
"Aku tak tahu mengapa kau berjejer dan selalu menikmati cahayaku,jika akhirnya kau malah semakin menjauh mencari susnan rasi bintang yang tak memungkinkanku bisa menggapaimu."
Siang hari sekitar pukul dua lewat tiga puluh menit,Seperti biasanya Tari melakukan pekerjaannya sepulang dari sekolah, ia kini tengah mencuci piring bekas makan siang,
"Tari, kamu sudah makan nak?" tanya bu Minah yang sejak tadi belum melihat Tari makan.
"Ah belum,saya memang belum lapar kok". jawab nya masih sambil mencuci piring.
" Kalau sudah lapar makanlah,jangan biasakan telat makan nanti bisa mengganggu pertumbuhanmu,kamu tahu anak seumuran mu ini masih perlu nitrisi yang lengkap dan bergizi lebih baik makan makanan rumah dari pada makanan luar,mengerti?",ucap bu Minah menekankan sambil mengelap piring yang sudah dibilas oleh Tari.
"Hiks..", tiba-tiba terdengar suara isak tangis,bu Minah yang mendengarnya pun langsung mengarahkan pandangannya ke wajah Tari, betapa terkejut nya bu Minah saat melihat derai air mata yang sudah membasahi kedua pipi mulusnya itu.
" Kenapa kamu menangis?, apa ibu terlalu kasar bicara padamu,maafkan ibu jika kamu merasa kalau perkataan ibu melukai hatimu."
Tari tak mampu lagi bicara,ia langsung saja memeluk bu Minah,dan menangis dalam pelukan beliau, bu Minah yang awalnya kaget perlahan membalas pelukan Tari dan mengusap puncak kepalanya perlahan
"Ada apa nak, apa benar karena berkataan ibu padamu tadi",
__ADS_1
" Tidak, hiks..saya..saya hanya reringat pada ibu saya bu Minah sangat mirip dengan ibu saya hiks..saat mengomel sangat mirip dengan ibu saya hiks ",ucapnya terbata karena isak tangisnya.Ibu Minah yang mendengar nya pun tersenyum,
"Kamu boleh mengangap ibu sebagai ibumu," ucapan bu Minah itu membuat Tari seketika menengadah menatap wajah bu Minah namun ia masih tak mampu bicara.Walau pun ia tak bicara tapi bu Minah mengerti bahwa ia ingin lebih diperjelas.
"Tari..kamu boleh memanggil ibu,Seperti kamu memanggil ibu kandungmu,dan kamu boleh bercerita tentang apa pun pada ibu,keluarkan seluruh keluh kesah yang ada di hatimu, baik itu sedih maupun senang ibu akan mendengarkan,ungkapkan semuanya Seperti kamu bercerita kepada almarhumah ibumu", ucap bu Minah menjelaskan panjang lebar agar ia mengerti.Tari yang mendengar nya pun kembali memeluk bu Minah.Ia bahagia karena semua kesedihannya selama ini satu persatu terbayarkan saat ini.
_ _ _ _ _ _ _ _ _
" Cih,buat apa juga gue mikirin cewek kampung itu kayak nggak ada kejaan aja",gumamnya mengomel pada dirinya sendiri,dan ia pun berdiri, seraya melempar bola besinya dengan kasar diatas sofa yang tadi ia duduki Kemudian ia pun keluar dari kamarnya.Saat menuruni anak tangga ia tak sengaja bertemu lagi dengan gadis itu,Tari kini sedang mengepel ruang tamu dengan posisi membelakangi Dimas, Dimas pun melangkah menuju ruang tamu dan duduk di sofa namun Tari sedikitpun mendengar langkah kakinya.Dimas kini sedang memperhatikan Tari dari belakang ia terus menatapnya dari atas kepala hingga ke kaki.
"Apa sih yang menarik dari cewek kampung ini sampai-sampai mas Bima menyukainya."Ucap Dimas dalam hati,ia tahu betul kalau masnya kini menaruh perasaan pada Tari namun ia masih tak mengerti apa yang menarik dari gadis ini.
Tari kini bermaksud mengepel bagian ujung ruanga ia pun sedikit berbalik dan betapa terkejut nya ia saat melihat ada seseorang sedang duduk disofa tanpa suara dan tak tahu sejak kapan.
"Dimas,kamu ngagetin aja ngapain kamu disitu sejak, kapan?", Ucap nya sambil memegang dadanya.
__ADS_1
" Suka-suka gue lah mau ngapain, ini kan rumah gue,harus minta izin dulu sama lo gitu",jawabnya dengan tatapan sinis.Tari yang tak mau berurusan dengan Dimas memilih diam dan menahan rasa kesal yang ia tahan.
"Drettt", tiba-tiba ponsel Tari pun berdering,ia pun segera merogoh ponselnya di saku celananya.
" Halo,mas bima ada apa menelpon?",Dimas yang tak sengaja mendengar tari menyebut nama mas Bima langsung memasang wajah tak suka.
"Tari kamu lagi apa?", ucap Bima di sebrang sana.
" Emm..saya sedang mengepel lantai,kenapa apa terjadi sesuatu ",
" Tidak ada,aku hanya ingin mendengar suaramu dan ingin tahu apakah kau sudah ingin menjawab pernyataan ku waktu itu",Tari hanya diam dan tanpa sadar memutuskan telepon sepihak.
"tuuut...tuutt",
"Halo Tari..halo,Bima pun melihat layar ponselnya," dimatikan ya ",gumamnya dengan wajah kecewa,tanpa disadarinya gadis yang sejak tadi ada di sebelahnya terus memperhatikannya,ia adalah Maya Mustika,a biasa di panggil May.Teman sejurusannya yang sama-sama dari jurusan yaitu administrasi karena Bima yang tertarik meneruskan perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang properti.Sedang gadis itu adalah anak dari pengusaha batu permata yang lumayan terkenal di Indonesia, gadis terheran-heran melihat Bima ,sesaat sebelumnya wajah pria itu begitu cerah tapi begitu telepon itu di putuskan wajah nya berubah cemberut dan terlihat gusar.
" Apakah itu dari pacarnya,sehingga ia begitu prustasi".Tanyanya dalam hati ada rasa cemburu di hatinya karena sudah sejak lama ia menaruh simpati pada sosok pria yang ada di sampingnya itu.Ia hanya diam ia tak ingin mengganggu Bima meskipun ia sangat ingin tahu.
__ADS_1