
Diam,dan tak bergeming dan tak mau diajak bicara,seraya senyum\-senyum sendiri,itulah yang kini terjadi pada Dimas pagi ini di sekolah.
Tak biasa nya ia seperti ini,sampai Max yang mengajaknya bicara sejak tadi tak dihiraukannya,hingga Max hanya diam percuma saja ia bicara pada sebuah patung hidup,fikir nya.
Ternyata ia masih teringat dengan apa yang terjadi kemarin sore,wajah itu,mata itu,dan yang selalu membuatnya tersenyum sendiri adalah bibir itu, bibir yang tak sengaja ia sentuh tempo hari membuatnya seakan tak bisa lepas dari ingatan itu.
"Teng...tong...teng...", bel tanda masuk pun berbunyi, seluruh murid pun bergegas masuk kedalam kelas masing-masing.
Diantara gerombolan murid yang masuk ke dalam kelas ada Ningsih dan Tari yang juga masuk,sontak saja pandangan Dimas langsung tertuju pada dua orang itu khususnya pada gadis belia yang membuat nya tak bisa tidur dengan nyenyak,Max yang menyadari ia sedang memandang seseorang lantas mengikuti arah pandangan itu,
Dan Max pun mengerti sekarang apa yang membuat temannya itu melamun sepanjang pagi ini,hanya karena seorang gadis yang katanya pembantu dirumah nya itu,terlebih lagi seingatnya temannya ini bukankah sangat tidak menyukai gadis itu?,fikirnya.Namun Max pun tiba-tiba tersenyum licik kearah Dimas, dimas yang menyadari Max sedang tersenyum dadanya pun lantas nengerutkan dahinya.
" Hei Max,kenapa lo senyum-senyum gitu,udah gila ya?",tukas Dimas.
"Hei..hei, siapa yang gila aku atau kamu,sejak pagi sudah ngelamun senyum-senyum sendiri pula,tapi...dari gelagatmu apakah kamu sedang menyukai seseorang?", tanya Max seraya menggoyangkan alisnya naik turun seraya tersenyum.
" Apa lo bilang gue,gue suka sama seseorang,dengar ya, didunia ini gue cuma menyukai satu hal yaitu diri gue sendiri ".ucapnya.
" Ohoho Benarkah? ",kata Max lagi.
" Lo sebenarnya mau apa sih hah?",ucap Dimas seraya menggenggam tangannya yang mengepal.
"Hehehe santai bro...santai..", ucap Max.
__ADS_1
" Dimas,aku sudah mengenal mu sejak kecil, jadi aku tahu kebiasaanmu yang tak pandai berbohong dan menyembunyikan sesuatu,tunggu saja akan kubuktikan kalau kamu benar menyukai Tari",ucap Max dalam hati.
Tak berapa lama pun guru masuk dan memulai pelajaran.
_ _ _ _ _ _ _
"Bima,apakah kamu sudah menyelesaikan daftar tentang perusahaan properti yang ada di luar Indonesia yang kau bilang tempo hari?",tanya Maya yang bosan melihat Bima yang hanya fokus oada layar monitor sejak pagi.
" Ah,hampir selesai aku sedang mencari tahu berapa penghasilan beberapa perusahaan nya per tahun,"jawabnya namun masih menatap layar monitor,
"kamu serius sekali ya,kamu pasti sangat menyukai desain seni dan astistik",kata Maya lagi,kini ia tengah menatap pria itu,ia sungguh sangat menyukainya,rasa itu terus ia pendam sudah lumayan lama, sejak ia mendaftar di jurusan yang sama,awalnya ia hanya terpaksa mendaftar jurusan properti,karena desakkan dari ayahnya,namun saat ia melihat Bima, ia langsung terpana,bagaimana tidak seorang pria yang begitu tampan,tinggi dengan tampilan yang modis wajah itu selalu membuatnya ingin selalu memandangi nya,bukan hanya dia mungkin bahkan semua orang akan tercengang melihat sebuah properti hidup itu,begitu sempurna seperti buatan dan terpahat. hingga ia pun tertarik namun entah mengapa sampai saat ini ia masih tak berani mengungkapkan perasaan yang telah lama terpendam itu.
Bima yang merasa sedang diperhatikan pun lantas melihat kearah gadis itu.
"Maya",
" Ya",jawabnya terkejut karena Bima yang tiba-tiba saja memanggil nya.
"Apakah kamu mau menanyakan sesuatu padaku?", tanya Bima.
"Emm..tidak",
__ADS_1
" Tapi kenapa sejak tadi kamu melihatku,jadi...aku kira kamu mau menanyakan sesuatu ",
" Ah maaf kalau aku mengganggu mu,aku tadi hanya agak melamun dan mungkin tak sengaja melihat kearah mu",jawabnya gelagapan karena tertangkap basah sedang memandangi pria itu.
"Oh,begitu...tapi kamu kalau ada sesuatu yang mau ditanyakan yang kamu tak mengerti bilang saja,aku akan mencoba membantu mu", ucapnya seraya tersenyum dan segera kembali menatap komputer.
" Deg..deg..deg...",jantung Maya berdetak saat melihat senyum itu,senyum yang manis yang selalu ia sukai.
"Bagaimana bisa aku mencoba menyerah padamu,sedang kan kamu selalu bersikap ramah dan perhatian,jika begini pasti akan sulit bagi ku", kata Maya dalam hati.
Tari kini tengah mencuci piring bekas bu Minah memasak makan siang,tiba\-tiba saja ada suara yang sedang memanggil namanya.
" Tari... Tari sayang...kemarilah"
"Ya tante tunggu sebentar",jawab Tari setengah berteriak. Ia pun segera mengeringkan tangannya dan bergegas keluar dari dapur
" Ada apa tante? "tanya nya.
" Ini gaun untukmu tapi tunggu dulu ",ucap bu Sulis seraya berdiri dan mencocokan baju itu di tubuh depan Tari.
" memangnya ada apa tante,sampai harus memakai gaun?",
"Sebentar lagi hari ulang tahun Bima, kamu harus tampil cantik sayang",
__ADS_1
Tari yang mendengar nya pun baru tersadar, bahwa ia tak pernah menanyakan kapan mas Bima ulang tahun.