
"Walau pun kamu menolak ku,tapi aku tak akan melepas kan mu begitu saja,dan jika kamu menyukai gadis lain, maka tak akan kubiarkan pula gadis itu bisa memiliki mu."
Dear: Tuti.
Pagi ini adalah pagi yang sedikit berisik dikediaman Bagus Sutrisno. Bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit,namun Dimas belum juga keluar dari kamarnya.
Entah mengapa,biasanya jam seperti ini dia sudah bersiap-siap,bu Minah sampai lelah karena berulang kali naik ke lantai dua kerena berusaha membangunkannya,namun sia-sia ia tak menggubris panggilan bu Minah ia malah menutup telinganya dengan bantal agar tidak mendengar suara berisik itu.
Apa yang membuat nya malas kesekolah?, alasannya cukup sederhana,ia hanya tak ingin diganggu oleh gadis yang akhir-akhir ini selalu menemuinya dikelas,dari sekian gadis yang mengaguminya dan ingin dekat dengannya selama Ini,namun baru kali ini ia benar-benar merasa risih dan sebenci ini pada gadis yang berusaha mendekatinya,selama kurang lebih satu minggu ini gadis itu selalu mengganggu nya,padahal sebelumnya tak pernah,bahkan ia tak ingat pernah melihat gadis itu disekolah.
Ingatannya pun kembali terulang saat hari sebelumnya.
Pagi itu kira-kira sekitar pukul tujuh lebih,sebagian besar murid sudah mulai datang dan ada juga yang belum.
Dimas dan Max tengah duduk dibangku mereka,terlihat Max tengah mrmbujuk Dimas untuk mengajarinya cara mengerjakan PR yang akan dikumpulkan hari ini.
__ADS_1
"Dim..,ayolah ajarin aku dong PR matematika ini,aku benar-benar nggak ngerti, please....", bujuk Max,
" Dasar kenapa sih lo ini nggak pernah ngerti, makanya belajar jangan pacaran aja,sini gue ajarin tapi perhatikan jangan sampai lo buat gue bosan ngajarin lo karena nggak ngerti -ngerti",omel Dimas pada temannya itu.Sementara Max hanya senyum-senyum girang.
"Hai Dimas...", tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang memanggil namanya, lantas ia pun mencari sumber suara itu.
Ia pun mengerutkan alisnya,ia bingung kenapa gadis ini datang kesini,ia bahkan tak ingin melihatnya lagi, dan yang penting untuk apa lagi dia kesini,fikirnya.
" Hai Dimas, lama tak jumpa,aku Tuti aku dulu satu kelas denganmu waktu kita masih di kelas X ruang 1,apa kamu ingat? ",tanya gadis itu,yang malah membuat nya tambah bingung.
" Tidak gue nggak kenal sama lo,dan gue juga nggak ingat kalau gue satu kelas sama lo",
"Oh yaampun masa sih kamu nggak ingat,kan baru kemarin aku kesini apa karena aku datang sendirian jadi kamu nggak ingat sama aku,", jawabnya dengan wajah terkejut, bisa-bisanya Dimas masih saja tidak mau mengenal nya dan mengingat nya,bahkan seluruh murid laki-laki pasti kenal dengan nya.
"Ok,langsung saja,aku kesini mau menemui mu",
" Untuk apa?".
"Aku menyukai mu,meski banyak lelaki yang mengajakku pacaran dan mengantri diluar sana, tapi aku akan tetap memilihmu sebagai pacar ku, dan ini juga pertama kalinya aku yang duluan bilang suka pada orang lain,jadi kamu maukan jadi pacarku",ucapnya dengan wajah sombongnya itu seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
" Beneran gue nggak salah dengar kan?,maaf karena sebelumnya gue nggak mengenal lo dan juga sebenarnya nggak berniat kenal sama lo,tapi gue nggak pantas pacaran sama lo",ucap Dimas dengan wajah senang seraya berdiri,namun perlahan wajahnya berubah kecewa.
"Kenapa?, apa maksudmu, kita tidak pantas?, Dimas kita pantas,dan juga kita sama-sama berasal dari keluarga kaya jadi kita pasti serasi dimata orang-orang kan",jawabnya.
" Cih....gue bilang gue nggak pantas buat lo,sebenarnya karena lo yang nggak pantas buat gue,"ucapnya dengan ekspresi yang berubah menjadi tatapan benci pada gadis itu,beberapa murid lain yang sejak tadi mendengar kan malah semakin mendekat, seperti mendapat kan tontonan yang menarik.
"Apa maksudmu aku nggak pantas?,dari sisi mana yang tidak pantas,seperti kamu aku juga berasal dari keluarga kaya,aku cantik, berbakat dan juga pintar,jadi dari segi mana dari diriku yang tidak pantas untuk mu." Jawab gadis itu yang tidak terima dengan pernyataan Dimas.
"Cih lo ini ya..,bisa-bisanya gue ketemu orang kayak lo,lo sebut diri lo itu pintar?,bahkan gue nggak pernah melihat orang sebodoh dan sesombong ini selain lo,dan soal jawaban gue,gue nggak bersedia jadi pacar lo puas,dan sekarang juga lo pergi dari sini",hardik bima dengan suara meninggi seraya menunjuk pintu keluar.
"Ok,nggak apa-apa kalau kamu nggak mau nerimaku,tapi sejak kecil apa pun yang aku inginkan selalu aku dapatkan,semahal apa pun,sesulit apa pun aku pasti mendapatkannya,bisa dibilang keinginanku tak pernah sekali pun tak terpenuhi.Jadi,kali ini pun aku akan mendapat kan apa yang aku mau gimana pun caranya,bahkan jika harus membayar mahal atau harus menyakiti sekali pun akan aku lakukan." Ucapnya seraya masih menyunggingkan senyum kemenangan,setelah itu ia melangkah menuju pintu keluar,ketika hampir keluar ia berhenti dan kembali menatap Dimas.
"Sampai jumpa lagi Dimas", ucapnya kemudian melangkah keluar meninggal kan kelas yang seketika ramai dengan bisik-bisik dari beberapa murid yang tadi menyaksikan kejadian itu.
" Cih dasar cewek nggak tahu malu,menjengkelkan jika dia itu laki-laki pasti udah gue tonjok tuh mulut sombong",ucap Dimas yang masih jengkel dengan gadis itu.
"Sudahlah Dim, jangan difikirkan kalau lo nggak suka dia ya nggak usah,dan kalau lo nggak mau biar gue aja yang ambil", kata Max mencoba mrnghiburnya.
" Jangan, kalau lo sama dia lebih baik gue buang lo kepengasingan,kayak nggak ada cewek lain aja,apa lo nggak liat dia itu psikopat",Jawab Dimas yang semakin emosi.
__ADS_1
"Kalau ...sama Ningsih gimana?",tanyanya lagi, kali ini ia menanti kan Jawaban Dimas dengan wajah serius, karena ia memang menyukai gadis itu.
" Nggak boleh dia terlalu bagus buat lo,cari orang lain aja",jawab Dimas singkat, ia pun duduk kembali di kursinya,Max yang mendengar nya pun cemberut dan ikut duduk namun wajahnya menghadap kearah lain,seolah-olah ia marah pada Dimas.