Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
20.Pulang.


__ADS_3

 


Sesampai nya di rumah Tari pun langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu,kini ia sedang duduk di pojok kasurnya,


 


ia kini memegang dada kirinya dengan kedua tangannya is bisa merasakan jangtungnya kini berdegup kencang amat sangat kencang hingga suaranya terdengar.


"Ya Tuhan...ini terjadi lagi apa..aku sungguh jatuh hati dengan mas Bima,Tari pun menepuk pipinya," Tari..sadarlah sadar posisimu....".


Tak lama setelah selesai mandi,Tari pun segera ikut menyiapkan makan malam dan mereka pun makan bersama.Tari yang sejak tadi ingin menyampaikan hal yang mengganjal di hatinya itu dengan ragu akhirnya ia pun perlahan mengatakannya,dan ia pun perlahan melepas sendok di tangannya.


"Ah..tante"


"Ya"


"Tante besok adalah hari minggu..eh..boleh tidak kalau saya pulang kerumah nenek,saya janji saya akan pulang besok pagi dan tante boleh potong gaji saya", ucap Tari seraya menunduk.


" Hahaha...Tari,tante sejak tadi memang sedang melihat ada sesuatu yang aneh dari wajah mu,ternyata ini yang mau kau tanyakan.Hem..tentu saja boleh,itu adalah hak mu sayang,nanti aku akan suruh pak Dhanu mengantar dan menjemputmu",kata bu Sulis sembari kembali menyantap makanannya.


"Nggak perlu Tante..saya bisa naik bus,nggak perlu merepotkan paman Dhanu",


" Kalau itu maumu tante nggak bisa memaksamu ",kata ibu Sulis pasrah


" Terimakasih tante saya akan bekerja lebih giat hari senin,"kata Tari dengan semangat.


 


Bima yang sejak tadi memperhatikan Tari tersenyum, begitu rindunya kah ia pada keluarganya hinngga ekspresinya itu terlihat lucu

__ADS_1


 



"Hem manis sekali", gumam Bima pelan kemudian melanjutkan makan sambil sesekali menatap wajah gadis belia itu.


_ _ _ _ _


 


Tari kini bergegas pasalnya ia harus sampai di terminal tepat waktu namun,ia bangun agak kesiangan hari ini mau tidak mau ia mencoba meminta bantuan pak Dhanu.Ketika pak Dhanu ingin mengeluarkan mobil sebuah suara menghentikan aktivitasnya.


 


" Paman..tidak perlu,biar saya yang mengantarnya sekalian saya kekampus",kata Bima mendekati Tari dan pak Dhanu.


" Tidak apa Tari,hanya sampai terminal dan jika perlu pun aku bisa mengantar mu sampai depan rumahmu",kata Bima


"Ti..tidak perlu tolong sampai terminal saja,tapi mas Bima sebelumnya saya ucapkan terimakasih" .Bima pun tersenyum itu artinya Tari sudah menyetujuinya.


Tari dan Bima pun siap-siap berangkat ibu Sulis,pak Dhanu serta bu Minah pun mengantar Tari hingga depan rumah,seperti mengantar kepergian sepasang insan yang sedang pergi berbulan madu.Itulah pikiran yang terlintas di fikiran ibu Sulis,ia tersenyum sungguh fikiran yang aneh,namun jika kenyataan pun ia tak keberatan dan bahkan ia akan sangat bahagia bisa mempunyai menantu sebaik dan secantik Tari.



Dimas pun memperhatikan mereka dari balkon,entah mengapa ia tak ingin langsung kebawah mengantar kepergian mereka ia memilih berpura-pura tidur dan diam-diam melihat dari kejauhan.


Selang beberapa menit mereka pun sampai di terminal bus,Tari pun segera turun dan tak lupa berterima kasih pada Bima.


"Mas Bima,terima kasih banyak atas bantuannya", kata Tari seraya tersenyum

__ADS_1


" Tidak masalah,kau hati-hatilah,semoga sampai tujuan dengan selamat,dan...aku pasti akan merindukanmu",ucap Bima yang seketika membuat Tari salah tingkah.


"Ehh...kalau gitu sa..saya pergi ya,sa..sampai jumpa", ucap Tari gagap seraya pergi dengan wajah yang menerah." Duh...kenapa sih mas Bima bicara kaya gitu aku bisa jadi salah paham beneran",gumam Tari lirih.


 


Dimas kini sedang bermalas\-malasan di kamarnya,kini ia sedang tiduran di kasurnya hanya sekedar membuang jenuh,entah mengapa hari ini begitu sepi baginya,sebenarnya banyak ajakan dari para penggemarnya walau hanya sekedar makan siang,namun satu pun tak ia hiraukan.Ia kini menerawang memandangi langit\-langit kamarnya,namun tiba\-tiba saja ia tertawa sendiri,pasalnya kini sedang terlintas tingkah lucu Tari di lamunannya.


 


"Hemm,gadis konyol", itulah kalimat hasil dari lamunannya.


" Dreeet,dreeett",ponsel Dimas bergetar,dan membubarkan lamunannya ia pun duduk dan meraih ponselnya,"Max,untuk apa di menelpon sepagi ini",gumamnya.


"Halo"


"Halo Dim,lo dimana?,kok nggak balas chat yang aku kirim,buruan kesini seru nih", ajak Max


" Emang lo dimana sih? kok berisik banget",kata Dimas yang mendengar seperti suara orang bernyanyi.


"Aku lagi di cafe,makanya kesini biar nggak penasaran dan banyak cewek yang nanyain kamu nih mereka berharap kamu datang", ucap max dalam telepon.


" Gue sibuk lo aja,dan gue ngantuk dan nggak usah telpon lagi,gue nggak mau kesana",ucap Dimas dan langsung memutuskan telepon sepihak.


"Halo,halo..Dim,tut...tut...tut..,hadeh..dasar anak itu aku belum selesai bicara dia malah main matiin aja", gumam Max pelan.


"Ada apa Max,apa Dimas akan datang", tanya Ningsih yang ternyata juga ada di cafe itu.


" hemm..nggak Ning,dia bilang dia lagi sibuk",jawab Max seraya menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


__ADS_2