Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Berkunjung.


__ADS_3

"Maaf kan aku,atas apa yang telah kulakukan dulu yang sudah menyakiti mu,dan sekali lagi aku juga meminta maaf karena telah berani diam-diam menyukai mu".


Dear:Tari.


 


Pagi itu menjadi pagi yang penuh dengan kecemasan,pasalnya tentu saja karena luka Tari. Meskipun sudah berulang kali Tari mencoba mengatakan bahwa ia baik-baik saja,namun apa boleh buat karena kedua sahabat nya itu malah heboh karena luka kecil itu, mau tidak mau Tari hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan yang ia rasa sangat berlebihan itu.


 


Posisi Tari kini tengah duduk di atas kasurnya,Ningsih dan Wiranti masih saja sibuk dengan aktivitas masing-masing dalam merawat Tari,sementara Dimas,hanya berdiri diam sambil memperhatikan kedua orang itu,namun tanpa disadari sebenarnya sesekali ia menatap wajah Tari, entah mengapa matanya selalu terarah pada gadis itu, meskipun ia mencoba tak menatap nya,namun nyatanya apa yang ia perintahkan pada matanya,berbeda dengan apa yang ada di mata hatinya, sebenarnya ia sudah mulai menyadari dan sedikit mengerti alasan mengapa ia merasakan hal yang aneh saat ia melihat gadis itu,ia tahu bahwa sebenarnya ia mulai menyukai gadis itu,namun perasaan itu terpaksa ia kubur mengingat apa yang pernah ia lakukan pada gadis itu,tentu saja orang waras mana yang mau menerima orang yang sudah menyakiti dan menghina nya tanpa sempat memberi alasan yang sebenarnya dan yang lebih parahnya lagi bahkan sampai menyebabkan gadis itu sampai pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun,itulah yang menahan semua perasaannya saat ini.


"Drtt....drtt....drtt....",


Tiba-tiba ponsel Ningsih bergetar,ia pun lantas menjawab telepon itu,


" Halo,ada apa sih nelpon segala?",ucap Ningsih pada orang yang tadi menelepon yaitu Max.


"(........?)."


"Nggak aku nggak sakit"


"(................?.......)",

__ADS_1


"Apa? benar kah,padahal aku rasa hari ini nggak ada kelas kenapa tiba-tiba, kamu...pasti berbohong kan?",


" (.......)",


"Iya...iya ok aku akan segera kesana,cerewet sekali sih nih orang,tutt..", gumam Ningsih kesal sambil memutuskan telepon.


" Ah maaf ,Tari aku tak bisa lama-lama disini hal ada penting di kampus yang tak bisa aku hindari,aku harus kesana secepatnya,tapi....gimana dong kamu pasti...pasti kamu akan sendirian apalagi kamu sekarang sakit",


"Nggak apa-apa kok,kan sudah aku bilang aku nggak apa-apa tapi kalian malah heboh sendiri,nah apa-apa kalian berdua pulanglah", ucap Tari.Ningsih yang masih tak yakin meninggalkan Tari sendiri lantas berfikir, bagaimana caranya agar memastikan Tari tetap aman walau tanpa ada dirinya. Dan entah mengapa tatapan nya seketika tertuju pada sesosok lelaki yang kini ada di depannya.


" Ada apa?",tanya Dimas yang menyadari dirinya.


"Nggak hanya saja....aku sedang memikirkan sesuatu,em....ngomong-ngomong apa kamu ada kelas hari ini?",


"Em....aku hanya berfikir seandainya saja.... kamu mau tinggal disini... dan mau menemani Tari....",


"Ah nggak perlu Ningsih, aku bisa sendiri kok serius", ucap Tari memotong perkataan Ningsih.


" Nggak apa-apa kok Tar,cuma sebentar, hanya sampai aku kembali kok,dan Dimas kan juga nggak.... "


"Ok",


" Apa kata mu tadi Dimas?",

__ADS_1


"Aku bilang aku bersedia", ulang Dimas. Mendengar jawaban itu Tari dan Ningsih seketika tercengang,bukan tanpa alasan,jika mengingat bagaimana sikap yang Dimas tunjukkan selama ini yang selalu acuh dan tak perduli dengan apa pun,tapi bagaimana bisa dengan mudahnya ia menurut begitu saja pada permintaan Ningsih,Sungguh aneh tapi nyata,fikir Ningsih.


" Apa aku tidak salah dengar, atau kamu yang salah ucap",tanya Ningsih lagi yang masih belum yakin sepenuhnya.


"Apaan sih bawel banget,kalau nggak percaya kalau gitu aku pulang saja",


" Oh,jangan ok...ok,baik....kamu tetap disini saja ya...tolong jaga Tari nanti aku akan kembali ok,dah...aku pergi dulu",pamit Ningsih bergegas pergi meninggalkan dua orang itu.


Keheningan seketika menguasai ruangan dimana tempat mereka berdua sekarang, masing-masing tak ada yang tahu harus bicara apa untuk membuang rasa canggung itu.


"Em....apa...kamu tidak bosan disini, kamu...kamu boleh keluar dulu kok kalau kamu mau,aku nggak apa-apa kok", ucap Tari tiba-tiba memecah keheningan.


" Nggak apa-apa, aku disini saja,kamu tidurlah dulu,aku akan menunggu disini",jawab Dimas.


Tari tak tahu lagi harus bicara apa,akhirnya ia pun hanya bisa menurut,ia perlahan mulai merebahkan tubuhnya,awalnya ia berencana tak ingin tidur,karena merasa tak nyaman dengan Dimas, namun meskipun sudah berusaha tetap saja ia tak bisa menahan rasa kantuknya,sehingga tak butuh waktu lama, ia sudah terlelap.


Dimas yang merasa bahwa tak ada lagi suara dari gadis itu lantas menoleh kearah dimana Tari berada,Dimas perlahan melangkah mendekati Tari yang sedang terlelap kealam mimpi.


"Apa ini,apa dia benar-benar tidur setelah aku menyuruhnya",


Ucap Dimas dalam hati seraya terus menatap wajah Tari, dan tanpa sadar ia malah menunduk dan menatap wajah Tari dari dekat,terlihat jelas lah wajah gadis itu,sepasang mata yang indah,walau pun dalam keadaan terpejam sekali pun karena mempunyai bulu mata yang lentik,hidung kecil namun bengir,dan bibir yang mungil dan merah alami, walau tanpa sentuhan lipstik pun tetap terlihat manis dan indah," Manis sekali",gumam Dimas saat melihat bibir itu.


Namun seketika ia pun tersadar,seketika pula ia menjauh dari Tari,kini ia tengah berdiri di depan teras kamar kos Tari.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padaku,apa yang sudah aku lakukan,kenapa aku begini, bisa-bisanya aku...malah memikirkan yang tidak-tidak pada Tari, sadar diri lah Dimas, Tari itu membencimu jangan pernah berfikir bahwa dia akan menyukaimu, anggap saja ini sebagai balasan atas apa yang telah aku lakukan selama ini", ucap Dimas dalam hati seraya menghembuskan nafas pelan .


__ADS_2