Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Disekap(2).


__ADS_3

"Kenapa, kenapa kamu menyelamatkan ku padahal sudah jelas kamu sangat membenciku,dan jujur setelah apa yang terjadi hari ini aku mulai menemukan sisi dari dirimu yang sebenarnya."


Dear:Tari.


Sudah hampir dua jam Tari di di dalam sana masih dalam kondisi yang sama,terbelenggu tak berdaya.


Tiba-tiba terdengar suara beberapa langkah kaki yang mulai mendekat, Tari lantas mendongak melihat siapa orang-orang itu,matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Mereka, bukankah mereka adalah keempat orang yang bilang mau mengantarku,tapi kenapa aku malah dibawa ke sini?, ucapnya dalam hati.


" Em....emm....",suara Tari seakan berbicara namun tak terdengar jelas karena belenggu yang ada di mulutnya,salah seorang dari mereka pun membuka belenggu yang ada di dimulutnya.


"Dasar kalian penipu,orang jahat...tolong lepaskan aku,apa sebenarnya mau kalian,kenapa kalian menangkapku?",


" Cih,apa kamu bilang penipu,kami..penipu, heh dengar ya,kami bukannya menipumu,kamu nya saja yang terlalu bodoh,masa mau percaya sama beberapa laki-laki yang berada di tempat sepi,dan soal pertanyaan mu yang kedua, apa mau kami,tentu saja ingin bersenang-senang dengan mu,kamu pasti mengerti kan?,hahaha,"ucapnya seraya melepas cengkramannya yang sejak tadi di pipi Tari.


"Nih makan lah dulu,gimana bisa kita bermain dengan puas jika kamu tak punya tenaga,sedang kan nanti kamu harus bermain dengan kami berempat,iya nggak bro?,ayo!," ucap lelaki itu pada ketiga temannya,dan mereka pun meninggalkan Tari seorang diri, bagaimana dia bisa makan,sedang kan tangannya masih terikat dengan tali.


Namun jika bisa pun ia tak mungkin mau makan,tak ada lagi rasa lapar saat ini,ia hanya memikirkan bagaimana cara keluar dari sini secepatnya,ia tak bisa membayangkan jika mereka benar-benar akan mengambil sesuatu yang berharga dari dirinya itu.


Lebih baik ia mati dari pada hidup harus menanggung malu,dan pasti dirinya tak akan nerguna lagi.


"Hiks.... hiks...seseorang tolong aku...hiks...,aku tak mau kalau mereka sampai menyentuh ku hiks...", lirih Tari sambil terisak dalam tangisnya.


" Pstt...pstt..",tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang seperti memanggilnya.

__ADS_1


"Dimas,kenapa kamu ada di sini?,bagaimana kalau mereka melihat mu,kamu bisa dihajar oleh mereka,cepatlah pergi!",suruh Tari sambil menengok kesana kemari untuk memstikan bahwa tidak ada yang melihat keberadaan Dimas. Dimas hanya diam ia tak bergeming,saat ini ia sedang menatap wajah Tari dengan penuh amarah.


" Apa lo bilang, lo suruh gue ninggalin lo disini, apa lo udah gila hah...,apa lo mau mereka bemeran melakukan itu pada lo ",jawab Dimas.


" Ba..bagaimana kamu bisa tahu?,"tanya Tari.


"Itu nggak penting,gue bisa ceritain nanti,sekarang kita fikirkan saja gimana caranya keluar dari sini." Ucap Dimas.


Dimas masih tengah mencoba membuka ikatan di tangan dan kaki tari,dan Tari tengah memegang ponsel milik Dimas, ia juga mencoba membantu,ia mencoba untuk menelepon Ridho dan Max namun tak ada satu pun yang menjawab.


"Ayolah angkat teleponnya,kumohon..", ucap Tari dengan wajah yang semakin panik.


Tanpa disadari oleh mereka berdua ternyata salah seorang dari mereka tak sengaja melihat keberadaan Dimas yang tengah mencoba membuka akatan di tangan dan kaki tari


" Oh...rupanya ada pahlawan kesiangan ya,makin tambah seru nih",ucap lelaki yang tadi membuka lakban dari mulut Tari.


"Jangan!, tolong jangan ganggu dia,biarkan dia pergi,aku janji aku tidak akan berniat kabur dan akan menuruti apa pun asal kalian melepaskannya", pinta Tari pada pada lelaki itu.


" Baiklah,akan lebih bagus jika dia pergi,tapi....apa kamu yakin jika dia di lepaskan tidak akan melaporkan kami pada polisi?",ucap lelaki itu seraya merampas telepon genggam yang ada di tangan Tari.


"Iya dia tidak akan melaporkan kalian,ya kan Dimas?",


" Iya gue nggak bakal ngelaporin lo semua ke polisi,karena.... gue bakal habisin kalian semua dengan tangan gue sendiri dasar kawanan keledai brengsek!",ucap Dimas yang sejak tadi sudah menahan amarah.


" Oh,pemberani ya pahlawan kesiangan,kalau gitu kalian...maju hajar dia ".

__ADS_1


Perkelahian antar mereka pun tak terelakkan,meski pun dikeroyok oleh tiga orang sekali gus,ternyata Dimas masih bertahan,dan terus berlanjut tanpa ada yang mau mengalah.


Setelah beberapa saat akhirnya ia berhasil melumpuhkan ketiga orang itu,ia pun berbalik kearah dimana Tari berada,namun gadis itu sudah tak ada lagi disana,dimana dia fikir Dimas.


" Tolooonggg,lepaskan aku....",tiba-tiba terdengar suara teriakkan yang tak lain adalah suara Tari, dan ternyata Tari dibawa kelantai dua,ia pun bergegas mengejar Tari, tak lupa sebelum ia pergi ia mengikat ketiga orang itu agar tidak melarikan diri.


Ia terus berlari menaiki anak tangga,mulut serta hidungnya yang berdarah pun tak dihiraukannya lagi,ia hanya memikirkan keadaan Tari. Tak lama kemudian ia pun sampai di lantai dua,dan betapa terkejutnya ia saat melihat posisi Tari yang siap untuk didorong kebawah,tubuhnya bergetar serta terdapat luka di dahinya,entah kapan keparat sialan itu melukainya.


"Hahaha....hei cowok sialan,bagaimana posisi gadis ini bagus kan?,dan jika selangkah saja kamu maju aku akan langsung mendorongnya kebawah,ya kan cewek bodoh",ucapnya seraya menjambak rambut Tari.


" Ah....tidak Dimas aku mohon,pergilah atau dia akan melukaimu,kumohon...pergilah. hiks.... ",pinta Tari disisa-sisa dayanya untuk berbicara.


" Beraninya lo menyentuh dia hah",kata Dimas yang sudah sangat marah tapi ia takut untuk maju,ia takut jika Tari akan benar-benar didorong kebawah, ia tak mau sampai hal itu terjadi,ia harus memikirkan cara agar bisa melepaskan Tari tanpa harus bergerak,tapi bagaimana.


"Duar..!!", tiba-tiba terdengar suara tembakan,dan tembakan itu mengenai kaki lelaki yang ada di samping tari.


" Arghhhh",teriaknya kesakitan,tanpa fikir panjang Dimas pun langsung memukulnya tanpa ampun.


"Dimas sudah hentikan", ucap seseorang dan itu adalah Ridho,Max, Elang serta beberapa polisi,dan para polisi itu langsung menangkap lelaki itu.


" Kalian... ",ucap Dimas, dan tiba-tiba saja Tari memeluknya.


" Hiks.....hiks.... sudah kubilang kamu pergi saja tapi kenapa tidak pergi hiks ....",ucap Tari yang kemudian memukul dada Dimas.


Dimas tak menjawab pertanyaan Tari tapi jika melihat ekspresinya saat ini,wajahnya sedang terkejut, tegang,bercampur bingung serta salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2