
"Apakah ini cobaan yang harus aku terima?,kenapa harus aku, kenapa harus aku yang menerima semua ini,tapi mau bagaimana pun harus ku terima, walau sakit, tapi yang sudah jadi takdir, akan kutahan meski harus kubuang jauh kata "bahagia" dalam kamus hidupku".
Dear:Tari.
"Apaan sih nih cowok, udah gila ya,kok suka seenaknya sama orang, Laras pasti sudah buta menyukai orang seperti ini", ucap Tari dalam hati,sambil menatap tajam wajah Elang.
" Hei,apa yang kamu fikirkan,kenapa kamu menatap wajahku seperti itu apa ada sesuatu diwajah ku?",tanya Elang sambil meraba-raba wajahnya.
"Iya ada sesuatu di wajah mu yang sudah lama ingin ku beritahu tapi selalu tak tersampaikan",
"Hah,dimana?, cepat bantu aku mengambil nya",pinta Elang,Tari pun perlahan mendekat ke arah Elang hingga membuatnya merasa sedikit gugup, jantungnya berdetak tak karuan,wajah itu terlihat sangat dekat, dan begitu jelas,sehingga Elang tanpa sengaja memperhatikan wajah gadis itu.
Wajah yang mulus,bersih dan putih,dengan mata yang indah berbulu mata lentik,hidung yang kecil namun bengir,dan yang membuat nya semakin berdebar adalah saat pandangannya sampai pada sebuah bibir mungil nan merah itu,sungguh sangat mungil dan mempesona,fikirnya.
"Hei kamu tahu nggak apa yang mengganggu diwajahmu?", tanya Tari yang tiba-tiba membubarkan lamunannya.
" Oh ya, apa?",tanya Elang masih menyembunyikan gugup nya.
__ADS_1
"Ini, wajah ini lah yang selalu mengganggu,bukanlah kotoran yang menempel,tapi wajahmu yang selalu mengganggu", jawab Tari.
" Apa kamu bilang, berani-beraninya kamu,bilang seperti itu ",ucap Elang jengkel,dan terjadilah pertengkaran kecil antara kedua orang itu.
" Cih...,dasar cewek murahan,benar kan kalau gue nggak salah lihat kemarin saat dipasar,dan cowok itu pasti cowok yang udah dia goda sehingga mau-maunya memaksa memberi tumpangan",gumam Dimas pelan.
Saat beberapa menit yang lalu ia sebenarnya ingin ke warung untuk membeli cemilan,tapi langkahnya terhenti saat ia melihat dua orang yang tengah bercekcok di samping jalan,dan betapa kaget nya ia saat melihat sosok gadis itu, Tari, ya...tak salah lagi itu adalah Tari, sehingga tak sadar ia pun langsung mengumpat di balik sebuah pohon besar dan mendengar percakapan dua orang itu.
"Sudahlah..,ayo cepat pulang sana,sudah kubilang wajahmu itu mengganggu, jadi apa kamu masih mau memberi tumpangan padaku?", tanya Tari sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Nggak,dan nggak akan pernah",jawab Elang seraya menghidup kan mesin motornya dan meninggal kan tari seorang diri.
"Klap....klap...klap....", tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang sontak membuat Tari terkejut.
" Wah ketemu lagi ya..Tari,ini gue, apa lo masih belum kenal,ok gue akan mulai memperkenalkan diri,nama gue adalah Dimas Bagus Sutrisno",ucap Dimas perlahan mendekat,serta dengan tatapan sinis nya.
"Ka...kamu, kenapa kamu ada disini?" ucap Tari yang perlahan mundur karena ia terkejut, karena saat dipasar kemarin pun ia masih menganggap bahwa ia benar-benar hanya bertemu dengan orang yang mirip,tapi kenapa?,kini dia malah muncul,dan kembali menampakkan wajah itu dihadapannya.
__ADS_1
"Ada apa?,apa lo terkejut, dan...jangan salah faham gue nggak ngikutin lo kok,dan gue juga nggak bermaksud menjemput lo,dan lo juga kayaknya udah bahagia ya,karena...sepertinya udah menemukan mangsa baru,lelaki tadi targetmu kan,seperti nya lumayan kaya,dan pasti lo bakal ba...."
"Plakk...",
Tanpa sengaja tangan Tari mendarat begitu saja di pipi Dimas,serta kedua mata yang sudah dipenuhi dengan air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan.
" Lo beraninya..."
"Cukup, cukup Dimas..... hiks...,tidak kah kamu merasa sudah berkata keterlaluan,dengan mudahnya kamu menyimpulkan sendiri pendapat mu tanpa sempat aku menjelaskannya,hiks... kamu tahu tidak betapa menderita nya aku saat aku pergi dari rumah mu,aku juga pergi karena pernyataan yang sama darimu dulu, hiks..,tapi apakah aku tidak berhak bahagia hah..,tidak kah sedikit saja kamu merasa bersalah padaku,aku sudah berusaha selama ini melupakan apa yang dulu kamu katakan tentangku?,tapi hari ini tanpa ragu kamu juga mengatakan hal yang sama,sungguh tak kuduga,ternyata putra kedua dari tuan Bagus Sutrisno adalah orang yang tak berperi kemanusiaan",ucap Tari panjang lebar ,ia sudah mengatakan apa yang ia pendam dibenaknya selama ini.
Dimas pun terdiam sejenak,namun tatapan nya masih sama,menatap Tari dengan tatapan benci.
" Heh,lo bicara seakan lo adalah korbannya?,yang jadi korban itu adalah mas gue,mas Bima.. sejak lo pergi dia selalu terlihat sedih, entah apa yang dia suka dari lo gue nggak tahu,tapi seperti nya sudah ada cewek yang sudah berhasil membuat nya sedikit bahagia sekarang, jadi jangan harap lo masih punya kesempatan buat balik kerumah gue, dan kalau lo nggak sengaja ketemu sama mas gue,pura-pura aja seakan lo nggak liat,dan jika perlu jangan pernah lo tampakkan lagi wajah lo di depan mas gue",Kata Dimas.
"Bagus lah..mas Bima sudah menemukan orang yang bisa membuatnya bahagia, aku merasa lega, setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalah ku padanya, meski terasa sakit mendengar nya", gumam Tari, namun masih bisa terdengar oleh Dimas.
"Pembicaraan kita sudah selesai, masing-masing dari kita sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikan,kalau gitu selamat tinggal, semoga kita tidak bertemu lagi", pamit Tari seraya melangkah pergi meninggal kan Dimas yang masih terpaku serta menatap langkah Tari yang semakin berlalu.
__ADS_1
" Hiks....hiks... nenek... aku rindu nenek, jika saja nenek ada disini, aku ingin menangis dipelukan nenek..hiks...",gumam Tari terisak sambil masih melangkah menuju tempat tinggal nya.