Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Kenapa aku begini?.


__ADS_3

"Kenapa gue jadi begini,kenap gue marah, kan gue nggak suka sama dia,dan nggak akan pernah".


Dear:Dimas.


Pagi ini seperti biasa,Tari dan Dimas bersiap\-siap untuk berangkat ke sekolah.Mereka berdua kini segera masuk mobil dan mobil pun melaju menuju sekolah.


Sejak keberangkatan mereka dari rumah hingga dalam pejalanan,entah mengapa suasana di dalam mobil senyap tanpa suara, biasanya Dimas pasti mengoceh apa saja yang bahkan tak penting baginya,anak lelaki itu kini malah memilih membuang pandangannya ke luar jendela.


Tari sebenarnya menyadari kejanggalan itu tapi ia memilih tak perduli dan ikut diam,tak berniat ia berurusan dengan lelaki itu.


_ _ _ _ _ _ _ _


Sesampainya di depan gerbang sekolah,Dimas langsung saja keluar dan melangkah tanpa sepatah kata pada kedua orang yang masih ada di dalam mobil.


"Nak Tari,apa nak Tari tak merasa ada yang aneh pada nak Dimas hari ini",tanya paman Dhanu.


" entahlah... ",ucapnya seraya mengangkat kedua bahunya," tapi kita nggak perlu ikut ambil pusing, biarkan saja dia begitu kan setiap orang pasti punya masalah nya sendiri, ya kan?",ucap nya lagi.


"Iya juga ya..", ucap paman Dhanu sambil mengangguk anggukkan kepala.


" Yaudah,nggak usah terlalu difikirkan,kalau gitu Tari ke kelas dulu ya paman, takut telat,"Ucap nya seraya melambaikan tangan seraya melangkah pergi,yang dibalas lambaian tangan paman Dhanu.


Tari kini memasuki koridor sekolah,ia masih melangkah dengan pasti menuju kelasnya, namun dari kejauhan ia melihat ada tiga orang siswi berdiri ditengah-tengah koridor.

__ADS_1


Tari yang sedikit pun tak curiga lantas tetap melanjutkan langkahnya,ia menyunggingkan sebuah senyum saat melewati ketiga siswi itu.


"Hei Tari!," seru seorang dari mereka.Tari yang mendengar namanya dipanggil lantas berbalik.


"Ya?", jawabnya, kemudian salah satu dari mereka pun mendekat kearah nya,dia adalah Tuti teman satu kelas nya,bukan teman dekat saat ia masih di kelas XI dulu.


" Apa kabar,sudah lama ya semenjak kita satu kelas dulu",ucap Tuti.


"Iya sudah lama,dan kamu juga seperti nya terlihat sama,masih cantik dan ceria", ucap Tari memuji.


" Ah kamu terlalu memuji,tapi sekarang kamu juga terlihat lebih cantik dari dulu,dan aku dengar... kamu sekarang bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Bagus Sutrisno kan, dan ku dengar mereka keluarga yang ramah dan..pasti bahagia ya yang bekerja disana,apalagi bisa lihat dua pangeran secara langsung ya kan Tari? ".ucapnya.


"Hah emm...",mendengar apa yang diucapkan oleh Tuti entah mengapa ia merasa tak nyaman seperti ada sindiran di balik perkataan nya, namun ia mencoba menyadarkan dirinya, mungkin ini hanya perasaannya saja,ya.. pasti hanya perasaannya saja.


"Oh iya...silahkan, maaf karena sudah membuang waktu",jawab Tuti.


Tari membalas ucapan Tuti dengan senyuman seraya melangkah meninggalkan Tuti dan kedua temannya.


Kedua temannya yang sejak tadi berdiri di belakang pun lantas mendekat.


" Oh jadi teman sekelasmu dulu,cewek gatel yang banyak dibincangkan di group chat itu",ucap Keisha dengan suara sinis.


"Oh iya aku ingat dia cewek yang digendong Dimas saat lomba basket kan?, memang dasar cewek ular ,dia pasti seneng tuh satu rumah sama Dimas, secara Dimas kan ganteng, tajir pula,pasti dia berisaha cari cara lah..biar bisa deket-deket sama Dimas", sambar Nani.

__ADS_1


"Eh nggak boleh ngomong gitu dong,ngga asik kalian ini",kata Tuti.


"Apaan sih Tut,kamu lagi belain dia ya", ucap Nani.


Mendengar perkataan kedua temannya itu, sebenarnya ia merasa senang, sangat senang, karena ternyata bukan hanya ia yang membenci Tari namun kedua temannya ini juga merasa hal yang sama,jadi ini mungkin akan menjadi hal yang menarik baginya.


" Ah kamu ini...kayak baru kenal aku aja,maksudku nggak asik kalau kalian hanya membicarakannya seperti ini",ucap Tuti.


"Maksud nya?",tanya Nani yang masih tak mengerti.


" Yaampun...,Nani sayang...kamu ini pura-pura nggak ngerti ya?,maksudku nggak asik kan kalau kita hanya membicarakannya tanpa perbuat sesuatu? ",Ucap Tuti seraya mencubit gemas pipi Nani yang masih bingung.


Mendengar perkataan Tuti barusan,Nani dan Keisha pun saling pandang.


" Owh....",ucap mereka berdua bersamaan.


"Udah ngerti?", tanya Tuti.


" Ok,aku ngerti sekarang,aku setuju dan aku juga udah lama nggak mengerjai dia saat terakhir kali di Toilet dulu",ucap Nani dengan senyum sinis seraya menatap wajah Tuti yang juga dibalas nya dengan senyum sinis.


"Yaudah...ayo kita ke kelas!, nanti saja kita fikirkan, kita harus memnuat perangkap yang bagus agar ular bisa terperangkap dengan sempurna", Ucap Tuti seraya meranjak dari tempat itu yang diikuti oleh kedua temannya.


Dikelas,Max dibuat bingung sejak Pagi, lagi\-lagi ada yang aneh pada temannya itu,sejak pagi dimas yanga diam seribu bahasa,seperti nya bukan hanya satu kali dimas seperti ini,entah mengapa akhir\-akhir ini sepertinya Dimas selalu melamun entah mengapa Dimas pun tsk mau cerita, dan ia juga enggan bertanya karena mungkin itu adalah masalah pribadi.Dan ia pun memilih ikut diam,meskipun ada rasa penasaran yang menggebu dihatinya

__ADS_1


__ADS_2