Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
12.Mulai Ada Rasa.


__ADS_3

 


Setelah,beberapa lama terperangah,Tari pun tersadar dan refkeks menundukan kepalanya,lalu Bima pun berhenti tepat di depan Tari sejenak ia pandangai gadis itu yang sejak tadi terasa asing baginya.


 


"Ma, dia siapa ya?",kata Bima,belum sempat


mamanya menjawab tari sudah terlebih dahulu memperkenalkan diri.


" Saya,perkenalkan nama saya Tari,saya pembantu yang baru bekerja disini tuan",jawab Tari dengan suara agak keras karena gugup.


"Ohhhh,saya mengerti tapi kenapa kamu terus menunduk saya kan jadi susah juga memperkenalkan diri", kata Bima dengan suara lembut begitu lembut,sangat berbeda dengan adiknya yang selalu membentak dan berbicara kasar padanya hingga membuat jantungnya berdegup tak beraturan,kemudian ia mberanikan diri mengangkat kepalanya.


" Hai Tari,perkenalkan nama saya Bima,semoga kamu betah bekerja disini dan saya lihat sepertinya kamu masih sekolah,jangan terlalu memaksakan diri bekerja ,kami tidak pernah melarang siapa pun dirumah ini yang masih niat belajar,dan tak perlu memanggil saya tuan, panggil saja mas, abang atau apa pun asal jangan tuan ok!!!",jelas Bima sambil tersenyum manis,membuat Tari jadi salah tingkah sendiri.Tari pun mengangguk sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.


"Ka..kalau gitu saya pamit dulu" pamit Tari seraya melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


Sesampai dikamarnya Tari langsung menutup pintu dan dan bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya,ia tidak tau semenjak ia pertama kali melihat Bima jantungnya kian berdetak tak menentu.


"Ya Tuhan apa yang terjadi padaku..kenapa aku seperti ini,tapi kuakui mas Bima memang sangatlah lembut dan perhatian,siapapun wanita yang berhadapan padanya pasti akan salah tingkah,tapi apalah dayaku mas Bima tak mungkin bisa kugapai ia bagaikan rembulan yang bersinar terang sangatlah tinggi.Kemudian Tari pun menghembuskan nafas panjang kembali dan ia pun menghempaskan diri diatas kasurnya.


" Kau sungguh tak tau malu,sudah diberi kebaikkan malah ingin lebih ,sadarlah Tari",katanya menyumpahi dirinya sendiri sambil terasenyum kecut.


 


\*


 


"Bu Minah maaf,kalau saja Tari bisa memasak


pasti bu Minah tak nggak perlu telat pulang seperti ini,pasti keluarga ibu sudah menunggu


di rumah", kata Tari menunduk merasa bersalah.

__ADS_1


" Nak,ibu ikhlas melakukannya walau pun ibu harus tak pulang sekali pun ibu rela,karena keluarga ini sangat berjasa bagi kami,membantu kami dengan tulus membantu kami, jadi meski mengabdi selamanya pun ibu siap,Tari.. ibu harap kamu tetap terus bekerja disini, ibu yakin kalau kamu tidak melakukan hal buruk pada keluarga ini kamu pasti takkan menyesal, mereka akan menyayangimu layaknya putri mereka dan siapa yang tahu mungkin disini adalah titik awal dari masa depanmu yang cerah dan mungkin akan menemukan cahaya takdirmu,"ucap bu Minah sambil menggenggam hangat tangan Tari .


"Iya,makasi bu..atas nasihatnya", jawab Tari yang refleks memeluk bu Minah,awalnya bu Minah agak kaget namun bu Minah pun membalas memeluk Tari,Tari tak mengerti saat ia berada dalam pelukan wanita itu hatinya merasa tenang dan nyaman,walau ia tahu itu bukanlah sosok ibunya entah mengapa terasa sangat mirip dekapan ibunya.


" Tari..kalau gitu ibu pulang kamu bisa kan menyiapkan tempat makannya,tadi sudah ibu taruh beberapa kamu hanya perlu menaruh sisanya lagi di atas meja",pamit bu Minah seraya melepas dekapannya dan belalu pergi.Tari pun mengangguk mengiyakan.


 


Setelah beberapa menit akhirnya Tari pun selesai menata makan malam diatas meja dengan rapi.Ada rasa bangga dihatinya kini ia sudah mulai mahir dengan beberapa kebiasaan di keluarga ini hingga kini ia sudah bisa menata meja makan ,hanya memasak yang belum ia kuasai,sebenarnya ia biasa memasak waktu dirumah namun ia takut masakannya mungkin tidak akan sesuai dengan selera keluarga ini.


 


"Akhirnya...selesai juga semua sudah siap,pasti sebentar lagi mereka akan segera turun."


Benar saja tak lama setelah itu om Bagus,tante sulis,dan kedua putranya pun sedang menuruni tangga menuju meja makan.Tari yang sedang menatap keempat orang itu ,tiba-tiba pandangannya terfokus pada satu orang yaitu Bima,wajah lembut dan tatapan yang teduh itu selalu mampu mengalihkan perhatiannya Tari sungguh sangat mengagumi sosok Bima.Tanpa diasadari oleh Tari ternyata sejak tadi Dimas terus memperhatikan pandangan Tari dan ia pun membalikkan kepalanya mengikuti arah pandangan Tari,dan terhenti pada wajah kakak laki-lakinya.


"Whattt,ngapain dia liatin mas Bima kayak gitu,jangan-jangan punya niat jahat..gue nggak akan tinggal diam gue bakal ngawasin dia ,kalau sampai ia memang berniat jahat gue sendiri yang akan nendang dia keluar dari rumah ini", kata Dimas bicara dalam hati

__ADS_1


__ADS_2