
"Meski jauh harapan untuk bisa meraihmu,tapi aku yakin seperti nya kali ini aku punya kesempatan, meskipun mungkin aku tak sebaik gadis itu,tapi akan ku lakukan apa pun agar kamu bisa menyukai ku apa adanya,tanpa menyamakanku padanya".
Dear:Maya.
"Dimas jawablah,dengan jujur sekarang!",pertanyaan yang dilontarkan masnya kini membuatnya terpaku,ia ingin menjawab "iya", tapi entah mengapa satu kata itu sangat sulit ia ucapkan seperti ada yang membelenggu tenggorokannya.
" Cklek ".
" Oh Bima, sejak kapan kamu ada disini apa kamu nggak kuliah?",tanya ibu Sulis kaget melihat Bima yang tiba-tiba ada diruangan itu.
"Oh,aku hari ini nggak ada kelas ma,jadi kesini saja karena aku dengar Dimas sudah siuman",
" Oh...,em Dimas ini bubur untuk mu mama sudah bawa untuk mu,dan mama membuat nya sendiri loh,nih makan!,dan bima apa kamu sudah makan?,kalau belum sini makan bareng Dimas kebetulan mama buat banyak ",ucap ibu Sulis,
" Em...nggak ma,aku tadi sudah makan dirumah, biar Dimas saja yang makan,tubuhnya pasti lemah karena lama tak mendapat asupan,lihat tuh badannya jadi tambah kurus",ucap Bima meledek,sementara Dimas yang disebut kurus itu lantas melihat-lihat tubuhnya sendiri.
"Ftttt,kalau gitu aku keluar dulu ya ma,aku mau mempersiapkan tugas minggu depan di perpustakaan kota,dan mungkin aku akan pulang agak telat,dan kamu Dimas semoga berhasil!," ucap Bima yang kemudian keluar dari kamar itu.
"Apa maksud mas mu itu, semoga berhasil?, semoga berhasil untuk apa?", tanya mommy nya bingung.
Sementara Dimas yang mendengar perkataan kata masnya kembali terpaku,apakah maksud masnya itu,semoga berhasil untuknya,untuk kata motivasinya mengejar Tari,ini berarti mas nya,apa masnya sudah merelakan gadis itu,fikir nya.
Disebuah cafeteria Bima tengah duduk seorang diri,ia berbohong pada mamanya jika ia ingin mengerjakan tugas di perpustakaan,dan ia sendiri juga tak tahu mengapa ia masuk ke kafe itu,mungkin karena fikirannya yang kosong, sehingga ia membiarkan kemana langkah membawanya.
__ADS_1
Ia kini tengah melamun sambil menaruh ponselnya diatas meja, ia terus saja fokus memandangi ponselnya,ia terus memandangi ponselnya karena ia sedang melihat foto Tari yang dulu ia tangkap saat mereka jalan-jalan,awalnya ia memandangi foto itu dengan menyunggingkan sebuah senyuman,namun lama kelamaan ekspresinya berubah, walau tak terlalu jelas namun nampak,mimik wajah itu menunjukkan bahwa ia tengah bersedih.
" Tari,rasanya baru kemarin kita bersama, baru kemarin kita habiskan waktu dengan suka cita,hingga sampai sekarang aku selalu mengingat kenangan itu,tapi semua harus berubah begitu cepat, rasanya tak percaya mengetahui bahwa hatimu sudah tak lagi untuk ku,namun apalah lagi jika kamu sekarang menyukai orang itu,yang merupakan adik ku sendiri aku rela melepaskan mu untuk nya,asalkan kamu bahagia, meskipun sakit,tapi aku tak bisa memaksamu untuk tetap mencintaiku",ucap Bima dalam hati.
"Permisi...apa saya boleh duduk disini", ucap seorang gadis yang menyapanya.
"Terserah,"jawab Bima agak ketus dan tanpa melihat wajah orang itu,ia masih melamun menatap layar ponselnya.
Orang itu adalah Maya,ia sengaja duduk disitu,karena tak sengaja melihat Bima yang terus duduk diam tanpa berkedip,kemudian tak sengaja ia melihat foto Tari di ponsel Bima, karena memang terlihat jelas, ada rasa cemburu dihatinya, bagaimana tidak Bima terus saja menatap foto itu.
" Siapa sebenarnya gadis yang ada di foto itu ,sampai-sampai Bima tak bisa melepaskan pandangannya dari foto itu,dan ekspresinya seperti nya sedang sedih apa...mereka habis putus?",ucap Maya dalam hati.
"Hei Bima, apa kita memang sungguh tak saling kenal?", tanya Maya yang lantas membuat Bima mendongak,kini ia baru sadar setelah sekali lagi mendengar suara gadis itu.
" Ma...Maya,sejak kapan kamu ada disini? ",tanya Bima dengan wajah terkejut,ia pun lantas bergegas menyimpan ponselnya.
" Oh maaf karena tidak menyadari kedatanganmu",
"Ngomong-ngomong kamu sedang apa disini sendirian,apa kamu sedang menunggu seseorang?", tanya Maya.
" Em,tidak aku sendiri disini,kalau kamu sedang apa disini? ",
" Ya mau makan lah,masa mau nonton ",
"Fttt,ya juga ya,kalau gitu kamu makanlah aku mau pulang sekarang", jawab Bima.
__ADS_1
Maya yang sekilas melihat Bima tersenyum lantas tertegun,begitu tampan nya wajah itu ketika sedang tersenyum, namun sayang ia jarang tersenyum,bagaikan sang aktor utama ia hanya akan tersenyum untuk sang pemeran utama wanita,ia yang hanya pemeran figuran hanya bisa memandang senyum itu dari kejauhan,namun entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tersimpan dibalik senyum itu,sesuatu yang tak dapat ia sampaikan kepada siapa pun.
" Em...Bima!",
"Ya",
" Apa kamu sudah makan?",
"Em...belum, karena aku tidak merasa begitu lapar,kalau begitu aku...pamit pulang dulu ya", ucap Bima.
" Em Bima ",
" Ya",
"Aku....bisakah aku minta bantuanmu,aku masih belum mengerti tentang tugas yang diberikan kemrin,kalau kamu tidak keberatan mau kah kamu membantuku", pinta Maya,Bima sebenarnya ingin menolak,karena ia sendiri pun sedang malas mengerjakannya saat ini,tapi ia tak pernah menolak orang lain jika meminta bantuan padanya.
" Baiklah, dimana kita bisa mengerjakannya?",
"Dirumah ku,em maksud ku kita mengerjakan nya diruang kerja papaku,ibuku juga ada dirumah dan masih ada adik dan pembantu rumah ku", jelas Maya, ia takut jika Bima salah faham padanya.
" Em,ok",
"Kalau gitu ayo kita kerumah ku sekarang",
" Tapi bukannya kamu mau makan,makan saja dulu, aku bisa menunggu mu",
__ADS_1
"Tidak apa,aku bisa makan dirumah ibu pasti senang,ayo", jawab Maya mengajak Bima.