Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Perubahan.


__ADS_3

"Aku harus bisa mengendalikan diri,walau kini aku sudah sedikit mengubah diriku,tapi tetap saja semua itu hanya demi untuk menutupi rasa sedih ku,psikologi yang kupelajari tak lain hanya untuk menemukan pengganti ,namun hingga saat ini tak ada satupun yang sama seperti mu,dan aku tahu pasti tak akan lagi kutemukan orang yang seperti mu,Tari.... semoga kita bertemu lagi,aku sangat merindukanmu".


Dear:Ningsih.


"Selamat pagi,cantik... apa kamu senang berada di kampus ini?,kamu dari fakultas mana, apa boleh kami tahu dari fakultas mana kamu?", kata seorang dari lima laki-laki yang kini tengah mengajak nya bicara,namun ia tak menjawab,ia kini tengah duduk sendirian di taman yang ada di halaman universitas itu,ia bermaksud


" Hei,apa kamu mendengar aku bicara,apa karena kamu merasa cantik lalu kamu seenaknya mengacuhkan kami,apa kamu tahu kami ini seniormu?,sikap mu ini sangat tidak pantas bagi seorang mahasiswi baru",


Ningsih sejak tadi hanya terdiam,kediamannya bukan berarti ia merasa takut, ia sedang menganalisa,dan tengah mempelajari watak orang yang tengah berbicara tak sopan padanya tersebut.


Selama kurang lebih satu tahun ini,ia mulai tertarik untuk mempelajari ilmu psikologi entah karena apa,inspirasi dari mana tak ada yang tahu,seluruh keluarga nya pun terkejut dengan perubahan gadis itu,kemana perginya Ningsih yang dulu,apakah dengan begitu mudahnya ia membuang jauh mimpi nya menjadi seorang desainer dan makeover terkenal?,namun keluarga nya hanya bisa menuruti apa pun keputusan anak gadis mereka, mereka akan selalu mendukung apa pun keputusan dari gadis kecil mereka itu.


"Terus kenapa?,apa aku harus menjawab pertanyaanmu,dan apa aku perduli jika kamu siapa?,sungguh konyol!",hardik Ningsih dengan tatapan dingin.

__ADS_1


" Kamu,berani sekali kamu!",ucap lelaki itu seraya mulai mengangkat sebelah tangannya.Namun dengan sigap teman-teman nya menahan tangannya.Dan Ningsih pun seketika berdiri dan mulai melangkah pergi.


"Hei,kau gadis sombong mau kemana kamu,apa kamu sudah mulai takut hah,asal kamu tahu ya aku ini orang yang lumayan terkenal di universitas ini,semua gadis yang aku mau pasti aku dapat,dan kamu....kamu lihat saja,aku pastikan Kamu akan datang dan berlutut untuk menjadi pacar ku", ucap lelaki itu yang masih dalam leraian teman-teman nya,mendengar perkataan lelaki itu langkah Ningsih lantas terhenti,ia pun berbalik menatap lelaki itu.


"Kamu,dengar ya!,sekali lagi aku katakan,aku tak perduli kamu siapa,mau kamu itu senior atau pun anak raja aku sama sekali tak perduli, itu tak berarti apa-apa bagiku,tapi kamu perlu tahu satu hal,aku tak pernah menyangka aku akan sangat membenci orang yang baru saja aku temui beberapa saat yang lalu,baru kali ini aku bertemu orang yang sombong sepertimu,orang yang berpikiran sempit sepertimu ini sebenarnya tak layak berada disini,dan.... aku sebenarnya juga merasa kasihan pada empat orang bodoh yang ada di sekelilingmu itu,mereka juga pasti sebenarnya membenci mu,bahkan rasanya ingin sekali memukul mu,sifatmu yang buruk itu sungguh membuat orang tak nyaman,tapi mereka tetap bertahan padamu karena suatu alasan,dan jika aku perhatikan...seperti nya kamu orang yang berada,dan sangat terlihat kamu anak yang manja apa pun yang kamu mau pasti selalu dipenuhi,selalu menghabiskan uang untuk hal yang tak berguna dengan hal-hal yang tak berguna, sungguh menjengkelkan!, dan aku rasa.... kamu pasti masih punya sedikit kepintaran kan?,sedikit banyak nya pasti kamu mengerti dengan apa yang aku katakan,"ucap Ningsih yang kemudian melangkah pergi, namun ia kembali berhenti,


"Ah aku lupa memberi salam pada orang yang disebut sebagai senior sebelum aku pergi,dan sekali gus ingin membenarkan kesalahan pengucapan mu tadi,selamat siang senior...dan semoga kita tidak pernah bertemu lagi", ucap Ningsih seraya melangkah pergi.


" Ba...bagaimana dia bisa tahu semua nya,bahkan hampir semua nya,apa dia dukun?,"ucap lelaki itu dalam hati.


"Ningsih.. apa barusan itu beneran kamu,apa yang membuat mu begitu berubah,tatapan itu....aku tak pernah melihatnya sebelumnya,seperti ada sesuatu dari sorot mata itu,dan aku tak tahu apa aku harus tenang atau khawatir dengan nya saat ini,tapi yang pasti aku harus mengawasinya dan menjaganya diam-diam." ucap Max dalam hati ia sebenarnya sudah ada di sana sejak awal dan mencoba untuk menolong gadis itu,tapi perubahan gadis itu malah membuatnya terkejut, gadis itu mampu menagani semua nya bahkan tanpa bantuannya.


_ _ _ _ _ _ _ _ _

__ADS_1


"Hei...Dimas!",panggil seseorang, Dimas yang mendengar namanya dipanggil lantas berbalik.


" Ningsih,apa lo sudah lama nunggu,maaf ya...gue lama soalnya tadi gue ada urusan sama senior",jelas Dimas.


"Nggak kok,aku baru sampai,dan....dasar kamu ya...udah aku bilangin ubah gaya bicaramu itu Dimas, kamu sudah besar sekarang, bahkan sudah terlalu besar tapi bahasamu tetap saja nggak benar, kamu sekarang mahasiswa tau", ucap Ningsih sambil menjijit telinga Dimas.


" Awww...sakit...apaan sih,sakit tau",ucap Dimas yang berhasil melepaskan tangan Ningsih dari telinganya.


"Kalau gitu janji ya ubah gaya bahasamu yang menjengkelkan itu",


" Iya...iya...lo,em maksudku kamu ini berubah sekali ya semenjak kurang lebih satu tahun ini,tapi a..ku masih penasaran apa alasan ka..mu berubah bahkan sampai masuk fakultas psikologi",ucap Dimas terbata-bata.


"Hem...nggak ada apa-apa kok, nggak ada alasan khusus, ayo pulang", ucap Ningsih seraya melangkah duluan.

__ADS_1


__ADS_2