
"Meski sakit kurasa,karena mungkin tak akan lagi melihatmu selama nya,tapi namamu yang sudah tertulis dihatiku akan selalu ku bawa dan akan kuingat selama nya.
Dear:Tari.
Tari kini tengah menangis sesegukan setelah ia menceritakan semua nya pada Bima,ia merasa sangat bersalah pasti Bima akan berfikir yang sama dengan Dimas dulu,hanyalah seorang gadis yang hanya bisa merepotkan orang lain dan kali kali ini malah membahayakan nyawa adiknya satu\-satunya.
"Hiks...mas Bima tolong maafkan aku aku tak bermaksud menyakiti nya...hiks... aku sungguh tak menduga dia membuntutiku...hiks...", ucap Tari untuk yang kesekian kalinya.
"Sudahlah...ini semua sama sekali bukan salah mu,jadi terhenti menyalahkan dirimu lagi,dari pada kamu terus menangis, lebih baik kamu berdoa untuk kesembuhan Dimas, dan semoga kita akan segera mendengar berita baiknya", ucap Bima, yang duduk di sebelah Tari sambil mengelus bahunya pelan,ia ingin menenangkan gadis itu,meskipun hal yang sama juga sedang ia rasakan sekarang, ia juga takut jika malah berita buruk yang akan ia dengar.
" Bima...",tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya,dan ia sangat mengenal suara wanita yang memanggilnya itu.
"Mama...ayah...,"gumam Bima,mendengar itu Tari lantas berbalik ia juga menatap orang yang dimaksud dan lantas berdiri disamping Bima.
" Bagaimana keadaan Dimas, apa sudah ada berita dari dokter?",ucap bu Sulis dengan wajah khawatir,mereka akhirnya datang setelah Bima menghubungi mereka kurang lebih satu jam yang lalu.
__ADS_1
"Iya bagaimana keadaan adikmu,dan apa yang sebenarnya terjadi sehingga ia bisa masuk ruang UGD?", tanya ayah nya.
" Em....om,tante",ucap Tari pelan setelah sejak tadi diam.Lantas saja mereka berdua terkejut karena sejak tadi tidak menyadari keberadaan Tari karena saking paniknya.
"Kamu....,astaga Tari....apa kamu benar Tari?, kemana saja kamu selama ini nak,kenapa kamu tiba-tiba pergi dan tak pernah menghubungi kami lagi,kamu tinggal dimana sekarang?", tanya ibu Sulis panjang lebar.Namun Tari hanya tertunduk diam ia tak berani menatap wajah ibu dari orang yang tengah mempertaruhkan nyawanya di dalam sana.
" Maaf",tiba-tiba kata itulah yang terucap di mulut Tari.
"Kenapa tiba-tiba minta maaf?",tanya tante Sulis yang bingung dengan apa yang diucapkan Tari.
" Maaf....maaf... maafkan saya,saya tahu setelah tante tahu yang sebenarnya tante pasti akan membenci saya,tapi meskipun begitu saya harus meminta maaf yang sebesar-besarnya meskipun saya tak yakin om dan tante akan memaafkan saya",ucap Tari yang masih menunduk.
" Permisi...apa ada keluarga dari pasien atas nama Dimas disini?",tanya suster itu.
"Saya sus..saya ibunya",
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu di karena kan kondisi pasien yang masih kritis jadi ada pembatasan kunjungan,dan hanya ibu yang boleh masuk",Mendengar berita itu pun tante Sulis bergegas masuk untuk melihat keadaan putra bungsunya itu.
Ibu Sulis kini tengah duduk tepat di samping Dimas yang masih belum siuman,air mata tante Sulis tak mampu lagi ia bendung,ia terus saja menggenggam erat tangan putranya itu.Jiwanya semakin terpukul tatkala ia mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, bahwa Dimas mengalami masa kritis,akibat sebuah tusukan yang melukai lambungnya,akibatnya ia kemungkinan tak akan sadarkan diri selama beberapa hari kedepan dan mungkin bisa selama satu minggu untuk perawatan secara total.
"Hiks.... sayang....cepatlah sembuh...apa kamu tidak sayang sama mommy,apa kamu nggak kangen sama kami semua hiks....", ucap tante Sulis yang masih menggam erat tangan Dimas yang terkulai lemah bagai tak bernyawa.
"Om mengerti sekarang masalahnya,dan benar apa yang baru saja dikatakan Bima barusan,apa yang terjadi bukanlah sepenuhnya kesalahanmu semua itu murni karena Dimas yang memang ingin menyelamatkan mu,jadi tenanglah semua pasti akan baik-baik saja", ucap om Bagus yang sudah mendengar keseluruhan cerita dari apa sudah terjadi.
"Kami juga tak menyangka bahwa Dimas akan nekat seorang diri membuntuti Tari, karena dia tidak bilang apa-apa pada kami dia hanya bilang dia ingin keluar untuk membeli cemilan,dan itu juga alasan yang sama saat ia yang juga menyelamatkan Tari pada insiden pertama kali", ucap Ridho yang juga ikut bicara,ia dan Max sudah tiba beberapa saat yang lalu setelah Bima menghubungi mereka.
" Tapi...tetap saja saya tak bisa terhenti menganggap bahwa saya lah bersalah,saya memang orang yang tak beruntung yang selalu ditimpa kesialan,tapi kenapa... Dimas selalu saja terlibat dalam ke sialan saya,andai saja dia tak usah datang, andai saja dia tak usah memperdulikan saya pasti....hiks....pasti dia tidak akan jadi seperti ini hiks....",ucap Tari yang kembali terisak.Sementara mereka berempat hanya bisa diam,bagaimana pun mereka menyuruhnya untuk tentang tetap saja gadis itu selalu menyalahkan dirinya.
"Dan bisakah saya memohon dan berjanji sesuatu pada om?", ucap Tari tiba-tiba.
" Apa itu?"
__ADS_1
"Tolong....tolong....jika Dimas nanti sudah siuman,tolong cepat bawa dia pulang,jangan sampai di kembali lagi kesini,saya takut... saya takut jika dia ada di sekitar saya dia akan ditimpa musibah lagi,saya tak mau sampai terulang lagi,dan jika perlu buatlah dia agar tidak lagi mengingat saya,dengan begitu hidupnya akan kembali normal seperti biasanya."Pinta Tari pada om Bagus, namun sebenarnya perkataan nya dan apa yang ada dihatinya itu sangat lah ber lawanan,sebenar- nya ia sangat berharap bisa melihat Dimas lebih lama lagi,namun ini semua demi kebaikan Dimas di harus bisa merelakan semuanya,meskipun hatinya terasa sakit.
Dan entah sejak kapan ia merasa bahwa ia merasa mulai nyaman saat berada di dekat Dimas,apakah akhir-akhir ini perlakuan Dimas yang sudah berubah, ia menjadi lebih lembut,sehingga tanpa ia sadari bahwa dihatinya yang terdalam,nama Dimas sudah terukir,yang artinya ia menyukai lelaki itu.