
"Apakah aku(gue),menyukainya".
Dear:Sang Pemilik Takdir.
" Hiks.....hiks.... sudah kubilang kamu pergi saja tapi kenapa tidak pergi hiks ....",ucap Tari yang kemudian memukul dada Dimas.
Namun tetap saja Dimas masih terdiam tak mampu berbicara,namun sejak tadi ia merasa ada yang aneh jantungnya terus saja berdetak,hingga terdengar oleh Tari, lantas ia pun menatap wajah Dimas.
"Dimas ada apa denganmu,hiks...apa terjadi sesuatu pada jantungmu,jantungmu sekarang berdetak dengan cepat,apa mereka tadi memukul dadamu?", tanya Tari yang tak mengerti ada apa dengan jantung Dimas, begitu pula Dimas yang juga tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan jantungnya itu,pertanyaan itu terdengar hingga ke telinga ketiga orang itu.
" Ehem....Tari ayo kita pulang,biar kita cepat mengobati lukamu ini,ayo!",ucap Elang yang merasa cemburu dan langsung menarik tangan Tari dari Dimas,entah mengapa Dimas merasa marah saat Tari dibawa darinya,apa lagi dari orang itu,orang yang tak ia sukai karena terlihat sering mendekati Tari, namun ia tak bisa menhentikannya karena ia tak ada hak pada gadis itu.
"Ta...tapi Dimas juga terluka,dia juga perlu diobati", ucap Tari yang masih diseret oleh Elang.
" Nggak apa-apa, apa kamu tidak lihat masih ada teman-temannya disana?,pasti mereka yang akan mengobatinya,yang paling penting sekarang adalah kamu,ayo lekaslah!",jawab Elang sembari membawa Tari yang semakin menjauh dari pandangan Dimas.
"Dimas,hei Dimas", panggil Ridho yang memecah lamunannya.
" Ah..ya",
"Apa yang sedang kamu fikirkan,sekarang semua nya sudah selesai, apa kamu tidak mau pulang dan lekas mengobati lukamu?",
" Oh..iya terimakasih karena lo berdua udah bantuin gue, ayo,"ucap Dimas seraya melangkah mendahului kedua orang itu.
__ADS_1
"OMG,apa...apa aku nggak salah dengar, Dimas....apa benar itu Dimas Bagus Sutrisno yang selama ini kita kenal?, dia..dia ternyata juga bisa berterima kasih," ucap Max .
"Iya, aku juga merasa ada yang berbeda dari nya,tapi tak apa lah...,itu bahkan hal yang bagus kan,ayo kita pulang!", ajak Ridho seraya melangkah.
" Aku masih merasa aneh pada anak ini",ucap Max yang masih tak percaya seraya mengikuti langkah Ridho dan meninggalkan tempat itu.
_ _ _ _ _ _ _ _
"Aww...pelan-pelan,itu sakit Lang",pekik Tari yang kesakitan karena lukannya yang sedang di oleskan obat oleh Elang.
"Maaf, apa sesakit itu kah?,baiklah aku akan coba pelan-pelan",ucap Elang.
" Em Tari,"tiba-tiba Elang angkat suara setelah beberapa saat mereka terdiam dan hanya fokus pada luka Tari.
"Ya,ada apa?"
Mendengar pertanyaan itu Tari lantas terperangah,ia bingung kenapa Elang tiba-tiba menanyakan hal seperti ini,apalagi menanyakan tentang Dimas, bukannya dia tidak suka dengan Dimas, lantas mengapa dia menanyakan orang itu?.
"Em....seperti itulah kamu kan tahu sendiri dia itu orang nya nyebelin,suka menghina orang, nggak tahu diri,tapi....."
"Tapi apa?,"
"Tapi...aku jadi ragu tentang semua itu setelah apa yang ia lakukan hari ini,setahuku dia sangat membenciku,tapi kali ini dia menyelamatkan ku,dia berani melawan beberapa orang yang menyekapku,jujur sebenarnya aku tak berharap dia akan datang dan menolongku,tapi setelah apa yang aku lihat,aku merasa kalau dia mulai....",
" Mulai apa?",tanya Elang yang sudah tak tahan mendengar perkataan Tari tentang Dimas saat ini,dan ia sebenarnya merasa tak siap mendengar apa yang mungkin akan diucapkan oleh Tari, tapi...entah mengapa ia penasaran.
__ADS_1
"Aku merasa kalau dia mulai memaafkanku,aku merasa sangat lega jika dia sudah nemaafkanku," jawab Tari dengan wajah yang sedikit tenang.
"Owh....ya kamu benar," kata Elang yang lega mendengar jawaban Tari.
Dimas kini sedang mengoleskan obat pada lukanya sendiri,sebenarnya Ridho dan Max sudah berulang kali menawarkan jasa mereka untuk membantunya,namun ia menolak dan memilih melakukan nya sendiri.
Seperti biasa ia kini tengah duduk di lantai ruang tamu, namun pandangan nya mengarah menatap pada langit malam yang entah mengapa malam ini terasa begitu indah karena banyak bintang yang bertaburan,serta ia seperti melihat ukiran sebuah wajah di sana,wajah yang begitu manis,sedang tersenyum kepadanya,dan ia pun juga lantas tersenyum,tanpa disadari Ridho datang dan duduk di sebelah nya.
"Dimas",
" Oh ya,eh elo dho,ada apa?",tanya Dimas yang terkejut karena Ridho yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya dan memanggilnya.
"Em...gimana luka mu apa sudah diobati",
" Eh ya,udah nih",
"Em....,maaf sebelumnya jika yang ku katakan ini akan sedikit melenceng,tapi...apa kamu tahu kalau aku menyukai Tari",
" Hah nggak,gue baru tahu",jawab Dimas terkejut.
"Dan mengenai kejadian dulu saat dia kerumah ku,aku tahu saat itu kamu datang,dan aku dengar semua nya,saat itu aku tak sengaja mendengar semua yang kamu katakan pada Tari, dan aku rasa perkataan mu hari itu adalah alasan kepergian Tari,aku melihat semua nya saat kamu pergi dia menangis,air ia seperti nya berusaha menahan nya tapi tak bisa,asal kamu tahu aku lah yang mengajaknya kerumahku,ia sempat menolak tapi aku memaksanya karena aku ingin selalu melihat wajahnya karena aku memang menyukainya,dan jika tidak salah hari itu adalah hari kepergian Tari dari rumah mu,selama ini aku berpura-pura tak tahu dan tidak mengatakannya karena mungkin itu yang terbaik,tapi seperti nya tidak benar dan aku harus meluruskan semua ke salahfaham an ini,dan aku merasakan kamu menyukai nya...",
" Apa gue?,nggak mungkinlah",potong Dimas.
"Tidak, aku bisa merasakannya,tapi...jika kamu memang tak menyukai Tari, seperti nya Elang akan senang hati menyambut Tari dalam hidup nya,dia sudah bilang padaku jika dia juga menyukai Tari loh...dan aku akan setuju dan merelakan Tari jika Elang bisa membuat nya bahagia," ucap Ridho.
__ADS_1
Mendengar pernyataan itu wajah Dimas seketika berubah,wajah nya seketika terlihat kesal,sementara Ridho hanya tersenyum melihat Dimas yang tak pandai memyembunyikan perasaannya itu.