
"Siapa?siapa yang tega melalukan ini pada ku, apa kesalahanku sehingga ada orang yang tega mencelakaiku,aku sangat takut..., jika memang masih ada harapan,aku mohon Tuhan, tolong kirimkan lah seseorang yang bisa menyelamatkan ku,aku berjanji siapa pun itu aku akan membalas jasanya seumur hidupku".
Dear:Tari.
Pagi itu kira\-kira sekitar pukul tujuh pagi semua pejerjaan rumah Tari sudah ia bereskan mulai dari memasak sarapan,menyapu,mencuci,hingga mengepel rumah yang jarang ia lakukan pun terlaksana.
Karena hari ini ia libur bekerja,ia libur karena bosnya,ibu Yanti sedang mengunjungi orang tuanya di Bandung yang dikabarkan sedang sakit,jadi ia memutuskan untuk menghabis- kan waktu nya hari ini untuk membersihkan rumahnya.
"Hah....akhirnya selesai juga,ah...lelah nya...", ucap Tari sambil neregangkan otot-ototnya.
" Apa aku menyapu halaman depan aja ya,sudah lama aku tidak menyapu halaman depan, dan....Dimas pasti belum bangunkan ya,aku sungguh tak ingin bertemu dengannya sekarang, dan kalau bisa selamanya",ucap Tari dalam hati, ada rasa ragu untuk melangkah keluar tapi ia memberanikan diri dan berharap agar Dimas tidak ada diluar sana.
Tari pun mulai menyapu halaman nya,ia mulai merasa lega karena tak ada tanda-tanda dari kehadiran lelaki itu.
"Hei Tari!", panggil seseorang,dan suara itu suara yang sangat ia kenal,dan orang itu lantas mendekat dengannya seraya masih diatas motor CBR nya yang masih menyala.
" Oh Elang,belum berangkat sekolah?,tanya Tari.
"Ah,iya ini juga mau baru berangkat sekolah,dan kamu kenapa nggak berangkat kerja,apa kamu sakit atau terjadi sesuatu", tanya Elang dengan wajah yang mulai berubah menjadi cemas.
__ADS_1
"Oh,bukan..aku nggak sakit, tapi kami diliburkan hari ini karena katanya orang tua ibu Yanti sedang sakit, semoga saja beliau lekas sembuh,dan...kamu kan keponakkan ibu Yanti masa kamu nggak tahu sih?", Kata Tari.
" Oh iya aku baru ingat,tante Yanti ada menelepon tadi malam, dan mungkin mamaku yang nanti akan pergi kesana dan mungkin akan bermalam beberapa hari",jawab Elang.
"Owh...,eh Elang kamu cepat berangkat sana apa kamu lupa kalau kamu mau berangkat sekolah, cepat sana nanti telat loh!,"
"Oh.. ya,aku hampir saja lupa,kalau gitu aku berangkat dulu ya",pamitnya seraya tersenyum manis pada gadis itu,yang juga dibalas dengan senyuman oleh Tari.
" Cih,sial",timpal Dimas, yang sejak tadi memperhatikan mereka dari kaca jendela.
Tak lama kemudian, akhirnya Tari selesai menyapu dan ia pun masuk kedalam kamar kosnya.
Siang itu Tari tengah berjalan seorang diri,ia tengah mencari alamat rumah Laras yang sudah ia berikan dan bertuliskan di sebuah kertas kecil yang kini dipegang oleh Tari,sehari sebelumnya saat mereka diberitahu bahwa mereka akan diliburkan selama tiga hari Laras lantas mengajak Tari untuk mau main ke rumah nya,Tari pun mengiyakan ajakan Laras, bagaimana tidak setelah sekian lama mereka berteman baru kali Laras mengajaknya kerumah, dan tentu saja dia sangat senang karena mungkin Laras sudah menganggapnya teman baik.
Tari tiba-tiba berbalik,ia kaget dan juga takut,karena ia seperti merasa ada yang sedang mengikutinya, sebenarnya ia sudah merasakannya beberapa saat yang lalu namun ia tak memperdulikannya ia fikir ia hanya salah dengar, namun entah mengapa semakin lama semakin terasa bahwa dia benar-benar sedang diikuti,ia pun lantas mempercepat langkah nya ia semakin takut, sangat takut, ia kini seorang diri,bagaimana jika itu orang jahat yang akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.
"Hei,ada apa kenapa kamu jalan cepat begitu, apa kamu perlu bantuan?", ucap seorang laki-laki dari empat orang lainnya,mereka tengah berdiri di depan sebuah bangunan,dan seperti nya bangunan tua yang sudah tak terpakai.
" Hah...syukurlah,bang...apa abang tahu alamat ini,saya dari tadi mencari alamat ini tapi nggak ketemu,saya ingin kerumah teman saya,dan saya akan sangat ber terimakasih jika abang sekalian mau menunjukkan saya dimana alamat ini,"ucap Tari yang merasa lega karena berhasil menemukan orang lain di tempat sepi itu,keempat orang itu lantas saling tatap saat melihat alamat itu dan saling tersenyum.
__ADS_1
"Iya, kami tahu alamat ini", kata seorang dari mereka.
" Benarkah?,kalau gitu bisa tolong antarkan saya kesana!",pinta Tari.
"Baiklah,ayo kamu jalan duluan saja biar kami memberitahu mu dari belakang."
"Oh baiklah", ucap Tari yang mulai melangkah, tak lama kemudian tiba-tiba ada yang menempelkan sebuah kain yang agak basah di antara mulut dan hidungnya,ia mencoba berontak namun ia mulai merasa pusing,penglihatannya semakin buram,dan kemudian tak sadarkan diri lagi.
Setelah beberapa lama Tari pun akhirnya terbangun,namun ia masih setengah sadar,penglihatannya masih belum jelas,seperti nya sudah terlalu lama ia tak sadar kan diri.
" Apa yang harus kami lakukan pada gadis ini?",ucap seorang laki-laki namun tak terlalu nyaring tapi masih bisa didengar.
"Terserah,kalian mau apakan dia,yang penting jangan dibunuh, kalian hanya perlu membuatnya malu, sampai ia tak berani lagi menunjukkan wajahnya didepan semua orang, dan caranya gampang kalian bisa langsung sambil bersenang-senang,gimana?", ucap seorang lagi,namun kali ini suara seorang perempuan.
" Ah...ya kami mengerti ",
"Kesepakatan yang bagus kan?tidak hanya dapat uang tapi juga dapat mainan yang bagus,kalau gitu ini uangnya,dan selamat bersenang-senang", ucap perempuan itu.
" Siapa?, siapa itu apa maksud dari perkataan mereka,dan...aku..aku ada di mana,kenapa aku bisa ada disini, dan apa orang yang mereka bicarakan adalah aku,Ya Tuhan tolong,siapa saja tolong aku!",ucap Tari dalam hati, ia tak bisa bicara karena saat ini mulutnya sedang tertutup oleh benda semacam lakban,ia mencoba melarikan diri namun percuma tangan dan kakinya kini tengah terikat kuat dengan tali.
__ADS_1
"Em....m...",
"Ya Tuhan... apa yang harus kulakukan,seseorang tolong aku".