
"Hari ini adalah hari yang sangat bahagia, mas Bima.. eh,maksudnya kekasihku mengajakku keluar dan membelikaku sebuah gaun, dan yang paling berkesan adalah ia menciumku saat kami diluar rumah, aku malu namun sebenarnya bahagia,tapi apakah aku berhak atas semua ini?".
Dear:Tari**.
Dimas kini masih tengah mencari Tari dan mas nya,namun sudah sekitar sepuluh menit ia mengelilingi mal yang begitu besar itu,namun tak kunjung menemukan jejak,ia mulai merasa kesal dan sepuluh menit adalah waktu yang sangat lama baginya, ia paling tak suka menunggu,menunggu adalah hal yang paling ia benci.
"Sialan!,kemana sih mereka berdua susah banget nyarinya seperti ditelan bumi",gerutunya pelan seraya berjalan masih menelusuri mal itu.
Ia mencoba masuk kebeberapa butik dan toko baju,namun nihil,tak ada satu pun tanda keberadaan mereka berdua, sejak tadi hanya ada beberapa kaum hawa yang mencoba mendekati dan meminta nomor ponselnya, namun ia sama sekali tak memghiraukan mereka yang ia tahu sekarang adalah menemukan dua orang itu.
Ia kini tengah berjalan dengan terburu-buru tak tertarik lagi rasanya ia masuk beberapa butik untuk memcari,ia kini hanya melihat sekilas dari depan seraya melangkah. Namun langkahnya terhenti didepan sebuah toko busana yang ada di dekat sudut jejeran butik lainnya,ia mendengar suara seseorang yang begitu ia kenali,adalah suara Tari,ia pun berhenti dan masuk ke dalam berpura-pura sedang memilih baju,dan ia pun menatap dua orang disana.
" Mas Bima!, apakah ini sudah cocok?,tanya Tari untuk yang kesekian kalinya.
"Emm...kurang cocok, sebaiknya cari yang lain, ini kurang cocok denganmu",Ucapnya, Tari yang sudah menduga pun hanya bisa pasrah dan kembali mencari gaun yang lainnya.Saat beberapa lama ia pun mulai mengenakan satu gaun lagi dan masuk ke ruang ganti.
"Mudah-mudahan saja baju ini adalah yang berakhir", gumam Tari seorang diri di dalam sana.Setelah beberapa menit ia pun keluar dengan mengenakan gaun yang tadi ia pilih.
__ADS_1
" Nah!,yang ini bagaimana mas,apakah sudah cocok ",tanya Tari dengan action ala-ala anak dari konglomerat,padahal ia sendiri pun ingin tertawa tapi ia tahan.
Bima yang sejak tadi menunggu sambil melihat brosur pun menoleh mendengar Tari memanggil nya,matanya terbelalak dan pipinya pun sedikit merona saat melihat Tari mengenakan gaun itu,bagaimana tidak perpaduan warna dan kulitnya sangat serasi,apalagi gaun itu tanpa lengan sehingga bahunya yang mulus pun terlihat dengan jelas,tak hanya Bima,Dimas yang sejak tadi mengawasi mereka pun ikut terperangah, baru pertama kali nya ia melihat Tari berpakaian seperti itu,sungguh sangat berbeda,seketika terlihat seperti gadis yang cantik dan elegan,sehingga tanpa sadar wajahnya juga merona, apalagi saat ia melihat kearah kaki yang agak terbuka itu.
" Itu si cewek kampung?",gumamnya pelan.
" Cantik sekali,kita akan pilih gaun ini sangat cocok denganmu",ucap Bima seraya mendekat dan menggenggam lembut jari jemari gadis itu.
"Sial!", umpat Dimas dalam hati,entah memgapa ia marah saat masnya menyentuh tangan itu,ini sudah kesekian kalinya ia banget,saat melihat hal seperti ini,namun ia masih belum mengerti,dan lebih tepatnya masih tidak mau mengerti dengan perasaannya sendiri.
" Ayo kita pulang!, semua sudah beres",ucap Bima setelah mereka sudah selesai membeli gaun dan highthells itu.
"Kak,"
" Apakah kakak sudah mendapat baju yang cocok?, jika belum biar saya promosikan untuk kakak dan sepertinya kakak akan cocok memakai apa saja karena kakak tampan ",ucap karyawati yang tadi menegurnya.Dimas sejak tadi tak terlalu perduli dengan apa yang di ucap kan gadis itu, ia menengok kesana kemari mencari keberadaan Tari dan masnya.
" Bagaimana, aku akan memberikan potongan harga kalau kakak membeli dan memberi ku nomor ponsel ",tawar gadis itu yang mulai berani menyentuh tangannya.
" Ti...tidak terimakasih aku pergi dulu",ucapnya menjauh seraya bergegas pergi,
"Oh astaga..tuh cewek serem banget, merinding gue pas disentuh", gumamnya seraya berlari menjauh dari butik itu.
__ADS_1
_ _ _ _ _ _ _ _
Mereka berdua kini sudah sampai di halaman rumah, Tari bergegas keluar dari mobil, diikuti oleh Bima.
" Terimakasih ya mas bima,sudah mengajak saya belanja dan bahkan membelikan sebuah gaun dan sepatu yang mahal,saya janji saya akan menggantinya jika saya sudah punya uang",ucap Tari yang masih di depan pintu mobil.
"Tidak masalah,kamu tak perlu membayarnya kan aku membelikannya memang atas kemauanku,dan satu lagi berhenti lah menggunakan kata " saya",aku merasa tak nyaman karena sekarang kamu adalah kekasihku,mengerti!",ucap nya pada Tari.
Dimas yang mendengar nya dari depan pagar pun terkejut,
"Apa,mereka sudah pacaran,sejak kapan?,gumamnya, dan ia pun kembali berbalik untuk menguping pembicaraan mereka yang lain,namun apa yang ia lihat nembuat matanya terbelalak, kini ia tengah menyaksikan masnya sedang mencium bibir gadis itu tepat di depan matanya, ditambah lagi gadis itu hanya menerima nya tanpa berontak sedikit pun.
" Sial!",ucapnya seraya mengepal kan tangannya, hampir saja ia keluar dari sana dan menampar masnya karena sudah mencium Tari.
Tapi ia tersadar, apa haknya marah dan memukul masnya,toh pada kenyataan nya Tari kini memang sudah menjadi wanita dari masnya.
"Sial,sial,sialan...",umpatnya dalam hati,meski hatinya sakit namun apa yang bisa ia perbuat selain tetap bersembunyi dan menyaksikan semuanya.
Setelah itu dua insan itu pun saling pandang,wajah Tari kini merah padam,meski ini bukan pertama kalinya, namun tetap saja ia masih gugup,apalagi ini di depan rumah bagaimana kalau ada yang meliha.
" Mas ayo masuk,bagaimana kalau ada yang melihat ",
__ADS_1
" Memang Kenapa?, ku beritahu saja kalau kau kekasihku beres kan?",
Tari tak mampu lagi bicara,ia benar-benar malu dan langsung berjalan masuk dengan terburu-buru. Bima yang melihatnya pun hanya tersenyum dan mengikuti nya dari belakang.