Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Pergi.


__ADS_3

"Aku berharap dengan kepergian ku,semua orang akan hidup bahagia, dan aku berjanji tak akan menggu kehidupan mereka lagi untuk selamanya,kecuali bila takdir berkehendak lain".


Dear: Tari.


Seperti biasanya Tari kini tengah menyediakan sarapan dengan rapi diatas meja,ia tetap tersenyum seperti biasanya seperti takut terjadi apa pun pada dirinya.


"Tari cantik, semuanya sepertinya sudah siap,ayo kita sarapan bersama!", ajak bu Sulis.


" Baik tante",jawabnya.Ia pun segera duduk di kursi yang tepat berada di sebelah Bima,Bima yang bisa berkesempatan sarapan lagi bersama Tari, adik,dan ibunya lagi tersenyum sambil menatap ke arah Tari.Dan dibalas Tari juga dengan senyum manis.


Dimas yang sejak tadi memperhatikan gadis itu mengerutkan alis,ia bingung setelah apa yang telah ia ucapkan pada gadis itu, bagaimana bisa masih bisa tersenyum riang seperti tak ada penyesalan.


"Cih, memang perkataan gue nggak salah, kalau dia memang cewek matre yang nggak tau malu", ucapnya dalam hati seraya tersenyum sinis.


Tak berapa lama mereka pun selesai sarapan, Tari pun segera mengambil tas sekolahnya di dalam kamar.


Dimas kini tengah menunggu di dalam mobil, tari pun segera menghampiri mobil itu, Tari pun masuk dan mobil itu pun melaju meninggalkan bu Sulis dan Bima yang mengantar keberangkatan mereka.


Bima yang hari ini tidak ada kelas penting di kampusnya itu berncana ingin mengajak Tari jalan-jalan setelah ia pulang sekolah.


Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Tari dan Dimas berhenti di sebuah toko buku yang tak jauh dari sekolahnya.


Tari pun keluar dari mobil sementara Dimas masih berada didalam tengah duduk membalikkan wajahnya menghadap ke arah lain.

__ADS_1


" Paman,maaf ya tiba-tiba menyuruh berhenti disini,soalnya saya mau membeli beberapa buku dan sekolah juga tidak terlalu jauh dari sini,jadi saya akan berjalan kaki ke sekolah nanti",jelasnya seraya tersenyum pada paman Dhanu.


"Oh gitu, kalau gitu paman dan nak Dimas duluan ya,jangan lama memilih bukunya nanti telat",paman Dhanu mengingat kan.


" Baik paman ",jawabnya.


Lalu mobil itu pun melaju meninggal kannya seorang diri di depan toko buku itu,namun siapa sangka tujuan sebenarnya bukanlah toko buku itu, toko buku hanyalah alasan agar ia bisa pergi.


Sebenarnya masih ada rasa bersalah dihatinya, ia telah berbohong pada semua orang,dan baru kali ini ia berbohong akan hal sebesar ini,namun ini demi kebaikkan semua, ia merasa keberadaan nya dirumah itu secara tidak langsung telah membebani mereka,dan ia sudah bertekat untuk tetap meninggalkan rumah itu dan akan pergi ke tempat yang jauh dan bahkan ia sendiri pun tak tahu tujuannya hendak kemana.


Ia pun melangkahkan kakinya menjauh dari toko buku itu.


_ _ _ _ _ _ _


" Tari kamu dimana sih,kok belum datang juga,kalau kayak gini kamu bisa telat dan bisa diskors",ucap Ningsih dalam hati dengan wajah cemas.


Tanpa disadari, ternyata Dimas sejak tadi juga diam-diam memperhatikan bangku tempat biasa Tari berada,ia juga merasa aneh padahal toko buku tempat ia singgah tadi tidak begitu jauh dari sekolah,fikirnya.


"Teng...teng...teng...".


Bel tanda masuk pun berbunyi, seluruh murid pun berbondong-bondong masuk ke dalam kelas,Ningsih pun memperhatikan gerombolan murid yang masuk ke dalam kelasnya namun,hingga murid dikelasnya semua sudah masuk namun wajah gadis itu belum juga terlihat.


Ningsih pun semakin risau,fikirannya pun melayang jauh apa terjadi sesuatu pada Tari, dan bagaimana kalau dia diculik,fikirnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian bel tanda istirahat pun berbunyi,seluruh murid pun bergegas keluar.Ningsih yang sejak tadi ingin bertanya tentang Tari pada Dimas pun lantas, berjalan terburu-buru ke arah bangku Dimas.


" Hei Dimas ",ucap Ningsih sambil menepuk meja.


" Ada apa?".


"Dimana Tari, kenapa ia tidak masuk hari ini,apakah terjadi sesuatu?,apakah dia sakit?",tanyanya pada Dimas.


"Gue nggak tahu",Jawab nya singkat.


"Apa,gimana bisa kamu nggak tahu,kamu kan satu rumah dengan nya dan kalian kan sering berangkat bareng, gimana bisa kamu nggak tahu sih,apa tadi kamu berangkat sambil tidur!", ucap Ningsih dengan nada bicara emosi.


" Gue juga nggak tahu,tadi dia minta di turun kan di depan toko buku dekat sekolah,dan kami pun menuruti nya dan menurunkannya di sana ",jawabnya ketus.


" Beneran,kamu nggak paksa dia turun kan",tanya Ningsih curiga.


"Apaan sih,ya enggaklah lo kira gue sejahat itu", jawabnya yang juga dengan suara meninggi.


Ningsih yang mendengar nya pun terdiam, ia berfikir keras sebenarnya kemana dan dimana Tari sekarang.


Sementara di sebuah terminal bus yang padat dan panas,Tari kini tengah mencari bus yang telah ia beli tiketnya.


" Ayo,para penumpang jurusan Jakarta-Bekasi akan segera berangkat".Teriak seorang kernet,Tari yang mendengar nya lantas berlari menuju bus itu ia kini tengah memegang karcis dengan tujuan yang sama,setelah dekat dengan bus ia pun langsung masuk,dan setelah semua penumpang masuk bus itu pun langsung melaju meninggal kan terminal.

__ADS_1


__ADS_2