
Setelah Tari dan Adit kecil masuk,Adit sudah memegang sebuah mobil\-mobilan dan mengajak tari bermain,namun tari malah bertanya yang membuat Adit kecil
kebingungan.
"Adiiiiit,tadi katanya mau main sambil belajar ,kok cuman main sih".
" Heheeee,main sebental yuk abis ini Adit belajal deh".
"Janji ya,habis ini kita belajar,sebentar lagi kamu akan masuk TK,kalau belum bisa membaca nanti mau kalau nggak dibolehin masuk TK gara-gara Adit nggak bisa membaca emang mau ,hemm?",kata tari menakuti Adit kecil.Adit kecil pun menggeleng dengan ekspresi lucu .
" Nah kalau gitu ayo belajar yuk,Adit sayang!!!!",bujuk Tari.Kemudian mereka pun belajar sambil bermain seperti bermain menghitung di buku menggambar,dan hal lainya yang masih mengandung dedikasi yang mungkin berguna untuk bekal Adit kecil akan masuk TK.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore,sudah waktunya kepulangan Ibu Sinta,benar saja samar\- samar terdengar suara sepeda motor yang semakin mendekat Tari sudah hafal dengan suara motor ibu Sinta."Tok,tok,tok!!!,terdengar suara pintu rumah yang diketuk,dengan sigap Tari membuka pintu dan mendapati Ibu sinta sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Ah,tante sudah pulang"
"Iya,nih tante bawa oleh-oleh buat kamu nenek sama adikmu," kata bu Sinta sambil menyodorkan plastik berisi makanan.
"Oh,terima kasih tante"
"Oh iya,Adit mana kok nggak kelihatan", tanya bu Sinta sambil matanya menjelajahi setiap ruang tamu.
" Oh,Adit tadi sudah tertidur,dia ada dikamar tante,"
"Oh iya,kalo gitu nih upah kamu hari ini,terimakasih ya sudah menjaga Adit,sampai menidurkannya pula maaf ya udah ngerpotin kamu hari ini,ucap bu Sinta sembari memberi uang lima puluh ribu rupiah.
"Tidak apa,kebetulan tadi saya dapat sedikit rejeki,dan anggap saja sedekah dari tante buat kamu,ah udah lah kamu cepat pulang udah hampir petang nanti nenekmu khawatir".
" Sekali lagi makasih tante saya pamit dulu" pamit tari seraya melangkah menuju ke rumahnya.Mata ibu Sinta pun mengiringi langkah Tari yang kian menjauh.
__ADS_1
\*
Tari pun sampai di depan rumahnya ,kini ia mengetuk pintu rumahnya,rumah yang bisa dibilang sederhana pintu dengan kayu yang sudah agak lapuk hingga ada rongga pada pintu, dinding bagian depan memang berdinding kayu namun bagian dapur nya terbuat dari anyaman bambu( gedek),Atap yang hanya dari atap daun kini sudah terlihat kering,sudah lama belum diganti,bukan sengaja tak diganti namun,bulan\-bulan ini memang banyak sekali pengeluaran bahkan untuk makan sehari\- hari saja kini makin sulit.Pintu rumah pun terbuka,adiknya yang membukakan pintu.
"Ah,kakak sudah datang" ucap adiknya sumringah.
"Nih kakak bawa oleh-oleh,bawa kedalam gih", ucap Tari seraya menyerahkan bungkusan yang tadi diberi oleh tante Sinta.
Tari pun masuk mengiringi adiknya dan segera menutup pintu.
" Nek,nih uang hasil upah Tari mengasuh anaknya tante Sinta tadi siang",ucap tari seraya menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah.
"Dan maaf ya nek Tari nggak bisa bantuin nenek mencuci tadi siang", ucap tari lagi dengan murung.
" Udah nggak usah khawatir,nenek mengerti,dan sebenarnya kamu tidak perlu bekerja fokuslah belajar nenek bisa cari uang untuk kamu dan adikmu.
"Udah lah nek,nggak perlu merasa khawatir,Tari ikhlas bekerja dan juga sebagai pelajaran buat tari agar menjadi anak yang mandiri",ucap tari meyakinkan.
__ADS_1
" Tari mau mandi dulu ya nek,nenek juga harus istirahat ya",ucap tari seraya menuju kamar mandi.
Sekitar 30 menit Tari pun selesai mandi dan bergegas menuju kamarnya ,lapar pun tak lagi ia fikirkan kini dia harus belajar,belajar dan belajar dia tidak ingin nilainya jatuh karena alasan pekerjaannya dia pun duduk dimeja belajarnya menghela napas panjang,kemudian mulai membuka bukunya dan belajar.