
"Entah mengapa aku semakin tertarik pada bintang kecil itu,yang dulu bahkan sekalipun tak pernah ku berfikir untuk melintasinya".
Seperti biasanya saat menjelang petang, Tari selalu menghabiskan Waktu nya di taman bunga yang ada di depan rumah. Memang menyiram bunga pada sore hari adalah momen yang paling ia tunggu\-tunggu,pemandangan sore yang begitu teduh dan tentu saja yang paling ia nantikan adalah fenomena sunset yang terlihat dengan jelas dan tepat menghadap rumah ini.Ia kini menyirami bunga dengan rasa bahagia ia kagum melihat kecantikan aneka ragam bunga yang tertata indah tak pernah ia merasa bosan memandangi bunga\-bunga itu bahkan terlihat semakin cantik baginya,sehingga ia menyunggingkan sedikit senyum.
Bima berjalan kearah balkon,sama halnya seperti Tari jika ada waktu ia juga sering menyaksikan pemandangan matahari terbenam itu,namun karena masih belum sepenuhnya terbenam sementara ia mengarahkan pandangan nya kearah lain,dan tentu saja ia tak sengaja melihat kearah taman bunga,pandangannya ter henti, karena ada sesorang di sana sedang menyirami bunga,sudah bisa ia tebak siapa orang itu,ia pun terus memperhatikan gerak gerik gadis itu,dilipatnya kedua tangannya diatas pagar balkon dan ditaruhnya dagunya diatas kedua tangannya. Masih memperhatikan gadis itu dengan seksama, sehingga terlihat lah senyum tipis namun manis itu,Dimas pun tanpa sadar tersenyum matanya sayu dan hatinya seketika merasa nyaman,seperti sedang menyaksikan sesuatu yang paling indah diantara bunga-bunga itu.
"Kalau sedang tenang dan tersenyum begitu,lumayan juga ya", gumamnya pada dirinya sendiri masih sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tapi kalau sama gue nggak pernah senyum kayak gitu, jangankan senyum ngomong sama gue aja kayaknya terpaksa", ucapnya lagi dengan ekspresi kesal,namun seketika ia pun terdiam ia menyipitkan matanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Em..gue tau,gimana kalau gue kerjain aja dia",Ucap nya seraya tersenyum licik.
Tari masih menyirami bunga\-bunga,sesekali ia menengok ke arah gerbang,gerbang yang sengaja sudah ia buka dengan lebar agar Bima bisa langsung masuk memarkirkan mobilnya. Entah mengapa Taru sangat menantikan kedatangan Bima,padahal jika berhadapan pun juga tak tahu apa yang harus ia perbuat,sejak hari Bima menyatakan perasaannya, sejak saat itulah ia merasa canggung ketika bersama Bima.Ia kembali teringat akan hari itu,saat Bima menyatakan perasaannya pada Tari,ada rasa sesal dihatinya ia tahu perasaannya bahwa sebenarnya ia juga menyukai sosok lelaki dewasa itu bahkan bisa dibilang Bima adalah sosok idamannya,namun kembali lagi ia mengingat betapa berbedanya mereka, meski Bima mengatakan bahwa ia menyukai Tari apa adanya sekali pun,namun tetap saja Tari merasa tak enak hati,ia mengingat betapa baiknya dan betapa berjasanya keluarga ini baginya, dan bagai mana mungkin setelah semua kenyamanan itu,bagaimana bisa dengan berani nya ia mengharapkan cinta dari putra sulung keluarga ini,pasti banyak gadis diluar sana yang sebanding dengannya dan nengantri untuk mendapatkannya.Ia hanya bisa menghela nafas dan dengan berat hati ia harus bisa menyembunyikan perasaan itu meskipun sangat lah sulit baginya.
Dimas pun berjalan perlahan karena ingin mengejutkan Tari,entah datang dari mana ide usil itu,dan siapa sangka,Dimas yang terkenal agak dingin itu juga bisa bertingkah usil.
__ADS_1
Ia sudah semakin dekat,namun langkahnya terhenti ia terkejut dengan apa yang ia lihat,gadis itu tengah menangis,memang kalau dilihat dari jauh hanya seperti melihat seseorang yang tengah asyik menyirami bunga,namun saat dekat terlihatlah perbedaan nya,ia seketika lupa akan rencana jahilnya perlahan ia melangkah mendekati gadia itu,dan kini ia tepat berada di samping kiri Tari, Tari yang menyadari bahwa ada seseorang di sampingnya pun lantas memandang kearah orang itu.
"Dimas",ucapnya dengan mata terbelalak dengan mata yang masih bersanding dengan dua air bening di sudut matanya. Entah mengapa Dimas yang melihat air mata itu merasa sesak,ia melihat ada suatu beban di mata gadis itu,beban yang sepertinya ia pikul sendiri,tanpa diduga Dimas langsung menarik tangan Tari dan menaruh kepalanya tepat didada bidang itu.Matanya terbelalak,ia sangat terkejut karena wajahnya yang berada tepat didada bidang Dimas,namun entah mengapa sedikit pun ia tak berontak,ia merasa nyaman dan tenang.
" Menangislah, jangan ditahan lo bisa nangis di didepan gue dan gue janji nggak akan kasih tau siapa pun",ucapnya yang membuat Tari semakin terkejut,dan tanpa aba-aba air mata itu kembali keluar hingga akhirnya ia kembali menangis,dan akhirnya tak mampu lagi ia kendalikan,ia pun menangis sejadi-jadinya dipelukan Dimas seraya meremas kaos Dimas sebagai pelampiasannya.
Tanpa disadari oleh mereka berdua,Bima yang bebrapa saat lalu sudah pulang dan kini tengah menyaksikan gadis yang ia cintai sedang memeluk pria lain dan yang lebih menyakitkan bahwa pria itu adalah adiknya sendiri,hatinya sakit seketika terlintas di bemaknya,buah pemikiran dari apa yang ia lihat saat ini.
__ADS_1
"inikah alasanmu ragu membalas pernyataan cintaku Tari",Ucap nya dalam hati,dengan berat hati ia pun memilih melangkah masuk kedalam rumah dengan perasaan yang bahkan tak bisa ia jelaskan.