itu menolak tawarannya.


" Kenapa? ",


"Seperti yang ibu katakan sebelumnya, saya memang sedang membutuhkan uang,karena saya hanya hidup seorang diri dan membiayai semua keperluan saya sendiri, tapi saya tidak bisa menerima uang itu karena saya rasa ini sangat lah tidak adil bagi karyawan lainnya, bukan hanya saya yang bekerja keras disini, mereka semua juga ikut ambil bagian dalam pekerjaan hari ini dan seterusnya,jika bukan tanpa adanya bantuan mereka bagaiman mungkin saya bisa melayani pembeli yang begitu banyak itu,kita semua sama dan cara pelayanan dan sikap ramah pada pelanggan tidak bisa di kaitkan dengan ini,jadi saya mohon maaf sekali lagi,saya tak bisa menerima nya,"jelas nya panjang lebar,seraya tertunduk tak berani menatap wajah bosnya yang pasti sedang menatap nya marah sekarang karena kelancangannya.

__ADS_1


Namun apa yang terjadi adalah sebaliknya,bukannya marah beliau malah tersenyum-senyum sendiri melihat gadis yang tengah berdiri dihadapannya itu,ia kagum akan sikap dan prinsip gadis belia itu,dengan jujur tanpa memikirkan kata yang tepat ia dengan mudahnya mengatakan apa yang ada di benaknya,dan tanpa diduga pula merupakan seseorang dengan keperibadian yang bijak dan setia kawan,sungguh sukar untuk dicari,dan kurasa ia pasti adalah orang tepat untuk menjadi istri dari keponakan ku yang keras kepala itu,fikirnya.


"Ah..kalau begitu,begini saja,kamu ambil uang ini dan kamu boleh membelikannya apa saja untuk kau bagi bersam semua orang di toko ini,bagaimana?" ucapnya yang masih memaksa gadis itu untuk menerima uangnya.


"Benar kah?,apakah boleh kalau saya berbagi pada teman-teman?",tanyanya dengan wajah sumringah.


" Iya",


"Terimakasih bu,saya akan membeli beberapa makanan,dan jika boleh saya minta izin keluar sebentar untuk membeli nya",


" Ya silahkan ".


Ia pun segera melangkah dengan semangat, dan saat ia berbalik tanpa di duga ia menabrak seseorang,ia sedikit terdorong kebelakang karena benturan itu, dan ia pun lantas mencoba melihat orang yang ia tabrak itu.


"Ma....af", ucapnya terbelalak tak percaya setelah melihat siapa orang yang telah ia tabrak tadi


" Elang,ka...kamu sedang apa kamu disini?,"tanya Tari gagap,karena orang itu adalah orang yang ia kenali betul,dan orang yang berusaha ia hindari.


"Heh,seharusnya itu pertanyaan ku sedang apa kamu disini?",ucap Elang dengan wajah kesal.


" Wah kalian berdua ternyata saling mengenal,memang sudah takdir ya",kata bosnya.


"Maksudnya?", ucap Tari dan Elang berbarengan.


" Wah bahkan bisa berbarengan gitu,kalian memang sangat cocok ",ucap ibu Yanti lagi dengan senyum-senyum.


" Apa maksud tante,aku sama dia cocok,nggak dan siapa juga yang suka sama dia",ucap Elang marah.Sementara Tari malah bengong sendiri.

__ADS_1


"Tante?,jadi dia adalah keponkannya bu Yanti?,astaga apakah dunia sesempit ini",


ucapnya dalam hati.


__ADS_2