Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Cemburu.


__ADS_3

"Meskipun aku menyadari nya selama ini,bahwa sebenarnya adikku juga menaruh hati padanya,namun bolehkan sekali saja aku egois,bahwa aku ingin menunjukkan bahwa ia adalah wanita ku".


Dear: Bima.


Hari\-hari kian berganti tak terasa sudah kurang lebih lima satu tahun Tari menjadi bagian dari keluarga Bagus Sutrisno,sebentar lagi mereka akan mengadakan ulangan akhir semester,dan akan naik ke kelas XII atau kelas tiga SMA.


Tari kini tengah menyirami bunga-bunga yang selalu ia rawat dan sayangi tanpa sedikitpun rasa jenuh.


"Tinggal satu tahun lagi aku harus berjuang,aku berjanji akan menyelesaikan sekolah ku dan akan bekerja sambil kuliah nantinya,agar aku bisa membahagiakan adik dan nenek, serta membalas kebaikkan keluarga ini nantinya," gumamnya sambil masih menyirami bunga-bunga nya.


Sesaat kemudian ia melihat kearah gerbang,ia sedari tadi juga sambil menunggu seseorang datang,seseorang yang sedang ia rindukan Bima.Sudah sejak satu minggu ini lelaki itu tak pernah lagi ia lihat,ia rindu sungguh sangat rindu padanya,namun rasa itu harus ia tahan dan sembunyikan,mengingat bahwa ini semua adalah untuk mencapai mimpi terbesar dari prianya itu.


"Hah...hari ini tidak lagi ya..",gumam Tari seraya menghembuskan nafas kasar, meskipun begitu tentu saja masih ada rasa sedih dihatinya, lantaran pasti Bima akan pulang agak larut lagi,dan ia lagi-lagi tak bisa melihat sosok lelaki itu.


" Hei cewek kampung!",terdengar suara yang begitu ia kenali,dan panggilan ini pasti memanggil dirinya,Tari menyadari Dimas memanggil nya,namun ia pura-pura tak mendengar, karena ia tak suka dipanggil seperti itu dan siapa juga yang tak jengkel dipanggil demikian.


"Hei,Tari..lo berani-beraninya ya pura-pura nggak denger gue sedang memanggil lo!",ucapnya marah seraya berjalan mendekat kearah Tari.


" Hei..lo ",


" Apaan sih,kok datang-datang mengganggu kesenangan orang,dan dengar ya aku nggak akan mau mendengar mu jika kamu memanggil ku cewek kampung aku kan punya nama ",ucap Tari dengan nada bicara yang agak meninggi.

__ADS_1


" Emang kenapa kan emang kenyataan,kalau nya lo itu cewek kampung ",jawab Dimas yang tak mau kalah bicara dengan gadis itu.


"Terserah!," ucap Tari yang tak mau terlalu menggubris ucapan Dimas.


Dimas yang mendengar nya pun seketika diam,ia diam bukan berarti ia kalah berdebat,ia diam karena ia kembali teringat apa yang dulu dilihatnya, sudah sejak lama ia merasa penasaran dan ingin menanyakan satu hal pada Tari perihal hari itu.


"Tari..",


" Emm.."jawab Tari tanpa melihat wajahnya.


"Gue mau tanya satu hal,"


Saat gadis itu menghadap ke arah nya, entah mengapa ia langsung tak mampu bicara,semua yang ingin ia tanyanya kan entah mengapa hilang begitu saja saat ia melihat wajah gadis itu.


Ia baru menyadari bahwa gadis itu kini terlihat sedikit berbeda,dulu begitu kucel dan berlulit agak gelap sangat kotor dan tak terurus,namun kini telah berubah,bagai emas, di sepuh dulu baru lah terlihat kilaunya.


Memang benar, Tari kini menjadi agak berbeda,mungkin karena ia tak lagi bekerja berat dan tak lagi bekerja dibawah paparan sinar matahari, sehingga wajah dan tubuh itu jadi putih bersih juga memiliki fostur tubuh yang ideal sesuai tinggi badannya,dan sebenarnya itu adalah tipe ideal wanita bagi Dimas, dan tentu saja ia juga diam-diam sedikit tertarik pada gadis itu,entah mengapa ia selalu ingin berinteraksi dengan gadis itu, walau pun hanya akan ada pertengkaran saat ia berbicara pada gadis itu, namun itulah satu-satunya cara agar ia bisa terus berbicara padanya.Namun ia tak memperdulikan dan tak mau memikirkan nya karena ia masih bingung dan tak terlalu mengerti dengan perasaannya.


"Hei..Dimas", ucap Tari seraya melambaikan tangannya di depan wajah Dimas, sehingga membubarkan lamunannya.


" Ada apa?",jawannya yang seketika membuat Tari bingung serta jengkel, pasalnya sejak tadi ia menunggu apa yang ingin di tanya kan oleh Dimas, namun Dimas malah melamun tak jelas.

__ADS_1


"Kok ada apa,seharusnya aku yang tanya begitu, lagian tadi katakan mau bertanya tapi malah melamun seenaknya,jadi apa yang mau kamu tanyanya kan padaku?", ucap Tari seraya menatap lekat wajahnya karena menunggu jawaban, namun mulutnya tercekat,mulutnya tiba-tiba tak mampu berkata-kata,wajahnya kini memerah,dan jantungnya berdetak tak beraturan saat melihat tatapan gadis itu.


Tari yang menyadari wajah Dimas memerah lantas terkejut.


" Hei Dimas kenapa dengan wajahmu,wajah mu memjadi merah, apa kamu sakit?",tanya Tari seraya mengangkat tangannya dan menempelkan punggung tanganya untuk merasa kan dahi Dimas,dan tangan satunya lagi untuk merasakan dahinya sendiri.


"Tidak ada yang aneh,tidak terasa panas dan bahkan bisa dibilang normal,tapi kenapa wajahmu memerah?", ucap Tari masih dalam posisinya semula.


" Deg,deg,deg",Dimas tak mampu lagi mengontrol jantungnya, yang semakin lama semakin berdetak kencang.


Tangan Tari yang semula memegang dahinya sendiri kini ia taruh tepat di dada Dimas,dan jantung itu malah berdetak semakin kencang.


"Aku tak mengerti, apa kita pernah mempelajari gejala penyakit apa ini?,ucap Tari menatap dada Dimas.


" Tari",seseorang memanggil namanya, ia pun sontak menoleh.


"Mas Bima?", gumamnya.


Bima kini berdiri disamping mobilnya seraya menatap tak suka,bagai mana tidak ia kini tengah menyaksikan gadis nya sedang menyentuh lelaki lain,meskipun itu adalah adiknya sendiri namun tetap saja,ada rasa cemburu dihatinya, bagaimana pun adiknya adalan lelaki normal yang mungkin saja juga tertarik pada gadis kecilny itu apalagi dengan sikapnya yang lembut itu pasti akan membuat siapa saja luluh.


Tari pun sontak melepas kan kedua tangannya dari Dimas, dan berlari menghampiri Bima,entah mengapa ada rasa kecewa dihati Dimas saat gadis itu berlari mendatangi lelaki lain yaitu masnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2