Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Meyakinkan.


__ADS_3

"Entah mengapa bintang kecil itu semakin terlihat menarik dimataku,namun apakah ia juga merasakan hal yang sama".


 


Pagi ini suasana hati Tari sangatlah bagus,ia tersenyum-senyum sendiri sembari mengangkat piring bekas mereka sarapan tadi.Ternyata tanpa ia sadari Dimas sejak tadi memperhatikan tingkah laku Tari ia merasa ada yang aneh pada gadis itu,pagi ini tak biasanya ia terus tersenyum seperti ini.


 


"Kenapa sih nih cewek,apa dia sudah gila",ucap Dimas dalam hati.


Tak berapa lama mereka pun selesai berkemas untuk bersiap-siap ke sekolah,Tari hari ini kembali berangkat bersama Dima dan paman Dhanu Seperti biasanya,karena hari ini Bima ada jadwal penting di kampusnya sehingga mungkin akan telat pulang,namun semua itu terbayarkan dengan sebuah imbalan yang tak pernah ia bayangkan.


Flash back.


Sekitar pukul lima pagi,pagi buta yang masih sangat dingin namunTari sudah terbangun ia segera menuju kebawah untuk kekamar mandi.Ia segera menyegarkan diri di dalam sana,setelah sekitar kurang lebih dua puluh menit ia pun keluar dari kamar mandi,kini ia mengenakan baju handuk berwa baby pink sepanjang di bawah lutut,ia kini keluar dengan santainya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk,tanpa ia sadari kini Bima sedang memperhatikannya.Tari yang berjalan menuju kekamarnya pun tak sengaja melihat Bima yang tengah bersender di depannya.

__ADS_1


" Ya Tuhan mas Bima,sejak kapan mas ada disitu,apa mas Bima mau sesuatu apa ada yang bisa saya bantu?",ucap nya terkejut.


"Iya aku perlu sesuatu dan itu berhubungan denganmu", jawabnya seraya mendekat kearah Tari, ia merasa gugup saat Bima semakin mendekat ke arahnya,namun ia berusaha tetap menatap Bima walau sebenarnya kini ia benar-benar sangat gugup.


" Tari ",


" Y..ya",jawabnya gagap.


"Tari maaf, hari ini aku tak bisa mengantar dan menjemputmu,bahkan hingga satu minggu kedepan mungkin kita aka jarang bertemu,karena ada pertemuan penting yang harus aku hadiri,pertemuan itu sangat penting dan menyangkut mimpi dan masa depan ku,bebrapa pengusaha properti terkenal akan datang dan memandu kami cara menanamkan modal dan sebagainya,tak mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan ini,dan kuharap kamu mau mengerti dan memaafkanku", ucap Bima menunduk,Tari yang mendengar nya pun terharu hatinya dibuat luluh bagaimana tidak, lelaki yang kini sudah menjadi kekasihnya itu sangatlah lembut dan perhatian,ia bahkan memberitahu hal seperti ini,hal yang seharusnya tak perlu ia meminta izin apa lagi maaf padanya, hal ini lah yang membuat Tari semakin menyukai sosok lelaki itu,selalu jujur dan terus terang.Tanpa ia sadari dua air bening itu mengalir dari sudut matanya,Bima yang melihat air mata itu seketika gelagapan, ia merasa bersalah saat melihat air mata itu.


" Mas Bima saya nggak menagis karena kecewa,saya menangis karena terharu, saya sungguh beruntung,dan bahkan mungkin saya adalah orang yang paling beruntung di dunia ini karena bisa menjadi pacar dari lelaki yang begitu istimewa,mas Bima jangan khawatir, saya tak berhak melarang mas Bima mencapai mimpi yang amat sangat ingin diraih,dan perlu mas tahu bahwa saya percaya dan akan selalu mendukung apa pun yang ter baik bagi mas Bima,"ucapnya panjang lebar agar Bima tak salah faham dengan tangisnya.Bima yang mendengar pernyataan Tari pun langsung memeluk erat gadis itu,tidak hanya Tari ia juga sangat bahagia bisa menjadi kekasih Tari, Tari yang tengah dipeluk pun juga membalas pelukan itu,pagi yang dingin itu pun tak lagi terasa karena pelukan nan hangat itu.


_ _ _ _ _ _ _


Mobil itu pun kini sedang melaju menuju sekolah,Tari masih saja tersenyum-senyum sendiri,bagaimana tidak ia kini sedang dalam pengaruh cinta pertama,cinta pertama yang amat ia idam-idamkan yang biasanya hanya ia temukan pada drama,komik,maupun novel romantis yang selama ini ia tonton dan baca,ia masih terbayang dan terngiyang-ngiyang apa yang dikatakan Bima pagi tadi hingga membuatnya tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya.Ia dikejutkan dikejutkan oleh Dimas yang tiba-tiba menyentuh dahi Tari dengan punggung tangannya dan dan kembali lagi ke dahinya sendiri.

__ADS_1


"Tidak panas,dan kayaknya suhu tubuh yang normal",kata Dimas bicara pada dirinya sendiri.


" Ada apa sih,kenapa kamu menyentuh dahiku?",tanya Tari yang bingung dengan Dimas.


"Nggak,gue hanya khawatir aja karena dari tadi lo senyum-senyum sendiri", jawabnya.


"Apa,kamu kira aku gila", ucap Tari meninggikan suaranya.


"Apaan sih,eh yang ngomong kan lo sendiri,gue nggak bilang lo gila,lo yang bilang sendiri tadi kan", ucapnya yang membuat Tari seketika terdiam dan memilih membuang pandangannya ke luar jendela.Sedang Dimas masih tertawa kecil menertawakan Tari yang mendengus kesal yang terlihat lucu baginya.


 


Sementara disisi lain,Bima kini tengah gelisah,pada saat pertemuan pun ia sesekali menatap ponselnya, ingin sekali rasanya ia menelpon kekasihnya itu,baru sebentar saja ia sudah rindu dengan suara gadis belia itu,namun ia kembali harus mengurungkan niatnya dan kembali fokus pada tujuannya.


 

__ADS_1


__ADS_2