
"Apa yang harus aku lakukan, dan apa yang terjadi padaku,kenapa... bahkan sekarang aku merasa aneh saat melihatmu, dan mungkin rasa itu adalah karena kesalahan yang telah aku lakukan padamu dimasa lalu,dan jujur jika aku bisa aku ingin meminta maaf dan memperbaiki semuanya."
Dear:Dimas.
Pagi itu sama seperti pagi yang biasanya,semua orang akan memulai aktivitasnya masing-masing,namun lain halnya dengan Dimas yang sejak kepulangannya dari Bogor kemarin ia terus merasa gelisah dan rasa bersalah,dan seperti saat ini, ketika Dimas sedang mandi,biasanya ia hanya memerlukan waktu sebentar untuk membersihkan dirinya,tetapi kali ini ia malah lama dari biasanya,bukan tanpa alasan, lantaran ia masih memikirkan alasan kegelisahannya,atas apa yang ia dengar dari mulut Tari.Seketika ingatannya kembali pada saat dimana Tari memberi tahu Ningsih alasan kepergian nya.
_ _ _ _ _ _ _ _
" Sudah jangan marah,Dimas dan Tari sebaiknya kalian berdua bicara jujur sekarang juga ceritakan semuanya padaku sekarang! ",perintah Tari yang sudah tak tahan lagi ingin segera mengetahui alasan yang sebenarnya.
Mendengar pertanyaan Ningsih Tari lantas menatap wajah Dimas, kemudian ia kembali menatap wajah Ningsih dan mulai mencoba bicara.
" Ningsih, kamu tahu kan aku anak yatim piatu?",tanya Tari.
"Iya tentu saja aku tahu,dan aku tahu semua tentang keluarga mu", jawab Ningsih yakin.
"Dan karena alasan itulah aku pergi dari rumah Dimas",
" Apa maksud mu? ",
" Karena itulah, karena aku anak yatim piatu, bukan berarti aku akan selalu mengatas namakan statusku untuk memperoleh rasa simpati dari keluarga itu,aku harus belajar hidup mandiri,bagaimana bisa aku menjadi orang sukses jika aku masih bergantung pada orang lain...ya kan?,tapi.... aku tahu jika semua orang yang ada disana adalah orang yang baik,dan aku juga yakin mereka tidak memandang ku dengan rasa simpati,semua nya baik padaku tanpa memandang rendah aku tak seperti orang-orang yang pernah aku temui sebelumnya,aku sangat senang berada disana, dan waktu yang aku habis kan selama ini yang telah aku lalui saat aku menjadi bagian dari keluarga itu...akan terus aku ingat selamanya",jelas Tari panjang lebar.
Ningsih yang baru saja mendengar penjelasan Tari terdiam,kemudian ia menatap mata Tari seraya menggenggam jemari Tari.
__ADS_1
"Kamu memang gadis yang baik Tari, aku tak salah memilihmu menjadi sahabatku,dan...aku sekarang merasa lega, karena aku pernah berfikir bahwa akulah penyebab kepergian mu,aku kira kamu lelah menghadapi sikapku yang manja,kekanak-kanakan dan selalu terkesan memaksa,karena itulah mulai saat kepergian mu aku mulai mempelajari tentang kepribadian,dan bagaimana cara memahami perasaan orang lain tanpa mereka perlu bicara,karena aku takut jika aku akan mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya,dan tanpa sadar aku menikmatinya dan mulai tertarik dengan ilmu psikologi dengan keinginanku sendiri. Dan....yang paling penting adalah...aku sudah memiliki kalian berdua,kalian berdua pun sudah cukup membuat ku bahagia", ucap Ningsih seraya merangkul kedua teman baiknya itu.
Sementara Dimas diam-diam hanya menatap wajah Tari dengan perasaan yang bercampur aduk.
" Kenapa?, kenapa dia malah berbohong, kenapa dia tidak memberitahu yang sebenarnya bahwa akulah...akulah orang yang penyebab kan dia pergi, kenapa?, jika begini hanya aku merasa yang merasa bersalah disini,"gerutu Dimas yang masih berada di kamar mandi,ia pun bergegas menyelesaikan mandinya.
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Ditengah-tengah lapangan universitas Ningsih tengah terlihat berjalan dengan tergesa-gesa sambil sedang menelepon seseorang,tanpa melihat dengan benar jalan yang ia lewati,ia masih saja melanjutkan langkahnya.
Dimas yang kebetulan baru tiba dan sedang memarkirkan motor nya tak sengaja melihat kearah Ningsih, ia bingung ada apa dengan Ningsih,karena penasaran ia lantas berjalan kearah Ningsih,mencoba menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Tari...kata Wiranti Tari sedang terluka",
" Apa!,terluka...bagaimana bisa? ",tanya Dimas yang cemas seketika.
" Aku juga nggak tahu,tapi kalau tak salah Wiranti bilang,ada yang melemparnya dengan batu",
"Apa siapa dia?",
__ADS_1
" Aku juga nggak tahu pasti makanya sekarang aku mau kesana,sudah dulu ya",ucap Ningsih seraya berbalik.
"Ningsih tunggu!",
" Ada apa lagi",
"Aku juga ikut",
" Apa mau ikut?,"ulang Ningsih heran.
Sekitar kurang lebih satu jam akhirnya mobil yang dikendarai oleh Ningsih dan Dimas, tanpa diduga Dimas lah yang terlebih dahulu keluar dari mobil dan langsung mengetuk pintu kamar kos Tari.
"Tari...buka pintu nya,Tari...!"
Tak lama pintu itu terbuka, dan Wiranti lah yang membuka pintu itu.
"Syukurlah... kalian datang, ayo masuk lah",ucap Wiranti.
" Siapa yang datang Wiranti?",teriak Tari
__ADS_1
"Oh...ini...", belum sempat Wiranti selesai bicara Dimas pun langsung masuk untuk segera melihat keadaan Tari.Dan betapa kagetnya ia saat melihat dahi Tari yang tertutup oleh perban,dan begitu pula Tari yang juga terkejut setelah melihat Dimas yang tiba-tiba berdiri didepannya.
" Dimas ",gumam Tari. Dimas hanya terdiam,sikap antusias yang awalnya ia rasakan sebelumnya, sekejap lenyap,setelah melihat Tari yang tengah menatapnya,seketika fikirannya kosong ia tak tahu lagi apa yang harus ia katakan dan lakukan.Sementara Wiranti dan Ningsih masuk begitu saja melewati Dimas yang mematung.