Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Kerumah Teman Laki-Laki.


__ADS_3

"Gadis yang sedari dulu kudambakan itu kini sangat dekat denganku,hati ku sangat bahagia,namun ada rasa sedih,karena sampai saat ini,detik ini,dan sedekat ini,aku masih tak mampu mengutarakan isi hatiku padanya".


Dear:Ridho.


 


Tari kini tengah berdiri didepan pagar rumah,ia tengah menunggu ningsih yang berjanji akan menjemput nya.Tak lama kemudian sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat pun berhenti didepan nya,ia sangat kenal dengan mobil itu,mobil sahabatnya Ningsih.


 


"Hei,sudah menunggu lama?, maaf ya lama,soalnya tadi aku membeli kue dulu untuk kita nanti ,lihat nih!",ucapnya yang masih duduk di dalam mobil seraya mengangkat kotak kuenya,


" Ah nggak apa kok,aku juga baru berdiri disini",jawab Tari.


"Kamu mau sampai kapan disitu,nggak mau masuk?,cepat duduk sini",


Tari pun segera masuk dan mobil itu pun segera melesat meninggalkan tempat itu.


"Cih,memang orang-orang yang rajin", kata Dimas yang sejak tadi memperhatikan mereka dari balkon.


Mereka pun sampai di depan rumah Ridho,dan turun di depan pagar putih yang menjulang tinggi.


Ningsih kini tengah merogoh ponselnya, ia malas mengetuk pintu pagar itu dan memilih menelpon Ridho agar cepat.


" *Drtt...drtt....drttt...",


"Halo,ada apa Ning*",


" Ini nih,kamu sudah ada di depan gerbang rumah mu,cepat buka dong aku dan Tari sudah kepanasan nih!".

__ADS_1


Mendengar nama Tari hatinya pun berdebar-debar,seketika wajahnya sumringah,memang sejak tadi orang yang paling ia nantikan adalah gadis itu,gadis yang selalu ia fikirkan namun tak berani menyatakan perasaannya pada gadis itu.


"Ok akan segera di buka", jawab Ridho seraya menyuruh satpam membukakan gerbang rumahnya.


Tak lama pintu gerbang itu pun terbuka,


" Silahkan masuk tuan muda sudah menunggu di dalam",kata seorang pria paruh baya yang mengenakan baju satpam itu,


"Baik,terimakasih paman,ucap mereka berbarengan,mereka berdua mulai melangkah masuk.


"Wah....sudah lama ya sejak berakhir kali kita kesini,namun tak ada yang berubah taman bunganya masih tertata dengan indah", ucap Tari kagum.


" Iya",jawab Ningsih,


Akhirnya mereka berdua pun sampai di depan pintu,Ningsih segera memencet bel rumah itu,sedang Tari hanya memandang kagum rumah itu,dengan pintu yang menjulang tinggi dengan desain modern sesuai dengan besar nan mewah nya rumah itu.



"Hei,akhirnya datang juga,ayo masuk", suruhnya,namun pandangannya hanya terus tertuju ke arah Tari.


" Hmmp,aku nggak mau masuk",kata Ningsih yang tiba-tiba dan mengejutkan mereka berdua.


"Kenapa Ning?,apa ada sesuatu", tanya Tari dengan wajah serius begitu pula dengan Ridho.


" Abis..kayaknya Ridho cuman nyuruh Tari yang masuk,pandangannya aja terus kearah tari, rasanya aku kayak nggak ada disini ",ucapnya,sontak saja Tari melihat kearah Ridho, sedang Ridho, kini wajahnya sudah merah padam,karena secara tak langsung Ningsih sudah berhasil menangkap apa yang tengah ia rasakan saat bertemu dengan Tari,perasaannya yang sudah ia simpan selama ini dengan hati-hati namun bagaimana bisa dengan begitu mudahnya Ningsih menyadari nya,dan sejak kapan?.


" Ah...n..nggak kok,pasti hanya perasaan mu saja,baiklah kalau gitu tuan putri Ningsih... mari masuk ke rumah hamba ini,sungguh sangat beruntung bisa mempersilahkan tuan putri datang kerumah hamba",ucap Ridho seraya menyerahkan tangannya dengan sebelah tangannya berada di belakangnya seraya agak membungkuk hormat.


Tari yang mendengar nya pun hanya terkekeh melihat kelakuan kedua temannya itu.

__ADS_1


"Baiklah,aku bersedia wahai tuan muda", ucap Ningsih seraya menyerah kan tangannya pada Ridho dan kini dituntunnya masuk ke dalam rumahnya.


" Hai Ningsih! ",sapa seseorang padanya,lantas Ningsih pun mencari sumber suara,orang itu ternyata adalah Max,yang duduk disofa, dengan jus jeruk yang sudah separuh gelas di hadapannya,itu artinya ia sudah dari tadi disini.


" Ngapain kamu disini?",tanya Ningsih dengan nada tak suka.


"Aku?,kalau kamu ngapain ke sini?"


"Apaan sih nih cowok,ditanya kok balik nanya,dasar aneh",ucapnya dalam hati.


" Ya mau belajar lah,ngapain lagi",


"Nah gitu juga aku,aku kesini untuk belajar,ngapain lagi,"jawabnya meniru apa yang baru saja diucapkan Ningsih.


" Kamu..",


"Ah sudahlah Ning, kamu nggak penat apa berdiri terus, sini duduk dekat aku,"kata Tari yang sudah duduk di sofa,Ningsih pun terpaksa menurut duduk disamping Tari, namun berhadapan dengan Max dan Tari kini berhadapan dengan Ridho.


" Ehem,Mari kita mulai saja belajar nya",kata Ridho.


_ _ _ _ _ _ _


 


Sementara Dimas kini tengah bermain basket seorang diri dihalaman belakang, lapangan basket dengan ukuran yang agak kecil dari ukuran lapangan basket pada umumnya itu,dibuat sejak ia masih kecil,karena bakat nya bermain bola basket sudah terlihat saat ia masih duduk dibangku kelas tiga sekolah dasar, jadi ayahnya sengaja membuat lapangan basket itu khusus untuk nya.


 


"Hahh...hah...",Dimas terengah-engah karena lumayan lama bermain basket. Ia pun dudk di sebuah bangku yang ada di samping lapangan itu.Ia pun meminum air mineral yang sudah ia sediakan.

__ADS_1


" Lagi ngapain ya dia sekarang,pasti sedang senang-senang menggunakan alasan belajar itu",gumamnya dengan senyum sinis,ia sedang memikirkan Tari yang beberapa jam ini sudah tak ia lihat,namun tanpa disadari oleh dirinya sendiri apa alasan ia terus kepikiran tentang gadis itu.


__ADS_2