Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Penasaran.


__ADS_3

"Kini akan segera ku tempatkan kau di sampingku wahai bintang kecilku". 


Kini dua orang itu tengah duduk di meja belajar yang ada di kamar Dimas Tari yang duduk persis di sebelah kanan dimas itu tengah membolak balikan beberapa buku dengan wajah serius,namun jika diperhatikan dari dekat bukan mereka berdua yang serius namun hanya Tari, hanya Tari yang sibuk mencari jawaban dari PR tersebut, Dimas yang sejak tadi ternyata hanya menahan tawa saat melihat ekspresi Tari yang sepertinya sedang kesulitan.


 


"Ffttt", tawa Dimas pelan ia tak mampu lagi menahannya.


" Apa yang kamu tertawakan?",tanya Tari dengan wajah kesal,moodnya sudah rusak sejak Dimas memaksanya mengerjakan PR, ditambah lagi ia malah seperti tak menghargai usahanya itu.


"Nggak,nggak ada kok, gue cuman teringat hal yang lucu", ucap nya pura-pura berwajah serius.


" Dimas!,tolong deh coba hargain sedikit dong ,aku udah rela luangin waktu buat ngajarin kamu aku juga perlu belajar dan mengerjakan PR ku, tapi kamu malah main-main,kalau kamu sudah mengerti berarti aku sudah boleh pergi",


"Ok..ok,gue nggak akan ketawa lagi,ulangin sekali lagi gue bakal dengerin kok kali ini,ayo duduk..duduk!",bujuknya seraya merentangkan kedua tangannya mengahalangi karena Tari yang ingin meranjak pergi.


 


Sudah kurang lebih lima belas menit Tari mengajari Dimas,ia masih serius mengajari Dimas yang mengangguk mengiyakan ,sebenarnya ia bisa dan mengerti tentang PR itu namun entah apa yang membuat nya hingga berpura-pura tak mengerti seperti ini.Namun tanpa disadari oleh Tari Dimas diam-diam memandangnya,Dimas sendiri pun tak mengerti mengapa ia ingin memandangi sosok gadis yang paling ia benci itu,sesekali ia sadar dan kembali memperhatikan PR nya,namun selang beberapa detik ia kembali menatap gadis itu,entah mengapa wajah itu begitu nyaman dipandang saat sedang diam dan serius seperti sekarang. Tari yang merasa ada yang aneh lantas mengarahkan pandangannya ke arah Dimas, sontak saja mata mereka kini saling beradu pandang untuk beberapa saat.


 


" Kenapa kamu melihatku seperti itu,apa ada sesuatu di wajahku?",tanyanya sambil meraba wajahnya sendiri.

__ADS_1


"N....nggak si..siapa juga yang liatin lo", ucap Dimas gagap karena tertangkap basah diam-diam memandangi wajahnya.Tari yang mendengar jawaban Dimas pun memilih tak melanjutkan ocehan Dimas dan kembali fokus mengajari Dimas.


" Ini aku udah kasih contoh,coba kamu lihat biar mengerti!",ucap Tari memberikan buku pada Dimas.Dimas pun langsung mengambil alih buku itu.


"Hei Tari, lo salah hitung di bagian ini", ucap nya setelah beberapa saat memperhatikan contoh yang diberikan Tari.


" Mana sini kulihat",tanpa sadar wajah mereka pun memjadi agak sekat Dimas yang menyadarinya terkejut namun ia hanya diam dan terpaku,tetapi Tari karena tak sadar bagaimana situasinya terus melanjutkan aktivitasnya, ia kini mengecek contoh yang ia berikan.


"Iya,aku salah menghitung bagian ini,tapi kalau kamu tahu Kenapa kamu tak mengerjakan sendi...", ucap Tari terpotong karena tiba-tiba mendongak sehingga bibir mereka pun sekilas bersentuhan.Mata keduanya pun terbelalak, Seketika suasana menjadi canggung,Tari pun seketika menjadi tak nyaman dan tak kalah canggung nya.


" Em...sepertinya kamu sudah memgerti kalau begitu aku ke kamar dulu",ucap Tari yang langsung pergi ia sampai tak berani menatap Dimas saking malu nya.


Sepeninggal Tari Dimas yang juga kaget pun masih tak meranjak,ia masih syok atas kejadian tadi,seketika ia terbayang wajah gadis itu,namun kemudian bayangannya mengarah ke bibir,


namun ia langsung menggelengkan kepala saat ia tersadar,sungguh bodoh fikirnya menyumpahi dirinya sendiri.


_ _ _ _ _ _ _


Keesokan paginya,Seperti biasa mereka bersiap\-siap untuk ke sekolah. Dimas pun segera masuk kedalam mobil dan duduk di bagian yang biasa ia duduki dan sebelah nya lagi tempat Tari.


" Hei Tari,cepat naik nanti telat gimana?,lama amat sih",seru Dimas.


"Iya ini aku sudah selesai,tante saya berangkat dulu ya",teriak nya sembari pamit pada Bu Sulis.

__ADS_1


" Tari! ",panggil seseorang yang menghentikan langkah Tari,sontak saja mereka semua menoleh ke sumber suara.


" Mas Bima ",ucap Tari. Ucap Tari,Bima pun melangkah mendekatinya.


" Kamu berangkat bareng mas aja,kebetulan aku hari ini lewat sana jadi bereng juga nggak masalah kan?",ucap Bima,awalnya mereka heran namun kemudian saling setuju,Dimas bersama pak Dhanu duluan berangkat, sedang Tari dan Bima kini menyusul dengan menggunakan mobil Bima.


Setelah bebrapa menit dalam hening dalam perjalanan akhirnya Bima, pun angkat suara.


"Tari",


" Ya"


"Aku mau mengatakan sesuatu",


" Apa itu?",


"Kau tahu kan kalau aku menyukaimu?",tanya bima yang seketika membuat tari mematung,saking kagetnya ia sampai tak mampu bicara.


" Tari...,apa kamu masih belum mengerti bukankah ciuman kemarin itu...",


"Su...sudahlah", ucap Tari memotong perkataan Bima.


"Kenapa apa karena kamu tak menyukaiku,tak apa jika kamu menolak jika memang kamu tak bisa menerimaku,tapi aku ingin mendengar alasan nya langsung dari mulut mu saat ini juga",Tari hanya Diam,ia tak kunjung menjawab namun Bima masih dengan sabar menunggu jawaban dari Tari yang sejak tadi hanya menunduk, meskipun wajah Bima terlihat tenang dan masih stabil mengemudi,namun siapa yang tahu ternyata ia kini sedang merasa tegang ia penasaran apa jawaban yanga akan diberikan Tari.

__ADS_1


__ADS_2