Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
19.Tak Bercanda.


__ADS_3

 


Dimas yang takut suara Tari terdengar sampai ke bawah apa lagi sampai terdengar oleh ibunya.


 


"sstt,bisa diam nggak sih nanti ada yang dengar gimana,lo denger ya gue itu nggak bermaksud ngintip lo lagian lo kan bukan tipe gue,lebih baik gue nonton artis dari pada ngintipin lo,lo itu...(masih sambil mengoceh),


Tari yang sejak tadi mendengar ocehan Dimas pun mulai habis kesabaran,ia tak tahan lagi tangan Dimas yang sejak tadi menutupi mulutnya hampir membuatnya kehabisan nafas,


" Awwww",pekik Dimas yang kini kakinya sedang diinjak oleh Tari spontan saja ia pun melepas tangannya.


"Rasain emang enak,itu juga nggak sebanding dengan menutup mulutku,hampir saja aku kehabisan nafas tau", omel Tari yang langsung melangkah pergi dengan langkah agak pincang,walau pun kakinya sakit ia harus segera pergi dari anak manja itu berurusan dengannya membuat Tari jadi pusing.


_ _ _ _ _

__ADS_1


 


Tak terasa hari pun sudah menjelang sore,kini Tari sedang berada di taman bunga untuk menyiram tanaman,memang tempat itu adalah tempat pavoritnya.Matanya kini teralihkan ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki pagar yang dibukakan oleh pak Dhanu.Tari sangat kenal dengan mobil itu adalah milik Bima,kini bima mulai membuka pintu mobil dan segera keluar dan melangkah menuju pintu masuk namun langkah nya terhenti saat melihat gadis manis yang kini tengah melihatnya,sontak saja ia langsung memutar arah menuju tempat gadis itu berada.


 


" Aduh,mas Bima sepertinya mau...ke sini ya,aduh gimana nih apa yang harus aku lakukan",gumam Tari sambil melangkah kecil dan bahkan agak membungkuk seperti ingin sembunyi, namun sudah terlambat kini Bima sudah ada disamping nya dan sedang menatapnya sambil menahan tawa.


"Hai,bagaimana keadaan mu ,kudengar kaki mu terluka tapi kenapa kamu malah disini bagaimana kalau nanti terkena air bisa infeksi loh", kata Bima sambil melihat lutut Tari yang di balut perban.


" Ah, tidak apa ini hanya luka kecil,tapi...bagaimana mas Bima tahu kalau aku terluka."Tanya nya dengan waja gugup namun ia berusaha menyembunyikannya.


" Oh..haha...aku tidak menyangka hal sekecil ini bisa terdengar sampai kepada mas Bima,"


katanya tertawa kecil,ia malu bagaimana bisa mas Bima mengetahui hal yang bahkan tidak terlalu penting ini.

__ADS_1


"Apa maksudmu hal kecil,luka itu pasti sakit bagimu dan lagi pula jangan lagi kau menganggap seperti dirimu itu tidak berharga kamu itu...", Bima pun terhenti bicara hampir saja ia mengeluarkan kata hati yang sedari tadi ia tahan.


" Aku... kenapa mas Bima?",tanyanya dengan wajah penasaran.Bima masih diam ia bingung pada dirinya, tak biasanya ia seperti ini,biasanya apa pun yang ada di fikirannya selalu ia keluarkan dengan mudahnya,tapi mengapa..mengapa ia jadi naif jika bersama Tari,namun ia tak boleh begini,ia tak boleh berbohong pada hati dan fikirannya,ini bukanlah dirinya.


"Karena kamu berharga,berharga bagi semua seorang dan..sangat berharga dimataku", ucap Bima dengan mudahnya tanpa ekspresi ragu atau malu,namun Tari,kini tengah tertunduk malu ia takut Bima melihat wajahnya yang kini merah padam,baru pertama kalinya ia dianggap berharga oleh seorang pria dan lagi pria itu adalah Bima,pria yang diam-diam ia kagumi.


" Mas,Bima juga bisa gombal aku nggak nyangka,mas Bima kelihatannya bukan orang yang pandai menggombal,tapi ternyata boleh juga",ucap Tari sembari tertawa kecil,Bima yang mendapat respon seperti itu dari Tari sontak menatap Tari Bingung.


"kau bilang gombal?", tanya Bima yang masih bingung


" Iya,ngegombal jangan bilang mas Bima tak tahu artinya",kata Tari mengolok,Bima yang tak terima atas perkataan Tari sontak meraih tangan kanan Tari dan menggenggamnya,dan tentu saja Tari pun langsung terkejut dan refleks menatap wajah Bima yang kini menatapnya serius.


"Tari,kamu tahu aku ini bukan tipe orang yang pandai menggombal dan bahkan aku tak pernah melakukannya,apa pun yang aku katakan adalah sesuatu yang berasal dari kata hati dan fikiranku,jadi jangan pernah anggap apa pun yang aku ucapkan selama ini hanyalah omong kosong", ucapan Dimas kali ini membuat Tari terdiam ia kini tertunduk tak sanggup lagi ia menatap wajah pria itu,ia tak tahu harus bagaimana ia tak tahu apa maksud dari perkataan Bima kepadanya.


" Ah mas..Bima nggak masuk sudah sore,nanti mas Bima telat mandi,telat makan malam dan....",celoteh Tari seraya melepaskan tangannya dari genggaman Pria itu,dan ucapannya pun terhenti,karena ia sendiri pun tak mengerti apa kini yang ia ucapkan.

__ADS_1


"Ah..anu.. kalau gitu saya permisi dulu mas Bima saya baru ingat kalau ada sesuatu yang harus saya lakukan", ucap Tari setengah berlari, kaki yang sakit pun seakan tak terasa saking gugupnya,ia terus berjalan meninggalka pria itu di taman.


" Benar-benar gadis yang lucu",gumam Bima tersenyum seraya ikut melangkah masuk.


__ADS_2