Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
11.Bima Bagus Sutrisno


__ADS_3

 


Sepanjang perjalanan Tari terus memikirkan bagai mana reaksi dua orang yang dimaksud pak Dhanu,wajah yang begitu pucat pasi itu pastilah terlihat bagaimana pun ia berusaha menyembunyikan nya ,hingga tak sengaja Dimas melihat wajah Tari.


 


"Heh,kenapa lo,kok muka lo pucat gitu?,"


"Ah,tidak aku tidak apa-apa jangan khawatir"


"Eh,siapa juga yang khawatir sama lo kepedean banget sih,gue itu cuma takut lo pingsan dimobil,nanti siapa juga yang susah."Tari yang menerima jawaban dari Dimas juga merasa aneh sendiri,kemudian ia pun menyudahinya dengan kata singkat.


"Terserah", jawab Tari sambil membuang pandangan keluar.


 


🌈 🌈 🌈


 


Setelah beberapa lama dalam perjalanan

__ADS_1


mereka pun tiba pada tujuan,ketakutan dan ketegangan yang sejak tadi Tari rasakan seakan menjadi jadi,tangan kaki dan seluruh tubuhnya bergetar,namun ia harus memaksa kakinya untuk melangkah pada kenyataan bahwa semua ini adalah sudah jalan takdirnya,ia harus berjuang apa pun resikonya bagaimana pun perlakuan majikannya nantinya harus ia jalani demi adik dan nenenya dan yang paling penting adalah untuk mengubah nasibnya di masa depan.Kini ia memasuki pintu rumah itu ia berjalan dibelakang Dimas dengan nenunduk.


"Ayah,ayah sudah pulang dimas kangen sama ayah!!!",Ucap Dimas seraya berlari dan merangkul ayahnya manja.


" Anak ini sudah besar masih manja,kamu itu nggak boleh manja lagi kamu sudah besar,kalau kamu terus manja seperti ini kamu mau tumbuh menjadi anak cewek".Kata ayahnya dengan nada sayang,memang ayahnya itu sangatlah penyayang sifatnya bertolak belakang dengan istrinya yang agak galak dalam mendidik.Tari yang sejak tadi menyaksikan pemandangan kebahagiaan keluarga akhirnya keberadaannya disadari juga oleh Tuan rumah itu.


"Nak", panggilnya pada tari


" Anda...memanggil saya?",jawab Tari menunjuk dirinya.


"Ya,kamu kemari lah nak"


"Baik tuan", jawab Tari mengangguk seraya berjalan ke arah Tuannya itu.Lalu ia pun duduk agak diruang tamu itu berhadapan dengan tuannya.


"Iya tuan"


"Saya sudah dengar semua tentangmu, dari istri saya,saya salut dengan perjuanganmu,diusiamu yang masih belia seharusnya anak seumuranmu masih bisa bermain dan bersuka ria,namun kamu memilih mengorbankan masa mudamu demi keliargamu,sungguh patut untuk diinspirasi,lihat lah Dimas! seharusnya kamu malu pada dirimu sendiri Tari yang hanya seorang gadis belia bisa mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga,sedang kamu seharusnya kamu menggunakan tubuh priamu itu,jangan hanya bisa manja-manjaan dengan orang tua banyak belajarlah dari Tari." kata tuannya panjang lebar


"Ah,terimakasih tuan atas pujiannya,tuan terlalu berlebihan ", jawabnya malu-malu menundukkan kepala,tanpa disadari Dimas sedang menatapnya tajam.Ia jengkel karena dirinya sudah dibandingkan dengan orang yang bahkan levelnya jauh berbeda darinya.


" Sudahlah Dimas kamu ganti baju sana! biar cepat makab siang bareng ayahmu",ucap bu Sulis

__ADS_1


"Tari,kamu juga cepat ganti baju,dan jika kamu masih lelah tidak usah dipaksakan bekerja biar nanti saja".


" Baik tante,tuan saya pamit dulu"


"Hei Tari kamu sungguh tidak sopan", kata tuannya itu tiba-tiba membuatnya terkejut,


" Maaf,"kata Tari bingung


"Maaf apa saya melakukan kesalahan tuan?"


"Kamu tidak sopan,kamu memanggil istriku tante,sedang saya masih kamu panggil tuan,saya merasa saya bukan bagian dari keluarga ini!!", ucapnya dengan nada marah


" Bukan,bukan begitu tuan...maksud saya..."


"Tenanglah Tari jangan takut begitu dong!!,saya hanya ingin kamu tidak terlalu formal dengan saya dan mulai sekarang panggil saya om kamu adalah bagian dari keluarga ini sekarang jangan buat dirimu terasa seperti orang asing,ok!",kata tuannya itu.


" Ah terima kasih,atas kebaikkannya sekali lagi saya mengucapkan terima kasih,jadi tante dan o..m saya mohon pamit.Dengan anggukkan dari pasangan suami istri itu Tari pun melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Ayah!!". Tiba-Tiba terdengar suara dari lantai atas seraya menuruni tangga.Sesosok pria dengan wajah yang hampir sama dengan wajah yang dimiliki Dimas dan bisa terbilang sangat mirip jika dikatakan kembar pun orang pasti akan percaya , namun ada beberapa perbedaan ,dari warna rambut dengan warna hitam alami dengan gaya rambut sederhana,dan memiliki tubuh sedikit tinggi dari Dimas kira-kira 179 meter,sedang menuruni tangga dengan langkah santai.


" Ayah,tadi ada telepon dari sekertaris Nina katanya malam ini kita harus rapat di kantor utama untuk membicarakan hasil dari kerjasama kita dengan perusahaan Osakawa Federation beberapa hari yang lalu."Kata Bima anak tertua dari keluarga Bagus Sutrisno,yang berarti kakak laki-laki dari Dimas.Tari pun terperangah melihat laki-laki yang kini ada dihadapannya.

__ADS_1


"Wah siapa lagi ini,sosoknya sangat mirip dengan Dimas,ya Tuhan cobaan apa lagi yang kau berikan satu Dimas saja sudah bikin risih dan kini ada satu Dimas lagi semoga saja hanya sosoknya yang sama,jangan sampai sifat nya juga", kata Tari dalam hati.


__ADS_2