Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Sulit Tidur.


__ADS_3

"Apa aku melakukan hal yang salah jika aku menolak nya?, meski pun begitu aku rasa ini adalah satu-satunya pilihan, karena cinta tak bisa dipaksakan,jika terjadi baik aku maupun dia pasti ada yang tersakiti.


" Dear:Tari.


"Maafkan aku Elang, aku tak bisa membalas perasaan mu", ucap Tari dengan wajah menunduk.


" Kenapa?, apa kamu masih menganggap aku main-main,atau...kamu sudah menyukai orang lain siapa?, siapa dia apa aku mengenalnya?",tanya Elang yang yang tak merasa puas dengan jawaban Tari.


"Tidak... bukan itu...bukan semua itu alasan nya,hanya saja...",


" Hanya saja apa?",tanya Elang,namun Tari hanya terdiam,ia tak tahu harus berkata apa,harus kah ia menceritakan tentang kegagalan cinta pertama nya,sedang kan Elang masih terlalu asing baginya,tak lazim jika ia terlalu terbuka pada orang yang belum lama ia kenali itu.


"Hanya saja...,aku masih belum memikirkan ini semua, aku hanya ingin hidup tentang, seorang diri dan jika ada jodoh aku pasti akan menerima nya jika itu memang sudah takdir,tapi.... sekali lagi aku minta maaf padamu,karena selama ini aku menganggap kamu sudah seperti saudaraku,dan aku tak pernah menyangka jika kamu malah memikirkan hal yang berbeda tentang ku,maaf...", jawab Tari seraya kembali menunduk,seketika mereka berdua terdiam, hanya ada keheningan yang menambah canggungnya suasana kedua orang itu.

__ADS_1


Setelah lama terdiam, Elang yang merasa semakin tak nyaman pun mulai angkat bicara.


" Ayo kita pulang, ini sudah malam sebaiknya kita harus segera pulang ",ucap Elang seraya berdiri, namun lain halnya dengan Tari, ia malah hanya terdiam, bukannya ia tak mendengar apa yang dikatakan Elang, namun..ia merasa tak enak pada Elang,sungguh tak tahu malu jika ia masih menerima kebaikkan Elang saat ini yang ingin mengantarnya pulang, padahal baru beberapa menit yang lalu ia baru saja menolak perasaan lelaki itu,hal itulah yang kini membuat nya tak berani menjawab ajakan dari Elang.


" Hei Tari,hei...kenapa kamu hanya diam, apa kamu sedang melamun,atau...",ucapan Elang lantas terhenti,karena saat ini Tari tengah menatap nya dengan sorot mata yang aneh,dan entah mengapa ia langsung mengerti, maksud dari gadis itu,dari sorot mata itu ia pun mengerti, "apa...dia seperti ini karena ia merasa tak enak padaku,?",ucap Elang dalam hati.


" Hei Tari tak usah fikirkan,kamu tak perlu merasa tak enak padaku, aku mengerti..,dan jika memang kamu menyukai orang lain dan aku melihat nya sendiri dengan mata kepala ku,aku akan rela melepaskan mu,tapi....jika seandainya cinta mu bertepuk sebelah tangan,maka jangan ragu,datang lah padaku... aku akan selalu menunggu mu kapan pun kamu membutuhkanku",ucap Elang yang sudah sangat jelas bahwa ia tak akan menyerah begitu saja.


"Ayo naik,kita harus segera pulang", suruh Elang yang sudah berada di atas sepeda motor milik nya.Tari hanya diam namun ia menurut untuk ikut Elang, dan mereka pun mulai melaju meninggalkan tempat itu.


 


Pada saat yang bersamaan,Dimas tengah rebahan dikamarnya,seperti apa yang sudah dikatakan oleh dokter, meskipun ia sudah diperbolehkan pulang, tapi tetap saja...ia tak boleh terlalu banyak bergerak, bahkan ia juga harus cuti sekolah hingga luka nya benar-benar sembuh.

__ADS_1


 


Sudah hampir setengah jam ia terus mengotak atik kameranya,tak henti-hentinya ia mengulangi memandang beberapa foto di kamera itu,dan kali ini ia berhenti pada satu gambar yang menampakkan wajah seseorang yang sedikit ia rindu kan,yaitu wajah Tari.


Begitu pula dengan Tari, saat ini ia juga mencoba untuk tidur namun nihil,sudah hampir satu jam tapi mata itu tak kunjung terpejam,ia kembali teringat akan kejadian beberapa jam yang lalu,saat dimana Elang menyatakan perasaannya,lelaki yang begitu baik dan perhatian,siapa pun pasti akan bertekuk lutut memohon cinta nya,sebenarnya Tari sudah menyadari nya sejak lama,dan pernah ada niat untuk nya menerima lelaki itu,namun entah mengapa ia menolak, ia bingung pada dirinya sendiri,ia takut jika suatu saat Elang akan menyesal karena telah memilih nya,Tari terus saja berfikir apakah ia masih belum bisa bangun dari trauma nya,atau kah karena hal lain tapi apa?,apa yang membuat nya jadi seperti ini?.


Seketika ia teringat akan sosok seorang lelaki yang tak seharusnya ia fikirkan, sosok lelaki yang juga sangat membenci dirinya,hanya karena ia sudah berlaku lembut padanya dan menyelamatkan nyawanya beberapa kali bukan berarti ada maksud terkhusus dari Dimas, semua itu mungkin hanyalah kebetulan semata,mana mungkin dia menaruh rasa padaku yang hanya sebutir kerikil diantara ribuan kerikil lainnya,apa yang kuharapkan,semua itu sudah pasti tak mungkin, aku pasti sudah gila.


Ia kembali mencoba memejamkan matanya,namun wajah itu semakin jelas terlihat, ia kembali membuka matanya.


"Apa kamu (lo), juga merasa kan hal yang sama seperti ku(gue) sekarang?",gumam mereka berdua berbarengan dan diwaktu yang sama.


Perlahan namun pasti,Tari perlahan mulai merasa mengantuk,begitu pula dengan Dimas, kini dua orang itu pun terlelap.

__ADS_1


Siapa yang tahu dan menyangka,tanpa mereka sadari,ada satu hal yang bisa membuat hati mereka tenang saat ini, namun mereka tak mengerti, dan tak menyadari bahwa,perasaan adalah hal yang sulit di mengerti, meski terkadang terkesan sederhana,namun banyak orang yang masih bingung karena nya.


__ADS_2