Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Rapuh.


__ADS_3

"Aku sakit jika melihat mu sakit, jadi kumohon jujurlah...,walau pun tanpa bicara,cukup dengan melihat mu saja aku akan dapat merasakan nya".


Dear:Maya.


 


Dimas kini tengah sarapan bersama mas dan mananya seperti biasa mereka lakukan sebelum beraktivitas.


 


Namun pagi ini,entah mengapa terasa ada yang berbeda dari biasanya,meja makan itu kini sepi senyap, walau pun mereka makan bertiga, namun rasanya seakan makan secara terpisah.


Dimas yang menyadari nya pun lantas melihat kursi kosong yang ada di sebelah kanannya,kursi itu adalah tempat biasa Tari duduk dan sarapan bersama mereka,mungkinkah karena kepergian gadis itu kah mereka jadi seperti ini?,fikirnya,namun ia pun berbalik dan kembali melahap sarapannya,untuk apa juga ia harus memikirkan gadis itu,dan mungkin keadaan sepi ini mungkin hanya sebentar.


_ _ _ _ _ _ _ _


 


Bima kini tengah melamun di depan layar monitor nya,memang semenjak kepergian Tari ia lebih banyak melamun, bagaimana tidak gadis yang teramat ia cintai itu tiba-tiba saja menghilang, tanpa menjelasan yang jelas,dalam situasi ini ia malah menyalahkan dirinya sendi,ia merasa apakah kepergian gadis itu karena dirinya yang jarang bertemu karena kesibukkannya,atau karena kesalahan yang tak ia sadari,tapi apa?.

__ADS_1


 


Tanpa disadari olehnya gadis cantik yang senantiasa duduk di depannya kini diam-diam tengah memperhatikan kannya.Ia heran tidak biasanya lelaki itu melamun,dan sepengetahuan nya,Bima bukanlah tipe orang yang akan membuang waktu,bahkan ia adalah orang yang sangat disiplin dan selalu menghargai waktu,namun kali ini mengapa?,ia terus saja melamun, ia pun juga tak kunjung bicara,menyapa atau pun sekedar basa basi.


"ehemm", suara Maya berhasil memecah lamunannya,lelaki itu lantas mengarahkan pandangannya pada Maya dengan tatapan kosong, seakan ia baru saja menyadari keberadaan gadis itu disana.


" Ada apa dengan mu hari ini,kau hanya sibuk melamun apa ada sesuatu? ",tanya maya menyelidik.


" Em...tidak ada apa-apa,aku hanya sedikit lelah ",jawab nya.


" Hah,lelah katanya,apakah itu alasan yang bagus untuk orang yang tengah melamun dengan wajah yang teramat sedih itu,aku sungguh tak percaya",ucap Maya dalam hati,seraya menatap intens pada sosok lelaki itu.


" Ya..ada",


"Dimana,coba kau tunjukkan dimana aku tak dapat melihatnya", suruh nya pada gadis itu.


Maya pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kearah Bima.


Ia pun kini tepat berada di samping kanan Bima, namun ia hanya memandangi bima dari samping.

__ADS_1


" Kenapa kamu hanya berdiri cepat ambil sesuatu yang ada di wajah ku!",


"Aku tak dapat mengambilnya", jawab Maya singkat,


" Kenapa?, bukan kah kamu bilang ada sesuatu di wajahku",tanya Bima dengan wajah bingung.


"Karena wajahmu hanyalah cerminan dari apa yang ada di dalam sini", ucap Maya seraya menujuk dada kiri lelaki itu.Mendengar pernyataan dari Maya bima pun semakin merasa bingung.


" Apa maksud mu?, aku tak mengerti. ",


"Ahh...baiklah,langsung saja aku jelaskan,dan sebenarnya aku tak yakin apakah aku pantas mengatakan ini,aku tak tahu apa yang sedang kamu fikirkan,dan apa masalah yang tengah kau alami sekarang, tapi aku tahu kamu pasti sedang sedih,entah karena siapa dan apa aku tak tahu,tapi tebakkan ku benar kan?",ucap Maya,Bima yang mendengar pernyataan itu lantas terpaku,ia kembali teringat akan senyum dari gadis yang sangat ia rindukan,walau kepergian gadis itu masih menjalan satu hari,namun dari satu hati ini lah awal dimana ia tak akan bisa bertemu lagi dengan gadis itu,ia teringat akan senyum dan tawa yang polos namun mempesona tengah berlari ria seraya memanggil namanya,saat ia memeluk tubuh itu,saat ia menyentuh bibir itu,dan saat-saat bahagia yang selama ini ia lewati selama ini,namun tak disangka semuanya akan berubah hanya dalam satu hari.


Tak terasa dua sumber air bening itu mengalir begitu saja dan mengalis mulus di pipi nya,air mata yang selalu ia tahan, ia tak mau terlihat lemah di depan keluarganya, sebagai anak sulung ia tak pantas menangis, apalagi ia seorang pria,sangat memalukan jika seorang pria dewasa menangis hanya kerena masalah sepele.


Maya yang melihat air mata itu refleks memeluk Bima,ia juga tak tahu kenapa berani melakukan itu,namun air mata itu menjelaskan semuanya bahwa pria dewasa itu kini tengah rapuh,bagaimana mungkin ia hanya menyaksikan nya tanpa berbuat sesuatu.


"Menagis lah... tak apa aku ada disini, aku tidak akan mengolokmu walau pun kamu menangis, karena tidak hanya anak kecil,orang dewasa pun berhak menagis,jadi menagis lah!", ucap Maya yang masih memeluk Bima,mendengar perkataan Maya entah mengapa ia merasa seakan gadis itu bisa mengetahui segala nya,meskipun ia tak berkata apa pun.


Bima menangis di dalam dekapan gadis itu,ia tak sadar lagi jika posisi kepalanya tepat berada di dada gadis itu,namun Maya juga tak mempermasalah kan nya,yang ia fikirkan hanyalah ia merasa bahagia karena Bima bersedia menjadikannya sandaran disaat ia sedih,dan sebagai pengagum rahasianya tentu tak akan melupakan hari ini,walau pun setelah ini mungkin dadanya tak lagi dibutuhkan sebagai sandaran lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2