
"Gue nggak tahu mengapa,saat gue sudah mulai melupakannya,gadis itu malah muncul lagi,seperti dahulu dengan wajah yang tak tahu malu,dan kali ini beraninya dia bilang nggak kenal sama gue, lihat saja akan gue akan balas semuanya, gue akan perlihatkan sisi diri gue yang sebenarnya,yang akan membuatnya malu dan nggak bisa mengangkat kepalanya lagi".
Dear:Dimas.
Sekitar sepuluh menit lamanya akhirnya Tari sampai di toko tempat nya bekerja, ia masuk dengan nafas yang terengah\-engah karena ia berlari,ia takut mungkin saja Dimas akan mengikuti nya.
"Tari..dari mana kamu kok agak lama,dan....kenapa sampai terengah-engah begini?", tanya Laras yang sadar baru melihat keberadaan Tari.
" Hah..hah...ha....aku...",ucapan nya tersendat,ia tak sempat berfikir alasan apa yang harus ia buat,tak mungkin ia memberitahu bahwa ia sedang melarikan diri dari seseorang, apa lagi seorang lelaki apa nanti kata teman-teman nya,pasti mereka akan mencap buruk dirinya.
"Aku apa?", tanya Laras penasaran.
" Ah...aku... aku tadi tiba-tiba saja..saat mau kesini aku tiba-tiba mendadak sakit perut,dan..aku ke wc umum untuk buang air,makanya jadi lama deh,dan aku lari kesini karena takut kalian kewalahan melayani pembeli yang ramai,apa tadi banyak pembeli?,maaf ya kalian pasti lelah ",kata tari yang berhasil membuat alasan, namun siapa yang tahu ia mengutuk dirinya sendiri didalam hati,ada rasa sesal dihatinya,karena bohong adalah hal yang paling ia benci namun kali ini, dengan terpaksa ia lakukan, karena tak ada pilihan lain, ia takut orang lain akan menjauhinnya jika tahu masa lalunya.
" Oh...gitu,nggak kok kebetulan tadi tidak banyak pembeli hanya satu dua orang kok,jadi jangan terlalu merasa bersalah seperti itu ",kata Laras dengan wajah yang tiba-tiba berubah murung.
" Ada apa?,apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada?",tanya Tari yang menyadari perubahan ekspresi wajah Laras.
"Tidak kok, aku hanya..",
" Hanya apa? ",
" Kamu tahu kan tadi aku sedang membantu Elang mencari kan barang".
Flash back.
__ADS_1
"Sini biar aku pegang catatan nya dan aku akan memberi tahu mu dimana saja letak barang yang akan kamu cari", kata Laras sambil menjulurkan tangannya untuk meminta catatan itu.
" Nggak perlu,aku akan menyebut kannya dan kamu yang akan menunjukkan dimana letaknya",tolak Elang ketus,sudah jelas ia tak mau menyerahkan catatan itu.
"Oh..ba...baiklah",jawab Laras yang terkejut dengan sikap Elang.
Setelah beberapa lama,mereka mengumpul kan barang yang sesuai catatan itu,dan hanya tinggal satu barang lagi yang belum diambil.
" I...ini pewarna makanannya,apa sudah selesai? ",tanya Laras,namun tak dijawab oleh Elang, ia malah belalu pergi meninggal kan Laras.
" A..anu.. Elang,"panggil Laras,Elang yang mendengar namanya dipanggil lantas menoleh.
"A..apa aku...aku...bisa minta nomor ponselmu",tanya Laras yang berhasil mengumpulkan keberaniannya yang sudah ia tahan sejak lama.
"Ah,em....biar..biar aku bisa menyiapkan barang belanjaan mu,kamu tinggal telepon aku saja aku akan mencari kan belanjaan mu dan kamu tinggal ambil saja saat kesini", jawab Laras gagap.
" Cih,alasan bodoh macam apa itu,dan satu hal yang perlu kamu tahu,aku tak suka dengan orang yang sok akrab."Jawab Elang singkat seraya meninggalkan Laras yang terpaku dengan jawaban Elang.
Tari yang mendengar cerita itu lantas berfikir,betapa kasar nya orang itu,tega sekali dia berkata kasar pada seorang gadis yang bahkan tulus menyukai nya,apakah semua lelaki seperti itu,kenapa lelaki suka menyakiti perempuan,apalagi hati perempuan itu lembut,dan tanpa berfikir mereka dengan mudahnya mengeluarkan kata kasar,sungguh tak berperasaan,fikir Tari sambil menenangkan temannya itu yang menangis saat bercerita tadi.
"Tenanglah..Laras!,Jangan menagis lagi,air matamu ini tak pantas kamu buang untuk orang seperti dia,jadi berhenti lah!", kata Tari.
_ _ _ _ _ _ _ _
" Gue pasti nggak salah orang,itu benar dia,ternyata dia berada disini,cih berani juga dia bisa sampai sini,tapi dia tinggal dimana?,apa dia sudah punya rumah?,heh..nggak mungkinlah dia punya rumah,dia pasti sekarang tinggal dirumah orang kaya dengan memanfaatkan wajah polos nya itu seperti yang sudah pernah ia lakukan, cih..sungguh tak tau malu",gumam Dimas ber monolog sambil mencuci sayur.
__ADS_1
"Hei Dimas,kenapa kamu bicara sendiri, apa kamu sudah dirasuki sesuatu saat kamu kepasar tadi?, oh Yaampun... aku harus berhati-hati siapa tahu nanti kamu akan mencekikku", ucap Max yang tiba-tiba datang ke dapur, dan tak sengaja mendengar Dimas bergumam namun ia tak mendengar dengan jelas.
"Bicara apaan sih nih anak,bicara nggak jelas ,tapi... gue bisa cekik leher lo sekarang juga kalau lo mau", ucap Dimas yang jengkel dengan perkataan Max..
" Nggak,aku nggak mau..aku masih mau hidup",jawab Max yang pergi dari dapur sambil memegang lehernya sendiri.
"Gimana Dim, apa kamu sudah selesai mencuci sayur nya?",ucap Ridho yang tiba-tiba datang,ia datang dari warung untuk memberi beberapa bahan untuk memasak.
" Ah ya, udah nih",jawab Dimas, kemudian mereka berdua mulai memasak makanan untuk makan siang.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, saat dimana Tari pulang dari tempat kerjanya.
Seperti biasa,ia akan berjalan kaki menuju ke kosnya,tiba-tiba terdengar sebuah motor besar yang bergerak perlahan di sebelah nya.
"Hei tari," sapa seorang dari pemilik motor itu yang tak lain adalah Elang.
"Elang,ada apa?", jawab Tari menatapnya tak suka,ia ingat bahwa lelaki inilah yang tadi siang membuat temannya menagis.
" Ayo naik, apa nggak capek setiap hari jalan kaki",ucap Elang yang berhenti di samping Tari.
"Nggak, terimakasih aku sudah terbiasa kok,jadi duluan saja aku sebentar lagi juga sampai", tolak Tari.
" Ayo,naik!,kenapa sih diberi tumpangan kok nggak mau",ucap Elang tiba-tiba,dan menghalangkan motornya di depan Tari hingga membuat Tari tercengang.
"Apaan sih nih cowok, udah gila ya,kok suka seenaknya sama orang, Laras pasti sudah buta menyukai orang seperti ini", ucao Tari dalam hati.
__ADS_1