
"Lo tahu nggak apa yang lo lakuin ini benar-benar membuat gue marah**!".
Kini Dimas sudah setengah perjalanan menuju kediaman Max,ia benar-benar tak sabar ingin cepat kesana menemui Tari. Namun ia pun perlahan melambatkan laju motornya, dan kemudian berhenti disisi jalan.
" Buat apa juga gue ke sana ya?dan apa yang gue lakuin Kalau ketemu dia?",ucapnya dalam hati,sembari duduk diatas motor berhenti, namun mesin yang masih menyala.
Ia pun ingin memutar balik motor nya namun berhenti saat ponselnya berdering di saku celananya,ia segera menambil ponsel dan melihatnya.
"1 message from:Max", Dimas kembali mengangkat sebelah alisnya,kenapa lagi dia ini?fikirnya ,kini ia tercengang pasalnya pesan itu berisi sebuah gambar yang berhasil membuat nya terbelalak,foto yang hampir sama dengan sebelumnya,namun ada perubahan dibagian belakang dimana terpampang Ridho yang sedang mengelap bibir Tari dengan tisu,Dimas seketika geram,rahangnya mengeras amarahnya berkobar,ia kembali melihat foto itu dan ia pun kian marah hampir saja ia lempar ponselnya,namun akal sehatnya masih bisa ia kendalikan,
" Kalau aja dia punya punya ponsel udah gue suruh pulang secepatnya dan..",tiba-tiba ucapannya terhenti ia berfikir, benar juga kenapa selama ini tak terfikirkan bahwa Tari tak mempunyai ponsel kalau saja dia punya ponsel pasti tak akan sesulit ini. Ia pun kembali menggas motornya dan melanjutkan niat sebelumnya.
_ _ _ _ _ _
__ADS_1
Sebagian besar tamu perempuan di pesta itu kini berkumpul di ujung taman,entah apa yang mereka ributkan namun seperti sedang mengerumuni sesuatu yang menarik.
Max memperhatikan dari kejauhan ,ia seperti melihat sosok pria di kerumunan itu,sempat berfikir olehnya bahwa itu adalah Dimas, namun ia pun menggelengkan kepala tak mungkin baginya Dimas akan kesini apalagi harus berurusan dengan para cewek yang pasti akan mengganggu nya.Tapi perlahan sosok itu mulai jelas,berhasil melewati kerumunan itu,mata Max pun terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat,semakin lama Dimas makin mendekat kearah mereka berempat berada.
"Dimas,lo kesini", ucap Max yang sontak membuat tiga orang itu terkejut,Dimas hanya diam,tatapannya yang tadi menghadap Max sekarang beralih menatap Tari.
" Max akhirnya Kamu datang,aku kira nggak akan melihatmu malam ini",ucap Ningsih yang tidak sekali pun digubris olehnya.
"Tari ayo pergi..", ucap Dimas seraya menarik tangan gadis itu,
"Gue bilang pergi, ya ikut aja kenapa sih pake nanya", ucapnya dengan nada agak tinggi.
" Tapi kan..."
"Tapi apa lo itu cuma pembantu, turutin aja apa kata gue..", ia pun berhenti setelah mengucapkan sesuatu yang tak harus ia Kata kan,namun nasi sudah memjadi bubur,kebenaran bahwa ia hanyalah seorang pembantu kini membuatnya terpaku tak dapat berbicara, ia kini menunduk air mata nya perlahan keluar dari sudut matanya.Ia lalu memandang wajah Dimas Kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berlari.
" Tari,kau mau kemana ...Tari..,"teriak Ningsih mencoba menghentikan Tari namun tak ia hiraukan.
__ADS_1
"Dimas,kamu kenapa sih,kamu seharusnya tak mengatakan itu di depan semua orang,apa kamu memikirkan perasaannya,aku kecewa sama kamu Dimas", ucap Ningsih memaki Dimas ,kemudian berlari mengejar Tari yang lari entah kemana,walau ia sangat mengagumi dan menghormati Dimas selama ini,namun perlakuannya pada sahabatnya itu malam ini sudah benar-benar keterlaluan.Situasi itu tentu saja membuat kaget serta penasaran semua orang yang telah hadir mereka pun mulai berbisik,selain mereka yang tak Kalah kaget adalah Max,ia terkejut bagaimana mungkin sebagai teman dekat dari Dimas bahkan tak pernah tau tentang ini.
" Dim,jadi Tari itu kerja jadi pembantu di rumahmu?",tanya Max yang ingin langsung mendengar dari mulut Dimas.
"Ya dia kerja jadi pembantu di rumah gue", jawabnya denga nada bicara yang rendah ada rasa penyesalan dibenakknya.
" Tapi, kamu nggak harus mengatakannya di depan semua orang,tidak kah kau lihat tadi,betapa malunya dia",sambung Ridho dengan meninggikan suara nya.
"Heh..emang lo siapanya dia hah,pacarnya..lo itu bukan siapa-siapa jadi nggak usah ikut campur", ucap Dimas yang juga meninggikan suara nya seraya menarik kerah baju Ridho.
" Hei Dim,ayolah jangan ribut disini tenanglah..berkelahi tak akan menyelesaikan masalah man,"Kata Max seraya berusaha melepas tangan Dimas dari kerah Ridho. Dimas pun melepas dengan kasar.
"Intinya sekarang kita harus menemukan Tari,dan kamu Dimas minta maaflah padanya,dia pasti sakit hati Dim," bujuk Max pada Dimas
"Apa minta maaf,lo pasti sudah gila kalau nyuruh gue minta maaf sama dia", ucap Dimas dengan nada sinis.
" Terserah kamu Dim,aku hanya mengatakan demi kebaikkan mu,tapi fikirkan lah kembali Dim,jangan salahkan jika dia akan membencimu,ayo Dho kita cari Tari dan Ningsih.",ucap nya sambil menepuk bahu Dimas dan langsung lari bersama Ridho.
__ADS_1