
Dari pagi,siang,hingga sore Dimas hanya dirumah seharian,hal ini baru kali ini terjadi,biasanya ia tak betah tinggal dirumah meski hanya sebentar saja ,namun kali ini ia tak tertarik pergi keluar dan bahkan menolak ajakan dari teman baiknya Max.Ada rasa gelisah di hatinya,seperti sore ini hal yang tak biasa ia lakukan bahkan ia lakukan entah hanya sekedar membuang jenuh atau maksud lain,ibunya pun menyadari perubahan pada putra bungsunya itu,namun ia hanya tersenyum dan memlilih diam,Dimas kini tengah menyirami taman bunga yang biasanya di lakukan oleh Tari.Sesekali ia menengok ke arah gerbang barang kali ada yang datang,bukan menunggu kedatangan ayahnya,bukan kakaknya atau orang lain kali ini ia sedang menunggu kedatangan gadis sebayanya itu yang tak kunjung pulang.
"Kemana tuh cewek,kok nggak nongol-nongol sih jangan bilang dia pura-pura ketinggalan bus dan menggunakan kesempatan itu buat bermalas-malasan di rumahnya", gumamnya sendiri sambil memegang selang air seraya menyirami bunga-bunga.
Hari kini sudah petang namun Tari tak kunjung datang,rasa sepi kini benar-benar dirasakan oleh Dimas berulang kali menengok lantai bawah,namun gadis itu tak kunjung datang.
" Ma aku pulang",suara Bima yang melangkah masuk ke dalam,lalu duduk di ruang Tamu.Kini pandangannya sedang menyapu seluruh ruangan seperti mencari sesuatu.Ia pun bertanya pada ibunya yang kini sedang duduk di sebelahnya sambil memegang ponselnya.
"Ma,Tari kok nggak kelihatan,belum datang ya",
" Iya mama juga khawatir,katanya sore sudah mau pulang,ini mama baru mau telepon bapak Dhanu biar menjemput Tari."jawab ibunya mengacungkan ponselnya.
"Ma nggak perlu, nggak perlu merepotkan paman Dhanu ,beritahu aku alamatnya biar aku yang jemput Tari,"ucap Bima dengan wajah cemas ibunya yang menyadari kekhawatiran Bima awalnya terkejut,namun ibunya menuruti saja dan memberitahu alamat rumah Tari.
__ADS_1
_ _ _ _ _
Bima kini melaju dengan kecepatan yang melebihi kecepatan biasa ia berkendara,rasa khawatir mengalahkan rasa takut nya akan resiko dari kecepatannya.Ia pun mengambil telepon genggamnya.
" Aishhh,aku lupa kalau ia tak punya handphone",ucapnya gusar sambil mengacak kasar rambutnya dengan sebelah tangannya.
Tari kini sedang membantu neneknya membuat makan malam,sebenarnya bukannya ia lupa akan kembali kerumah keluarga Bagus Sutrisno,namun karena ketinggalan jadwal keberangkatan membuatnya tak bisa berbuat banyak.Namun jam 08:00 malam ini ada keberangkatan menuju daerah Tanah Abang,dimana rumah majikannya itu berada,namun sebelum itu ia nenyempatkan diri membantu neneknya dan makan malam yang mungkin akan sulit lagi terulang,jadi Tari tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Setelah Tari,nenek dan adiknya sudah selesai makan,Tari pun bersiap-siap untuk menuju terminal mengejar keberangkatan berikutnya.
Tari pun berpamitan pada nenek dan adiknya isak tangis pun kembali tercurai melepas kepergian Tari,sebenarnya Tari masih ingin lama-lama bersama dengan keluarga kecilnya itu namun,tanggung jawab akan pekerjaannya pada keluarga yang telah mengubah hidupnya membuatnya rela mengesampingkan rasa egonya.
" Nek,Tari berangkat dulu..nanti kalau ada kesempatan pasti Tari akan pulang hiks...dan Bayu kamu harus jadi anak baik jangan nakal dan menyusahkan nenek dan harus rajin belajar hiks..nanti kalau kamu dapat juara kakak akan menabung dan membelikan mu hadiah",ucap nya sesegukkan.
__ADS_1
"Ya kak..Bayu janji akan menjaga nenek", ucapnya pada kakaknya hingga membuat Tari merasa bahagia akan tekad adiknya.
Kemidian Tari pun mulai melangkah walau berat langkahnya meninggalkan kedua orang yang sangat ia sayangi itu,tak jauh dari rumahnya ada sebuah mobil yang singgah di pinggir jalan kaca mobil itu terbuka dan sosok pria didalam mobil,orang itu seperti sedang mengawasinya namun ia tetap berjalan,berjalan setengah berlari,ia takut kalau mungkin orang itu penculik atau sebagainya.
" Tari...",seseorang memanggil namanya, suara yang terdengar familiar, ia pun berbalik dan kaget karena orang yang tadi memanggilnya itu kini sudah berdiri tepat dihadapannya, dan matanya terbelalak Setelah melihat wajah orang itu.
"Mas Bima,ba..bagaimana mas Bima ada disini, dan....", belum sempat Tari selesai bicara tangan itu kini sudah menariknya kedalam pelukan seorang Bima,tubuhnya seketika lemas,dada bidang itu kini tepat berada di wajahnya sehingga tak ayal jika Tari bisa dengan jelas mendengar detak jantung pria itu,detak jantung itu begitu cepat,namun tak begitu jelas karena jantungnya pun kini juga berdegup kencang.Jadi,ia menganggap kalau ia hanya salah dengar,ia mulai terbangun dari lamunannya pun sontak melepas pelukan Bima ia kini tertunduk tak berani menatap Bima yang kini sedang memperhatikannya.
" Mas Bima...ke..kenapa malam-malam bisa ada di sini?",ucap ragu namun masih menunduk.
"Aku mau menjemputmu,semua orang khawatir karena kamu tak kunjung kembali kami takut terjadi sesuatu padamu,jadi aku langsung kesini mencarimu", ucapnya menjelaskan.
" Maaf,tadi saya...."
"Sudahlah..nanti saja kamu menjelaskannya,sekarang ayo pulang...ini sudah larut besok kau harus ke sekolah"
"Baik dan...mas Bima terimakasih," ucapnya pada Bima,dan dibalas senyum oleh Bima tanda mengiyakan.Kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil dan segera meninggal kan tempat itu.
__ADS_1