Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Beginikah Rasannya.


__ADS_3

" *sesuatu yang *saat* ini kurasakan begitu mani*s bahkan mungkin yang*** paling manis didunia bagaimana mungkin bisa kutolak karena sesuatu yang manis itu adalah hal yang sangat berkesan dan tak mungkin bisa kulupakan*".


"Cup", bibir Bima kini sudah mengecup lembut bibir gadis itu.Tari yang menyadari terbelalak tak percaya,ia tahu ini salah dan ingin melepas ciuman itu namun walau ia berfikir demikian,tubuh dan bibir itu tak mau menuruti pemikirannya,karena tentu saja,naluri lah yang mengendalikan segalanya.


Dimas yang masih melangsungkan kegiatannya itu tak tahu kalau gadis itu kini sangat terkejut dan tegang, saking tegangnya rasanya sampai lupa bernafas sejenak,Bima yang menyadari nafas Tari yang terasa dangkal pun melepas ciumannya namun masih sambil memandagi wajah gadis itu yang terpejam dengan nafas terengah-engah.


" Tari!Tari kamu baik-baik saja",Tanya Bima seraya memgangi kedua bahunya,namun Tari tak menjawab ia hanya menunduk,saking malunya ia tak berani menatap wajah lelaki itu,bagaimana tidak tanpa tahu apa maksud dari ciuman itu namun bagi Tari adalah hal pertama baginya, tentu saja ia sangat terkejut.


"Maaf", ucap Bima dengan wajah bersalah.Tari yang mendengar nya sontak mendongak melihat wajah lelaki itu namun tanpa bicara.


" Maaf,maaf karena aku sudah sembarangan menciummu tanpa izin,"


"Ke...Kenapa mas Bima men...cium saya," tanyanya lagi dengan kembali tertunduk.Bima yang mendengar pertanyaan itu lantas mengangkat dagu gadis itu agar melihat wajahnya.


"Tidakkah kau mengerti,tidak bisakah kau membaca arti dari tatapanku saat ini Tari?", Tanya Bima seraya menatap dalam sepasang mata Tari, kini mata mereka saling beradu,mata yang begitu teduh,dengan menatapnya saja kehangatannya sudah terasa.Namun ia tak berani berharap bahwa lelaki yang begitu sempurna itu sungguh menaruh hati padanya.


" Sa..saya sungguh tak mengerti ",jawab Tari


"Aku menyukaimu,aku sungguh menyukaimu," jawaban bima kali ini membuat nya mematung,lidah nya kelu tak mampu lagi ia berbicara,ia kini masih menerka apakah ini cuma mimpi atau kenyataan,jika hanya mimpi,rasanya tak ingin bangun lagi dari mimpi yang teramat indah ini,namun jika ini adalah kenyataan betapa bahagianya ia kini,rembulan yang sejak lama ia dambakan kini sudah berhasil di gapai.

__ADS_1


"Tari.."


"Y..ya"


"Bagaimana,apakah kamu sudah memikirkan jawaban dari pernyataan ku tadi?",Tanya Bima mengulangi.Tari yang awalnya ragu pun akhirnya mengangguk,yang artinya ia menerima perasaan Bima.Bima yang mendapat sinyal dari Tari pun lantas tersenyum bahagia ia pun langsung memeluk gadis belia itu.Tari yang kini berada dalam pelukan itu pun diam-diam juga tersenyum bahagia,saking bahagianya ia sampai menitikkan air bening itu dari sudut matanya.


_ _ _ _ _ _


Sesampainya dirumah Tari pun langsung berjalan cepat ke arah kamarnya,kini ia sedang berdiri di depan pintu,seraya memegang dadanya,sejak kejadian itu ia hanya terdiam dan terus menunduk,saat di dalam mobil tadi pun ia masih terus diam.


Entah mengapa semakin ia memikirkan kejadian dipantai semakin cepat jantung itu berdetak,ia pun berjalan menuju kearah kasurnya dan menghempaskan tubuhnya disana,ia tengah menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya,kemudian tersenyum ia masih terbayang-bayang akan momen itu.


"Siapa ya?", gumam Tari pelan,ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya.


" Dimas?",ucap Tari yang terkejut melihat Dimas lah yang mengetuk pintunya,"ada apa?",tanyanya lagi.


"Besok PR matematika harus dikumpulin kan?,ada beberapa soal yang gue nggak bisa", ucapnya.


" Hah!,kamu nggak bisa ngerjain PR,kamu kan orang jenius masa PR gitu aja nggak bisa?",ucap Tari terheran-heran mendengar pernyataan Dimas barusan ia tak percaya ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang lumayan cerdas dalam berbagai bidang itu.

__ADS_1


"Ya...iyalah lo kira gue bisa segala hal,udah deh cepat bantu gue!", jawabnya dengan nada agak tinggi karena Tari yang terus bertanya membuatnya kesal. Tari yang juga kesal dengannya hanya bisa menuruti,ia menghela nafas.


" Mana PR nya?",ucap Tari sambil mengulurkan tangannya seperti meminta Dimas menberikan bukunya.


"Bukunya dikamar gue lo harus ngerjain di kamar gue!",


" A..apaan sih kok di ka...mar kamu",ucap Tari gagap.


"Lo mikirin apa sih,lo kira gue mau ngapain lo,lo itu kan bukan tip...."


"Ya..iya mulai lagi ayo cepet kita selesaikan biar cepat kelar", ucap Tari memotong perkataan Dimas yang sudah bisa ia tebak.


Dimas pun berbalik berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Tari, tanpa sepengetahuan Tari ia menyunggingkan senyum kemenangannya.


" Flash back",


Seperti minggu sebelumnya Dimas seharian merasa gelisah,ia kesal berani-beraninya cewek kampung itu jalan-jalan seenaknya,fikirnya.Setelah seharian bosan akhirnya petang pun tiba,sore itu ia sedang berdiri di balkon ,sementara menunggu kedatangan Tari ia memandangi sang jingga yang masih tersisa cahayanya, Sebuah mobil masuk ke halaman rumah,Dimas kenal betul dengan mobil itu, mobil masnya Bima.Pandangannya seketika terfokus pada Tari yang keluar dari mobil.


"Itu dia cewek kampung,dasar!,senang ya seharian jalan-jalan gue harus kasih pelajaran", ucapnya,tiba-tiba senyumnya mengembang dan langsung berdiri.

__ADS_1


" Aha!,gue punya ide,awas ya lo cewek kampung gue bakal ngerjain lo",ucapnya masih dengan senyum yang menyimpan penuh rencana.


__ADS_2