Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Apa Kesalahanku.


__ADS_3

"Kamu pasti berfikir....bahwa apa yang kuucapkan menyakiti hatimu namun,yang lebih menyakitkan adalah saat aku tak melihat mu bersamanya".


Sejak kepulangannya dari *showroom* ponsel siang itu,hatinya tak tenang entah sudah berapa kali ia turun naik tangga,kini hari sudah petang namun Tari dan Bima tak kunjung datang.Mungkin karena sudah bosan atau penat ia kini duduk di sofa ruang tamu.


"Bremmm", terdengar suara mobil di depan rumah,sudah bisa di tebak Kalau itu adalah mobil masnya,Bima.Dimas pun berusaha duduk santai,ia membuat ekspresi nya senatural mungkin agar tidak terlihat kalau ia sedang risau.


" Ting..tong..."suara bel rumah pun berbunyi,Dimas segera meranjak dari duduknya dan membukakan pintu.


"Ah Dimas, kenapa kamu yang membuka pintu,mama di mana?", tanya Bima seraya matanya seperti sedang mencari keberadaan mamanya.


" Oh... mama tadi ke tempat paman wang,",jawab Dimas,Paman wang,atau wang Zhe jika dilihat dari marganya sama dengan nama belakang Max,yang berati beliau adalah ayah dari Max,dua keluarga itu memang sudah dekat sejak lama,itulah sebabnya mengapa Max dan Dimas begitu akrab.


"Ah kalau begitu mas mandi dulu,baru nanti jemput mama di rumah paman Wang dan Tari,kamu juga cepat masuk dan membersihkan dirimu",kata Bima seraya melangkah masuk. Tari yang hendak masuk tiba-tiba dicekat ole tangan Dimas.


" Apa sebenarnya tujuan lo deketin mas Bima?",tanya Dimas dengan tatapan sinis pada Tari. Mendengar pertanyaan dari Dimas itu membuat nya melongo,apa sebenarnya maksud dari pertanyaan ini,dan bagaimana pandangannya terhadap ku hingga menanyakan hal seperti ini?",pikir Tari,

__ADS_1


"Apa maksudmu?",


" Heh..masih berpura-pura, lo pasti ada motif tersembunyi kan",jawab Dimas yang masih kukuh dengan ucapannya.


"Berpura-pura?, aku sungguh tak mengerti?", jawab Tari dengan ekspresi yang sangat bingung.


" Memang ya...gue tahu kalau lo hanya pura-pura lugu,lo itu sebenarnya sama aja kan kayak cewek yang lain matre dan hanya mengincar sesuatu dari mas gue",mendengar perkataan Dimas terhadapnya membuat hatinya terpukul,tangannya mengepal dan tubuhnya gemetar menahan emosinya,namun,tanpa disadarinya air matanya mengalir begitu saja,itu karena ia terkejut tanpa tau apa salahnya tiba-tiba saja di berikan pertanyaan yang bahkan sangat menyakitkan baginya.Dimas yang melihat air mata itu terkejut.


"Terserah apa pun yang kamu fikirkan tentangku,"jawab Tari dengan suara bergetar karena menangis,ia pun melangkah pergi meninggalkan Dimas yang mematung di depan pintu.


" Kenapa sih dia cengeng banget,padahal gue cuman ngomong kenyataan nya aja,apa gue salah ",ucap Dimas dalam hati, seraya menutup pintu.


" Nek...hiks...apa sewaktu dulu aku pernah melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain.. hiks..mengapa aku harus menerima semua ini apa aku sedikit pun tak berhak bahagia hiks....",Tari terus menangis sambil memeluk foto itu, dan semakin lama ia merasa lelah menangis dan tanpa sadar ia pun tertidur.


Tari pun terkejut mendengar suara yang begitu nyaring,spontan saja ia pun terbangun dari tidurnya,ia berusaha membuka matanya, namun entah mengapa sangat sulit,hingga ia mencoba meraba alaramnya dengan asal,beruntung ia menemukan alarmnya dan segera mematikannya.

__ADS_1


Kini ia sedang didepan cermin,ia sedang memperhatikan matanya yang bengkak karena ia menangis begitu lama tadi malam.


"Aduh...gimana nih,mata ku...rasanya aku tak mau kesekolah kalau begini", kata Tari sambil terus bercermin sambil memegang matanya yang bengkak.Namun ia harus tetap sekolah demi mencapai mimpinya,mimpi yang terbilang sederhana yaitu menjadi apa saja untuk mengubah nasib hidup keluarga nya.


_ _ _ _ _


Kini Tari sedang berada di depan kelasnya,namun ia tak kunjung masuk ia malu,pasti akan menjadi pertanyaan saat teman sekelasnya melihat matanya.Ia pun menarik nafas lalu menghembuskannya.Ia pun melangkah masuk seraya menunduk,untuk sesaat ia merasa aman karena tidal ada yang menyadari,dan ia pun segera duduk di sebelah Ningsih.


" Ah Tari... kamu sudah datang aku kangen kamu,dan sangat capek,"ucap Ningsih seraya merangkul Tari.


"Memang kamu ngapain aja?", Tanya Tari.


" Aku seharian di ajak papa ke perusahaan,ia bilang sebagai anak tunggal aku harus belajar bagaimana mengelola perusahaan furniture papaku sebagai pewarisnya",jawab Ningsih dengan wajah cemberut, Tari mengerti keluhan temannya itu,karena cita-cita Ningsih adalah menjadi seorang desainer dan makeover yang terkenal.


"Iya aku ngerti bagaimana perasaanmu,tapi tidak ada salahnya juga kamu mencoba belajar mengelola perusahaan papamu,siapa tahu suatu saat kamu tertarik", jawab Tari sambil mengelus puncak kepala Ningsih.Tari yang mendengar pernyataan Tari lantas melepas pelukannya dan menatap Tari,ia pun tentu saja menyadari ada yang berbeda dari mata itu.

__ADS_1


" Tari matamu...kenapa",kata Ningsih menatap serius wajah Tari


"Ah...ini...tadi malam mata ku kemasukan sesuatu,kukucek dan saat aku bangun mataku tiba-tiba saja sudah begini", kata Tari seraya menyunggingkan senyum. Ningsih hanya Diam ,meski dengan senyum itu ia masih bisa merasakan kalau apa yang dikatakan Tari tak sepenuhnya benar,ia tahu kalau Tari tak pandai berbohong seperti biasanya,namun ia hanya diam ia mencoba untuk mengerti,mungkin Tari masih belum siap menceritakannya padanya.


__ADS_2