Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Terungkap(2)


__ADS_3

"Kamu tahu apa yang kamu lakukan hari ini sudah menyakiti hatiku".


 


Di sebuah taman,dengan dua buah ayunan, serta berbagai wahana lainnya, biasanya dijadikan tempat bermain bagi anak-anak.dengan cahaya minim karena malam hari,Tari kini sedang duduk di salah satu ayunan ia sedang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya,masih terus menangis hingga matanya terasa agak bengkak ia menangis sesegukan sendiri di taman itu.Ia kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu saat Dimas mempermalukannya di depan semua orang,bahwa ia adalah pembantu dirumahnya.Bukannya Tari malu menjadi seorang pembantu,bukanlah itu inti dari isak tangisnya dia tidak pernah memilih\-milih pekerjaan,namun yang menyakitkan adalah haruskah Dimas memberitahunya di depan semua orang?,haruskah ia berteriak saat memberitahukannya,itulah yang membuat tangisnya yang tak kunjung henti.


 


" Tari kamu dimana...Tari....ka... ",teriakan Ningsih terhenti saat ia melihat seseorang tengah duduk di salah satu ayunan yang ada di taman,ia perlahan mendekat,masih dipandanginya gadis yang duduk di ayunan itu tanpa bicara. Ia pun menghela nafas dan duduk di ayunan yang tepat di sebelah Tari,


" Tari...",mendengar suara yang ia kenali itu tari pun mengangkat wajahnya dan memandangi Ningsih dengan wajah sedih.Ningsih yang mengerti bagaimana perasaan Tari kini mendekat,dirangkulnya tubuh Tari yang langsung masuk kedalam dekapannya.


"Tari.. jangan terlalu difikirkan,aku tahu perkataan Dimas memang sangat keterlaluan,aku juga tak menyangka bahwa dia akan melakukan itu,Tari...menangislah,jangan tahan emosimu..aku ada disini,jangan sungkan dan menahannya didepanku,jadi menangislah aku akan menunggumu hingga lega",Tari yang mendengar perkataan Ningsih pun tak mampu lagi membendung air matanya,memang benar yang dikatakan Ningsih dia memang berusaha menyembunyikan tangisnya,ia memang terbiasa menyembunyikan segala kesedihannya sejak masih kecil,namun tidak bagi Ningsih, ia terlampau mengerti bagaimana watak sahabatnya itu,Tari kini menangis sejadi jadinya di pelukan Ningsih.

__ADS_1


 


Sementara di sebuah jalan seseorang laki-laki dengan mengendarai motor CBR berwarna biru tua kini sedang berkecamuk dengan fikirannya sendiri, Dimas sepanjang perjalananya pulang selalu teringat akan kejadian tadi,ia berfikir dimana kesalahan nya,mengapa semua orang menyalahkannya,dan kenapa ia harus meminta maaf,toh yang ia bilang tadi kan benar,kalau Tari bekerja sebagai pembantu dirumah nya.Tak terasa ia pun sampai di rumahnya,ia pun memarkirkan motornya di depan rumahnya.Ia memencet bel rumahnya hingga Ibu nya pun membukakan pintu.


 


"Dimas,kamu baru pulang," kata ibunya sambil melihat jam dinding antik yang ada di rumahnya waktu menunjukkan pukul dua puluh dua lebih,"loh Tari di mana? bukannya dia juga ke tempat Max,kenapa belum keliatan?",tanya ibunya lagi.


"Nggak tahu mom,aku capek aku masuk kamar duluan ya,good night mom",ucapnya dengan langkah gontai menaiki anak tangga.


" Ningsih bagaimana?apakah mataku terlihat habis menangis? ",tanya nya memastikan.


" Tidak,sudah nggak keliatan kok,tenang aja.. masuklah lekaslah tidur jangan terlalu difikirkan,dan sampai kan salamku pada tante bilang aku nggak mampir karena sudah kemalaman",

__ADS_1


"Ah,Ningsih gaunnya...",


" Ah yaampun...kan aku belikan buat kamu,jadu untuk apa aku mengambilnya kembali,"ucap Ningsih cemberut.


"Iya..iya..terimakasih banyak ya,aku sangat berterima kasih untuk hari ini", ucap Tari yang dijawab dengan anggukan oleh Ningsih,ia pun segera pamit pulang dan Tari pun masuk,tak lupa ia mengunci gerbang.


Ia perlahan mendekati pintu dan memencet bel,tak lama ibu Sulis pun membukakan pintu.


" Tari sayang,kenapa baru datang, Dimas sudah datang dari tadi loh,tante khawatir dan menunggumu di ruang tamu.


"Ah maaf aku sudah menggangu tidur tante,maaf karena terlalu merepotkan saya janji tak akan mengulanginya lagi",ucap Tari menunduk.


" Ah tak apa sayang,tante tak marah,tante hanya khawatir kalau terjadi sesuatu padamu,cepatlah tidur besok kamu harus sekolah kan? ",kata ibu Sulis lembut.

__ADS_1


" Terimakasih tante,kalau gitu Tari kekamar dulu."


Ia pun menaiki anak tangga,setelah mendekati kamarnya langkahnya terhenti, bagaimana tidak ia tak sengaja berpapasan dengan orang yang tak ingin dia lihat,Dimas kini ada di depannya dan memandanginya namun ia Tari memilih tak menghiraukannya,ia menunduk ,membuka pintu kamarnya dan masuk begitu saja tanpa bicara.Padahal,jika difikirkan tidak ada masalah jika mereka tak saling bicara,karena mereka kan juga tak begitu akrab dan bahkan bisa dibilang bukanlah teman,interaksi mereka hanya sebatas pembantu dan majikkan,namun ada rasa janggal di hati Dimas dadanya sesak,entah mengapa akhir-akhir ini jantungnya sering terasa aneh kadang berdegup kencang ,terkadang juga terasa sesak seperti saat ini.


__ADS_2