Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Kemarahan.


__ADS_3

"Hari ini aku baru menyadari suatu hal,sesuatu yang tak pernah kukira sebelumnya bahwa seperti nya Dimas diam-diam menyukai Tari, dan bagaimana dengan perasaan ku selama ini,aku sebenarnya juga menyimpan rasa pada Tari selama ini,namun jika Tari juga menyukai nya aku rela asal dia bahagia,walau mungkin akan terasa menyakitkan nanti nya."


Dear:Ridho.


Seperti biasa nya Tari selalu disibukkan oleh pekerjaannya,tak pernah lagi terlintas dihatinya adanya seorang lelaki yang bisa mengisi hatinya untuk mewarnai hari\-harinya


Setelah apa yang terjadi dahulu pada kegagalan cinta pertamanya,membuatnya mati rasa,rasa trauma akan kegagalan membuatnya tak mau lagi berurusan dengan hal yang namanya cinta,namun ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi kemarin malam ketika kedua orang yang tak terduga tiba-tiba menyatakan perasaan padanya,namun ia memilih menganggap bahwa yang terjadi hanyalah omong kosong, karena mungkin mereka hanya ingin memojokkan satu sama lainnya dengan membawa-bawa dirinya.


"Tari... hei...Tari.. ",panggil Laras yang membubarkan lamunannya.


" Ah...ya?",


"Kamu ini, kok dari tadi melamun terus lagi mikirin apa sih?"


"Em... nggak... nggak ada aku...aku hanya...aku hanya sedang memikirkan caranya agar kamu bisa mendekati Elang, dan...bukankah tempo hari lalu kamu melayaninya belanja,apa ada perubahan?", ucap Tari berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu Laras langsung menghela nafas.


" Ya...begitu lah,dia seperti nya tidak mau bicara pada orang lain,dan aku merasa aneh deh?",


"Aneh apa?", tanya Tari bingung.


" Kamu tahu tidak,waktu aku melayaninya waktu itu,aku berusaha bicara padanya tapi...",


"Tapi apa?", tanya Tari.


" Em...kamu pasti salah sangka,dia melakukan itu karena ia mengenalku, mungkin dia hanya sekedar mau menolongku karena aku memang perlu bantuan saat itu,dan kamu ini Laras, bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu,dengar ya...mana mungkin orang seperti dia suka dengan orang biasa seperti ku,tidak ada yang menarik dari diriku,dibanding kan itu,lebih masuk akal jika dia menyukai orang seperti mu,kamu cantik,manis dan aktif,siapa saja pasti suka dengan mu,asal kan kamu mau bersabar dan mendekati nya perlahan,aku yakin suatu saat dia pasti juga membalas perasaanmu,ayolah...senyum dong!,nanti mukanya nggak cantik lagi loh...",ucap Tari mencubit kedua pipi Laras, ia mencoba untuk meyakinkan teman nya itu.


"Iya kamu benar,aku akan berusaha..aku pasti bisa,terimakasih Tari kamu memang yang terbaik", ucap Laras seraya memeluk Tari.


" Iya,sudah ya,kamu ini seperti anak kecil saja,yuk kita kerja yuk!",ucap Tari.

__ADS_1


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, dari malam berganti siang,dan siang yang kembali berganti malam.Sekitar pukul sepuluh pagi adalah waktu yang terbilang masih pagi,sebagian besar orang masih beraktivitas normal diluar sana,begitu pula dengan Ridho yang tengah asyik memasak untuk menu makan siang,entah mengapa selama liburan ini Ridho jadi terbiasa bahkan bisa dibilang menjadi suka memasak,sebenarnya sudah lama ia sudah mahir memasak namun baru kali ini ia bisa mengekspresikan bakat terpendamnya itu,dan ia merasa senang saat melihat kedua temannya yang menyantap makanannya dengan lahap.Max,ia sedang keluar entah kemana dia sekarang, mereka sama sekali tak tahu,mungkin ia sedang mencari objek foto yang menarik untuk menambah koleksinya.


Sedang Dimas, entah apa yang rerjadi padanya hari ini sempat membuat bingung kedua temannya,pasalnya entah sejak pukul berapa,tanpa bergeming sedikit pun duduk termenung di jendela,jika diajak bicara dia hanya menatap diam sebentar dan kemudian kembali membuang pandangan nya keluar,sehingga mereka berdua bingung tak tahu harus berbuat apa selain membiarkannya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, entah ada apa gerangan Dimas malah duduk diluar berulang kali terdengar langkah kaki ia dengan cepat menoleh kearah jalan,namun sesaat wajahnya terlihat kecewa.


"Sedang apa dia diluar sana,tak biasanya ia seperti ini,dan seperti nya dia sedang menunggu seseorang,tapi siapa...siapa kah orang yang membuatnya begitu antusias menunggu hingga sepetang ini?", ucap Ridho dalam hati yang tanpa disadari oleh Dimas tengah mengawasinya dari dalam.


Setelah sekian lama akhirnya Dimas pun berdiri setelah melihat sebuah motor CBR melintas didepannya,seketika tangannya mengepal,setelah melihat motor yang biasa ia lihat yaitu milik Elang,namun bukan lah motor itu atau pemilik nya yang membuat nya marah melainkan siapa yang ia bonceng saat ini.


Tari...Tari adalah orang yang ia bonceng itu,dan entah mengapa membuatnya merasa sangat marah,apalagi gadis itu kini malah berbicara sambil tertawa riang pada lelaki itu,entah apa yang sedang mereka bicarakan.


" Lihat aja lo nanti,gue nggak akan tinggal diam,gue akan dapetin lo gimana pun caranya,gue akan buat lo jadi milik gue,cuman milik gue",ucapnya dalam hati, ia pun bergegas masuk kedalam kamar kosnya dengan perasaan marah, sehingga ia tak perduli saat ia menyadari Ridho yang berdiri memperhatikannya.

__ADS_1


"Ada apa ini,apa barusan aku tak salah lihat?,apakah dia seharian ini sedang menunggu Tari?,dan ia marah saat melihat Tari berdua dengan Elang,tidak mungkin...apa dia menyukai Tari, dan ia sedang marah karena cemburu?", ucap Ridho dalam hati, sambil juga melihat kearah kedua orang itu.


__ADS_2